Aku tak keluhkan warna
pada darah yang mengalir di nadiku
biarlah tetap merah
tak peduli biru atau ungu
sebab menjadi sudra tak berpilih
seperti rahim yang membesarkanku
seperti ikhlas bumi pertiwi
tak memandang kasih atau benci
sebab tanah adalah ziarah
pada semua darah
yang akan ruah tertumpah
sekalipun pada apa yang tertinggi
ketahuilah
wajah bumi tak pernah berpaling
pada carut atau pun riang
selayak laut semesta menampung segala
Kita pasti berpulang
pada saatnya tanah berlahat
hanya masalah waktu
tak ada yang tak datang masa itu
Antopology Mind of Adi.Kalingga.Jati
Jumat, 10 Februari 2012
Tentang Kita
aaahhhhh..........
melegalah
seperti angin berpulang
menjadi udara menghembus ilalang
kuncup yang ku tanam
bermekaran senyum
seindah kisah semalam
syahdu mengiring peraduan
Lalu untuk apa
kau tanyakan lagi arti cinta
jika aku tak bisa
merangkaikan dalam cerita kata
Apakah hangat bibirku tak melukiskannya
Apakah belai lembut jemariku tak menceritakannya
Apakah.............hhhhh...
Kata-kataku tak bertuah seperti yang ku gubah
Biarlah
aku tetap bermain dengan imajinasiku sendiri
dengan tetap menjadi apa aku semestinya
memipih setiap jejak dalam kehidupanmu
melegalah
seperti angin berpulang
menjadi udara menghembus ilalang
kuncup yang ku tanam
bermekaran senyum
seindah kisah semalam
syahdu mengiring peraduan
Lalu untuk apa
kau tanyakan lagi arti cinta
jika aku tak bisa
merangkaikan dalam cerita kata
Apakah hangat bibirku tak melukiskannya
Apakah belai lembut jemariku tak menceritakannya
Apakah.............hhhhh...
Kata-kataku tak bertuah seperti yang ku gubah
Biarlah
aku tetap bermain dengan imajinasiku sendiri
dengan tetap menjadi apa aku semestinya
memipih setiap jejak dalam kehidupanmu
Asinku Manismu
pada lidah - lidah ombak
mengecap getir pesisir, mencibir
pasir terpecah menerpa kesunyian
angin yang kau rindui
menghilang bersama luruh sang waktu
lalu cenungku termaknai apa
sementara karang masih tegar
pada sosok yang teronggok
kaku tanpa geming mendiami terik
kau hempas biduk di telungkup sedu
derai yg senyap di gerus ombak
di remah temali yang kau sisakan
kau ukir luka gurindam
pada kata tak bersampiran
sloka yang kau gubah
terhapus pupus batu parigi
enyahkah segala rasamu
lalu...
luka ini ku bebat dengan apa
sementara tulang telah mendebu
di setiap angan yg ku cumbui
hanya kabut berarak seirama desau
di gelisah sisian hati
mengecap getir pesisir, mencibir
pasir terpecah menerpa kesunyian
angin yang kau rindui
menghilang bersama luruh sang waktu
lalu cenungku termaknai apa
sementara karang masih tegar
pada sosok yang teronggok
kaku tanpa geming mendiami terik
kau hempas biduk di telungkup sedu
derai yg senyap di gerus ombak
di remah temali yang kau sisakan
kau ukir luka gurindam
pada kata tak bersampiran
sloka yang kau gubah
terhapus pupus batu parigi
enyahkah segala rasamu
lalu...
luka ini ku bebat dengan apa
sementara tulang telah mendebu
di setiap angan yg ku cumbui
hanya kabut berarak seirama desau
di gelisah sisian hati
Dia
Dia...
matangkan galau ditepi perih. melirih
membebat dengan untaian kisruh
melembab diantara keluh
di kerut kening kata berlabuh
Dia...
menggali ceruk2 di palung jiwa
di parit2 kegusaran. melingkar
memipih detik2 beranjak
luka melebam tak berbasuh
Lalu dia...
untaikan setangkai harap
pada beling2 kaca
diantara jebakan bandil2
menusuk dalam jauh ke tulang
Sementara aku
tertatih berpijak ditelanjang kaki
diatas serpih bara pasir besi
bakar aku perlahan
abukan rasaku membaur
debu...
matangkan galau ditepi perih. melirih
membebat dengan untaian kisruh
melembab diantara keluh
di kerut kening kata berlabuh
Dia...
menggali ceruk2 di palung jiwa
di parit2 kegusaran. melingkar
memipih detik2 beranjak
luka melebam tak berbasuh
Lalu dia...
untaikan setangkai harap
pada beling2 kaca
diantara jebakan bandil2
menusuk dalam jauh ke tulang
Sementara aku
tertatih berpijak ditelanjang kaki
diatas serpih bara pasir besi
bakar aku perlahan
abukan rasaku membaur
debu...
Bersama Perasaanku
dengan cinta ini
aku tau tak selamanya membuatmu tersenyum
dengan cinta ini pula
terkadang aku tak mampu hindari tuk membuatmu tak menangis
bukan karena aku menghendakinya
namun ingatlah palung dan ceruk kehidupan yang mesti dijalani
yang bergaung dalam gema sepi
dilanda siang dengan teriknya
bersama sejurus awan dan mendung menitikkan hujan
atau pun malam dengan gulitanya
bintang harapan dan benderang teduh sang rembulan
tak jua mampu meluruhkan kegusaran jiwa...
pinta maafku pasti berulang karena aku
hanya manusia...
aku tau tak selamanya membuatmu tersenyum
dengan cinta ini pula
terkadang aku tak mampu hindari tuk membuatmu tak menangis
bukan karena aku menghendakinya
namun ingatlah palung dan ceruk kehidupan yang mesti dijalani
yang bergaung dalam gema sepi
dilanda siang dengan teriknya
bersama sejurus awan dan mendung menitikkan hujan
atau pun malam dengan gulitanya
bintang harapan dan benderang teduh sang rembulan
tak jua mampu meluruhkan kegusaran jiwa...
pinta maafku pasti berulang karena aku
hanya manusia...
Imaji
Aku ditelanjangi waktu
melaju derap disamping bahuku
menoleh dengan ujung ekor matanya. Meliar
pada senyum seirama terik membakar jiwa
Aku ditelanjangi hari
pada kisah2 yang terpipih perlahan
di pagi yang kulalui bersama siang
dan di siang yg segera terjemput petang
di kebisuannya menuai rintih angin. menyapu keluh
Aku syukuri setiap rahim yang dijejak benih
tanpa menyulih rupa warna hitam pun putih
di tiap tetes hujan dan helai2 awan
yang ku cumbu di tiap getir imajinasiku
melaju derap disamping bahuku
menoleh dengan ujung ekor matanya. Meliar
pada senyum seirama terik membakar jiwa
Aku ditelanjangi hari
pada kisah2 yang terpipih perlahan
di pagi yang kulalui bersama siang
dan di siang yg segera terjemput petang
di kebisuannya menuai rintih angin. menyapu keluh
Aku syukuri setiap rahim yang dijejak benih
tanpa menyulih rupa warna hitam pun putih
di tiap tetes hujan dan helai2 awan
yang ku cumbu di tiap getir imajinasiku
Tembang Hati (Bahasa Bali)
napike i ratu kantun eling ring napi kadi biasane memargi
ngerasayang sareng, cumpu keh kapining tresna ne ucapang
Pedaduanan nenun ipian, tresna sekadi ye matanai
kadi penulung jiwa, premana keserahang, kala pidan ktemu
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ratu, bli inget sekancan kisi2 tresna i ratu
touch of my heart, nundun hati tan bina kadi tembang tresna
ngerembes ngelintang memargi nyahjah di keneh
janjin i ratu, sekancan rase kaucap ngebekin rase
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Mewali kapin padewekan, napike tuah khayalan?
bengong buyar, wiyakti i ratu joh magenah tuah ngungsi di keneh
mengipi, i ratu gelahang bli
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ngerasayang sareng, cumpu keh kapining tresna ne ucapang
Pedaduanan nenun ipian, tresna sekadi ye matanai
kadi penulung jiwa, premana keserahang, kala pidan ktemu
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ratu, bli inget sekancan kisi2 tresna i ratu
touch of my heart, nundun hati tan bina kadi tembang tresna
ngerembes ngelintang memargi nyahjah di keneh
janjin i ratu, sekancan rase kaucap ngebekin rase
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Mewali kapin padewekan, napike tuah khayalan?
bengong buyar, wiyakti i ratu joh magenah tuah ngungsi di keneh
mengipi, i ratu gelahang bli
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Aku dan Tulisanku
Aku
tetaplah hanya seorang aku
terbalut dalam keterbatasan angka
terpenjara dalam rangkaian aksara
tetap dalam aku yang hanya sebatas aku
Aku
tetaplah hanya sebatas aku
sebatas ruh yang tersesat
dibelantara nadi dan denyut jantung
di dalam tulang dan daging pembentukku
yang hanya tetap sebatas aku
Lalu aku
Sebatas tulisan - tulisanku
Yang berderet keluar dari imajinasiku
tanpa nomor penunggu antrian waktu
Berebut jemari menjamahi pena
Di batas aku dan imajinasiku
Jika aku
Tak pernah mengenal lebih
Tentang majas-majas
Tentang bait - bait gurindam pengisi waktu
Yang ku metamorfosakan
Lahir dari persetubuhan siang dan malam
tetaplah hanya seorang aku
terbalut dalam keterbatasan angka
terpenjara dalam rangkaian aksara
tetap dalam aku yang hanya sebatas aku
Aku
tetaplah hanya sebatas aku
sebatas ruh yang tersesat
dibelantara nadi dan denyut jantung
di dalam tulang dan daging pembentukku
yang hanya tetap sebatas aku
Lalu aku
Sebatas tulisan - tulisanku
Yang berderet keluar dari imajinasiku
tanpa nomor penunggu antrian waktu
Berebut jemari menjamahi pena
Di batas aku dan imajinasiku
Jika aku
Tak pernah mengenal lebih
Tentang majas-majas
Tentang bait - bait gurindam pengisi waktu
Yang ku metamorfosakan
Lahir dari persetubuhan siang dan malam
Sebait Kesah
Di tepian jalan-jalan setapak
ku urai keluh pada helai daun piduh
pada hijau lumut, pada tanah basah
seusai derai sore yang ku kayuh
Di temaram senja, diambang jingga cakrawala
gamangku menjelma rapuh
melunglai sebait kerinduan pada masa
dimana aku masih serupa benih. serupa telor kepodang
Jika bagimu, aku hanya tau keluh
di deret cermin yang mulai kusam
seperti mimpi yang ku singgahi
pada ketidakwarasan logika
maka aku pun berhenti menuai
larik-larik sawah yang telah kering
ku urai keluh pada helai daun piduh
pada hijau lumut, pada tanah basah
seusai derai sore yang ku kayuh
Di temaram senja, diambang jingga cakrawala
gamangku menjelma rapuh
melunglai sebait kerinduan pada masa
dimana aku masih serupa benih. serupa telor kepodang
Jika bagimu, aku hanya tau keluh
di deret cermin yang mulai kusam
seperti mimpi yang ku singgahi
pada ketidakwarasan logika
maka aku pun berhenti menuai
larik-larik sawah yang telah kering
Aku Perlu Waktu
Aku perlu waktu
menata kembali kekeping serpih hati
yang terporandakan badai
hanyut dalam gelombang emosi
Aku perlu waktu
merawat kembali larik semai benih
yang terbenam lumpur
sungai keangkuhan duniawi
Aku juga perlu waktu
menganyam kembali
bidang tikar pembentuk jejak perasaan
yang lumat terkoyak
dusta dan ketidakpercayaan
Aku bahkan perlu waktu
memintal benangbenang rasa
yang terkusutkan masa
ketidaksabaran dan keacuhan
Andai pun tak pernah lagi ada waktu
Aku tetap hanya perlu...waktu
menata kembali kekeping serpih hati
yang terporandakan badai
hanyut dalam gelombang emosi
Aku perlu waktu
merawat kembali larik semai benih
yang terbenam lumpur
sungai keangkuhan duniawi
Aku juga perlu waktu
menganyam kembali
bidang tikar pembentuk jejak perasaan
yang lumat terkoyak
dusta dan ketidakpercayaan
Aku bahkan perlu waktu
memintal benangbenang rasa
yang terkusutkan masa
ketidaksabaran dan keacuhan
Andai pun tak pernah lagi ada waktu
Aku tetap hanya perlu...waktu
Langganan:
Postingan (Atom)