Jumat, 10 Februari 2012

Jika Masa Berpulang

Aku tak keluhkan warna
pada darah yang mengalir di nadiku
biarlah tetap merah
tak peduli biru atau ungu

sebab menjadi sudra tak berpilih
seperti rahim yang membesarkanku
seperti ikhlas bumi pertiwi
tak memandang kasih atau benci

sebab tanah adalah ziarah
pada semua darah
yang akan ruah tertumpah
sekalipun pada apa yang tertinggi

ketahuilah
wajah bumi tak pernah berpaling
pada carut atau pun riang
selayak laut semesta menampung segala

Kita pasti berpulang
pada saatnya tanah berlahat
hanya masalah waktu
tak ada yang tak datang masa itu

Tentang Kita

aaahhhhh..........
melegalah
seperti angin berpulang
menjadi udara menghembus ilalang

kuncup yang ku tanam
bermekaran senyum
seindah kisah semalam
syahdu mengiring peraduan

Lalu untuk apa
kau tanyakan lagi arti cinta
jika aku tak bisa
merangkaikan dalam cerita kata

Apakah hangat bibirku tak melukiskannya
Apakah belai lembut jemariku tak menceritakannya
Apakah.............hhhhh...
Kata-kataku tak bertuah seperti yang ku gubah

Biarlah
aku tetap bermain dengan imajinasiku sendiri
dengan tetap menjadi apa aku semestinya
memipih setiap jejak dalam kehidupanmu

Asinku Manismu

pada lidah - lidah ombak
mengecap getir pesisir, mencibir
pasir terpecah menerpa kesunyian
angin yang kau rindui
menghilang bersama luruh sang waktu

lalu cenungku termaknai apa
sementara karang masih tegar
pada sosok yang teronggok
kaku tanpa geming mendiami terik
kau hempas biduk di telungkup sedu

derai yg senyap di gerus ombak
di remah temali yang kau sisakan
kau ukir luka gurindam
pada kata tak bersampiran
sloka yang kau gubah
terhapus pupus batu parigi
enyahkah segala rasamu

lalu...
luka ini ku bebat dengan apa
sementara tulang telah mendebu
di setiap angan yg ku cumbui
hanya kabut berarak seirama desau
di gelisah sisian hati

Dia

Dia...
matangkan galau ditepi perih. melirih
membebat dengan untaian kisruh
melembab diantara keluh
di kerut kening kata berlabuh

Dia...
menggali ceruk2 di palung jiwa
di parit2 kegusaran. melingkar
memipih detik2 beranjak
luka melebam tak berbasuh

Lalu dia...
untaikan setangkai harap
pada beling2 kaca
diantara jebakan bandil2
menusuk dalam jauh ke tulang


Sementara aku
tertatih berpijak ditelanjang kaki
diatas serpih bara pasir besi
bakar aku perlahan
abukan rasaku membaur
debu...

Bersama Perasaanku

dengan cinta ini
aku tau tak selamanya membuatmu tersenyum
dengan cinta ini pula
terkadang aku tak mampu hindari tuk membuatmu tak menangis
bukan karena aku menghendakinya
namun ingatlah palung dan ceruk kehidupan yang mesti dijalani
yang bergaung dalam gema sepi
dilanda siang dengan teriknya
bersama sejurus awan dan mendung menitikkan hujan
atau pun malam dengan gulitanya
bintang harapan dan benderang teduh sang rembulan
tak jua mampu meluruhkan kegusaran jiwa...
pinta maafku pasti berulang karena aku
hanya manusia...

Imaji

Aku ditelanjangi waktu
melaju derap disamping bahuku
menoleh dengan ujung ekor matanya. Meliar
pada senyum seirama terik membakar jiwa

Aku ditelanjangi hari
pada kisah2 yang terpipih perlahan
di pagi yang kulalui bersama siang
dan di siang yg segera terjemput petang
di kebisuannya menuai rintih angin. menyapu keluh

Aku syukuri setiap rahim yang dijejak benih
tanpa menyulih rupa warna hitam pun putih
di tiap tetes hujan dan helai2 awan
yang ku cumbu di tiap getir imajinasiku

Tembang Hati (Bahasa Bali)

napike i ratu kantun eling ring napi kadi biasane memargi
ngerasayang sareng, cumpu keh kapining tresna ne ucapang
Pedaduanan nenun ipian, tresna sekadi ye matanai
kadi penulung jiwa, premana keserahang, kala pidan ktemu
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi

tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin

ratu, bli inget sekancan kisi2 tresna i ratu
touch of my heart, nundun hati tan bina kadi tembang tresna
ngerembes ngelintang memargi nyahjah di keneh
janjin i ratu, sekancan rase kaucap ngebekin rase
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi

tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin

Mewali kapin padewekan, napike tuah khayalan?
bengong buyar, wiyakti i ratu joh magenah tuah ngungsi di keneh
mengipi, i ratu gelahang bli

tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin

Aku dan Tulisanku

Aku
tetaplah hanya seorang aku
terbalut dalam keterbatasan angka
terpenjara dalam rangkaian aksara
tetap dalam aku yang hanya sebatas aku

Aku
tetaplah hanya sebatas aku
sebatas ruh yang tersesat
dibelantara nadi dan denyut jantung
di dalam tulang dan daging pembentukku
yang hanya tetap sebatas aku

Lalu aku
Sebatas tulisan - tulisanku
Yang berderet keluar dari imajinasiku
tanpa nomor penunggu antrian waktu
Berebut jemari menjamahi pena
Di batas aku dan imajinasiku

Jika aku
Tak pernah mengenal lebih
Tentang majas-majas
Tentang bait - bait gurindam pengisi waktu
Yang ku metamorfosakan
Lahir dari persetubuhan siang dan malam

Sebait Kesah

Di tepian jalan-jalan setapak
ku urai keluh pada helai daun piduh
pada hijau lumut, pada tanah basah
seusai derai sore yang ku kayuh

Di temaram senja, diambang jingga cakrawala
gamangku menjelma rapuh
melunglai sebait kerinduan pada masa
dimana aku masih serupa benih. serupa telor kepodang

Jika bagimu, aku hanya tau keluh
di deret cermin yang mulai kusam
seperti mimpi yang ku singgahi
pada ketidakwarasan logika

maka aku pun berhenti menuai
larik-larik sawah yang telah kering

Aku Perlu Waktu

Aku perlu waktu
menata kembali kekeping serpih hati
yang terporandakan badai
hanyut dalam gelombang emosi

Aku perlu waktu
merawat kembali larik semai benih
yang terbenam lumpur
sungai keangkuhan duniawi

Aku juga perlu waktu
menganyam kembali
bidang tikar pembentuk jejak perasaan
yang lumat terkoyak
dusta dan ketidakpercayaan

Aku bahkan perlu waktu
memintal benangbenang rasa
yang terkusutkan masa
ketidaksabaran dan keacuhan

Andai pun tak pernah lagi ada waktu
Aku tetap hanya perlu...waktu