Aku tak keluhkan warna
pada darah yang mengalir di nadiku
biarlah tetap merah
tak peduli biru atau ungu
sebab menjadi sudra tak berpilih
seperti rahim yang membesarkanku
seperti ikhlas bumi pertiwi
tak memandang kasih atau benci
sebab tanah adalah ziarah
pada semua darah
yang akan ruah tertumpah
sekalipun pada apa yang tertinggi
ketahuilah
wajah bumi tak pernah berpaling
pada carut atau pun riang
selayak laut semesta menampung segala
Kita pasti berpulang
pada saatnya tanah berlahat
hanya masalah waktu
tak ada yang tak datang masa itu
Jumat, 10 Februari 2012
Tentang Kita
aaahhhhh..........
melegalah
seperti angin berpulang
menjadi udara menghembus ilalang
kuncup yang ku tanam
bermekaran senyum
seindah kisah semalam
syahdu mengiring peraduan
Lalu untuk apa
kau tanyakan lagi arti cinta
jika aku tak bisa
merangkaikan dalam cerita kata
Apakah hangat bibirku tak melukiskannya
Apakah belai lembut jemariku tak menceritakannya
Apakah.............hhhhh...
Kata-kataku tak bertuah seperti yang ku gubah
Biarlah
aku tetap bermain dengan imajinasiku sendiri
dengan tetap menjadi apa aku semestinya
memipih setiap jejak dalam kehidupanmu
melegalah
seperti angin berpulang
menjadi udara menghembus ilalang
kuncup yang ku tanam
bermekaran senyum
seindah kisah semalam
syahdu mengiring peraduan
Lalu untuk apa
kau tanyakan lagi arti cinta
jika aku tak bisa
merangkaikan dalam cerita kata
Apakah hangat bibirku tak melukiskannya
Apakah belai lembut jemariku tak menceritakannya
Apakah.............hhhhh...
Kata-kataku tak bertuah seperti yang ku gubah
Biarlah
aku tetap bermain dengan imajinasiku sendiri
dengan tetap menjadi apa aku semestinya
memipih setiap jejak dalam kehidupanmu
Asinku Manismu
pada lidah - lidah ombak
mengecap getir pesisir, mencibir
pasir terpecah menerpa kesunyian
angin yang kau rindui
menghilang bersama luruh sang waktu
lalu cenungku termaknai apa
sementara karang masih tegar
pada sosok yang teronggok
kaku tanpa geming mendiami terik
kau hempas biduk di telungkup sedu
derai yg senyap di gerus ombak
di remah temali yang kau sisakan
kau ukir luka gurindam
pada kata tak bersampiran
sloka yang kau gubah
terhapus pupus batu parigi
enyahkah segala rasamu
lalu...
luka ini ku bebat dengan apa
sementara tulang telah mendebu
di setiap angan yg ku cumbui
hanya kabut berarak seirama desau
di gelisah sisian hati
mengecap getir pesisir, mencibir
pasir terpecah menerpa kesunyian
angin yang kau rindui
menghilang bersama luruh sang waktu
lalu cenungku termaknai apa
sementara karang masih tegar
pada sosok yang teronggok
kaku tanpa geming mendiami terik
kau hempas biduk di telungkup sedu
derai yg senyap di gerus ombak
di remah temali yang kau sisakan
kau ukir luka gurindam
pada kata tak bersampiran
sloka yang kau gubah
terhapus pupus batu parigi
enyahkah segala rasamu
lalu...
luka ini ku bebat dengan apa
sementara tulang telah mendebu
di setiap angan yg ku cumbui
hanya kabut berarak seirama desau
di gelisah sisian hati
Dia
Dia...
matangkan galau ditepi perih. melirih
membebat dengan untaian kisruh
melembab diantara keluh
di kerut kening kata berlabuh
Dia...
menggali ceruk2 di palung jiwa
di parit2 kegusaran. melingkar
memipih detik2 beranjak
luka melebam tak berbasuh
Lalu dia...
untaikan setangkai harap
pada beling2 kaca
diantara jebakan bandil2
menusuk dalam jauh ke tulang
Sementara aku
tertatih berpijak ditelanjang kaki
diatas serpih bara pasir besi
bakar aku perlahan
abukan rasaku membaur
debu...
matangkan galau ditepi perih. melirih
membebat dengan untaian kisruh
melembab diantara keluh
di kerut kening kata berlabuh
Dia...
menggali ceruk2 di palung jiwa
di parit2 kegusaran. melingkar
memipih detik2 beranjak
luka melebam tak berbasuh
Lalu dia...
untaikan setangkai harap
pada beling2 kaca
diantara jebakan bandil2
menusuk dalam jauh ke tulang
Sementara aku
tertatih berpijak ditelanjang kaki
diatas serpih bara pasir besi
bakar aku perlahan
abukan rasaku membaur
debu...
Bersama Perasaanku
dengan cinta ini
aku tau tak selamanya membuatmu tersenyum
dengan cinta ini pula
terkadang aku tak mampu hindari tuk membuatmu tak menangis
bukan karena aku menghendakinya
namun ingatlah palung dan ceruk kehidupan yang mesti dijalani
yang bergaung dalam gema sepi
dilanda siang dengan teriknya
bersama sejurus awan dan mendung menitikkan hujan
atau pun malam dengan gulitanya
bintang harapan dan benderang teduh sang rembulan
tak jua mampu meluruhkan kegusaran jiwa...
pinta maafku pasti berulang karena aku
hanya manusia...
aku tau tak selamanya membuatmu tersenyum
dengan cinta ini pula
terkadang aku tak mampu hindari tuk membuatmu tak menangis
bukan karena aku menghendakinya
namun ingatlah palung dan ceruk kehidupan yang mesti dijalani
yang bergaung dalam gema sepi
dilanda siang dengan teriknya
bersama sejurus awan dan mendung menitikkan hujan
atau pun malam dengan gulitanya
bintang harapan dan benderang teduh sang rembulan
tak jua mampu meluruhkan kegusaran jiwa...
pinta maafku pasti berulang karena aku
hanya manusia...
Imaji
Aku ditelanjangi waktu
melaju derap disamping bahuku
menoleh dengan ujung ekor matanya. Meliar
pada senyum seirama terik membakar jiwa
Aku ditelanjangi hari
pada kisah2 yang terpipih perlahan
di pagi yang kulalui bersama siang
dan di siang yg segera terjemput petang
di kebisuannya menuai rintih angin. menyapu keluh
Aku syukuri setiap rahim yang dijejak benih
tanpa menyulih rupa warna hitam pun putih
di tiap tetes hujan dan helai2 awan
yang ku cumbu di tiap getir imajinasiku
melaju derap disamping bahuku
menoleh dengan ujung ekor matanya. Meliar
pada senyum seirama terik membakar jiwa
Aku ditelanjangi hari
pada kisah2 yang terpipih perlahan
di pagi yang kulalui bersama siang
dan di siang yg segera terjemput petang
di kebisuannya menuai rintih angin. menyapu keluh
Aku syukuri setiap rahim yang dijejak benih
tanpa menyulih rupa warna hitam pun putih
di tiap tetes hujan dan helai2 awan
yang ku cumbu di tiap getir imajinasiku
Tembang Hati (Bahasa Bali)
napike i ratu kantun eling ring napi kadi biasane memargi
ngerasayang sareng, cumpu keh kapining tresna ne ucapang
Pedaduanan nenun ipian, tresna sekadi ye matanai
kadi penulung jiwa, premana keserahang, kala pidan ktemu
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ratu, bli inget sekancan kisi2 tresna i ratu
touch of my heart, nundun hati tan bina kadi tembang tresna
ngerembes ngelintang memargi nyahjah di keneh
janjin i ratu, sekancan rase kaucap ngebekin rase
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Mewali kapin padewekan, napike tuah khayalan?
bengong buyar, wiyakti i ratu joh magenah tuah ngungsi di keneh
mengipi, i ratu gelahang bli
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ngerasayang sareng, cumpu keh kapining tresna ne ucapang
Pedaduanan nenun ipian, tresna sekadi ye matanai
kadi penulung jiwa, premana keserahang, kala pidan ktemu
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
ratu, bli inget sekancan kisi2 tresna i ratu
touch of my heart, nundun hati tan bina kadi tembang tresna
ngerembes ngelintang memargi nyahjah di keneh
janjin i ratu, sekancan rase kaucap ngebekin rase
Ratu ayu, satmaka gelah bli pedidi
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Mewali kapin padewekan, napike tuah khayalan?
bengong buyar, wiyakti i ratu joh magenah tuah ngungsi di keneh
mengipi, i ratu gelahang bli
tembang hati, tyang nyantosin
tan pegatan kadi sang surya
nyunarin gumi ngalangin margi
tanpe manah kal ngentosin
Aku dan Tulisanku
Aku
tetaplah hanya seorang aku
terbalut dalam keterbatasan angka
terpenjara dalam rangkaian aksara
tetap dalam aku yang hanya sebatas aku
Aku
tetaplah hanya sebatas aku
sebatas ruh yang tersesat
dibelantara nadi dan denyut jantung
di dalam tulang dan daging pembentukku
yang hanya tetap sebatas aku
Lalu aku
Sebatas tulisan - tulisanku
Yang berderet keluar dari imajinasiku
tanpa nomor penunggu antrian waktu
Berebut jemari menjamahi pena
Di batas aku dan imajinasiku
Jika aku
Tak pernah mengenal lebih
Tentang majas-majas
Tentang bait - bait gurindam pengisi waktu
Yang ku metamorfosakan
Lahir dari persetubuhan siang dan malam
tetaplah hanya seorang aku
terbalut dalam keterbatasan angka
terpenjara dalam rangkaian aksara
tetap dalam aku yang hanya sebatas aku
Aku
tetaplah hanya sebatas aku
sebatas ruh yang tersesat
dibelantara nadi dan denyut jantung
di dalam tulang dan daging pembentukku
yang hanya tetap sebatas aku
Lalu aku
Sebatas tulisan - tulisanku
Yang berderet keluar dari imajinasiku
tanpa nomor penunggu antrian waktu
Berebut jemari menjamahi pena
Di batas aku dan imajinasiku
Jika aku
Tak pernah mengenal lebih
Tentang majas-majas
Tentang bait - bait gurindam pengisi waktu
Yang ku metamorfosakan
Lahir dari persetubuhan siang dan malam
Sebait Kesah
Di tepian jalan-jalan setapak
ku urai keluh pada helai daun piduh
pada hijau lumut, pada tanah basah
seusai derai sore yang ku kayuh
Di temaram senja, diambang jingga cakrawala
gamangku menjelma rapuh
melunglai sebait kerinduan pada masa
dimana aku masih serupa benih. serupa telor kepodang
Jika bagimu, aku hanya tau keluh
di deret cermin yang mulai kusam
seperti mimpi yang ku singgahi
pada ketidakwarasan logika
maka aku pun berhenti menuai
larik-larik sawah yang telah kering
ku urai keluh pada helai daun piduh
pada hijau lumut, pada tanah basah
seusai derai sore yang ku kayuh
Di temaram senja, diambang jingga cakrawala
gamangku menjelma rapuh
melunglai sebait kerinduan pada masa
dimana aku masih serupa benih. serupa telor kepodang
Jika bagimu, aku hanya tau keluh
di deret cermin yang mulai kusam
seperti mimpi yang ku singgahi
pada ketidakwarasan logika
maka aku pun berhenti menuai
larik-larik sawah yang telah kering
Aku Perlu Waktu
Aku perlu waktu
menata kembali kekeping serpih hati
yang terporandakan badai
hanyut dalam gelombang emosi
Aku perlu waktu
merawat kembali larik semai benih
yang terbenam lumpur
sungai keangkuhan duniawi
Aku juga perlu waktu
menganyam kembali
bidang tikar pembentuk jejak perasaan
yang lumat terkoyak
dusta dan ketidakpercayaan
Aku bahkan perlu waktu
memintal benangbenang rasa
yang terkusutkan masa
ketidaksabaran dan keacuhan
Andai pun tak pernah lagi ada waktu
Aku tetap hanya perlu...waktu
menata kembali kekeping serpih hati
yang terporandakan badai
hanyut dalam gelombang emosi
Aku perlu waktu
merawat kembali larik semai benih
yang terbenam lumpur
sungai keangkuhan duniawi
Aku juga perlu waktu
menganyam kembali
bidang tikar pembentuk jejak perasaan
yang lumat terkoyak
dusta dan ketidakpercayaan
Aku bahkan perlu waktu
memintal benangbenang rasa
yang terkusutkan masa
ketidaksabaran dan keacuhan
Andai pun tak pernah lagi ada waktu
Aku tetap hanya perlu...waktu
Kesaksian
Kekasihku, Tahukah kamu?
Aku telah menggeledah ronggarongga langit
Menyibak setiap gumpalan awan
Menyisir desir angin pesisir
hanya untuk mencari apa itu cinta
Kekasihku, Tahukah kamu?
Aku telah cermati setiap huruf dari kamus kehidupan
Helai demi helai kata yang mungkin ku temukan
mengusap debu di setiap jejak perjalananku
hanya untuk temukan alasan mencintaimu
Kekasihku, tahukah juga kamu?
Tak terhitung berapa banyak bias sinar mentari
Berapa banyak purnama dan bebintang di langit malamku
Berapa jauh jarak yang telah kutempuhi
dan berapa detik waktu berdetak disampingku
hanya untuk mengenang kisah kita
Lalu, aku hanya berharap agar kamu tahu
tanpa ku harus beritahu kamu
Aku mencintai kamu bukan karena cintamu
Tapi mencintai kamu karena cintaku menemukanmu
Aku telah menggeledah ronggarongga langit
Menyibak setiap gumpalan awan
Menyisir desir angin pesisir
hanya untuk mencari apa itu cinta
Kekasihku, Tahukah kamu?
Aku telah cermati setiap huruf dari kamus kehidupan
Helai demi helai kata yang mungkin ku temukan
mengusap debu di setiap jejak perjalananku
hanya untuk temukan alasan mencintaimu
Kekasihku, tahukah juga kamu?
Tak terhitung berapa banyak bias sinar mentari
Berapa banyak purnama dan bebintang di langit malamku
Berapa jauh jarak yang telah kutempuhi
dan berapa detik waktu berdetak disampingku
hanya untuk mengenang kisah kita
Lalu, aku hanya berharap agar kamu tahu
tanpa ku harus beritahu kamu
Aku mencintai kamu bukan karena cintamu
Tapi mencintai kamu karena cintaku menemukanmu
Monolog Senja
Aku kafankan sebait kisruh
terbenam di kebisuan keranda
lahat telah digali sedalam parit keluh
ku tandai dengan nisan tanpa nama
Ku kulum dalam sebongkah senyum amarah
pada ketidakberdayaan peluh
mencarut di kerut keriput dahi
Sementara isinya meleleh laharkan geram
Aku sesiapa aku yang kau lantakkan
tercampak di keheningan dera
detakku merumuskan kebencian putih
Apa yang bisa ku perbuat diatas sudra darahku
Aku bukanlah penjilat
ataupun pengikut hitam
kesahku hanya membathin
tertuang pada diam gemeretak geraham
bermonolog pada senja
terbenam di kebisuan keranda
lahat telah digali sedalam parit keluh
ku tandai dengan nisan tanpa nama
Ku kulum dalam sebongkah senyum amarah
pada ketidakberdayaan peluh
mencarut di kerut keriput dahi
Sementara isinya meleleh laharkan geram
Aku sesiapa aku yang kau lantakkan
tercampak di keheningan dera
detakku merumuskan kebencian putih
Apa yang bisa ku perbuat diatas sudra darahku
Aku bukanlah penjilat
ataupun pengikut hitam
kesahku hanya membathin
tertuang pada diam gemeretak geraham
bermonolog pada senja
Aku Sang Pemuja
Aku pemuja angin
diantara angan
tinggi melambung. mengembara
mengurai sajak
mendera makna
dikesudahan hari
memanen hujan
dan hangat terik
Aku pemuja sinar
diantara gelap
dikala terang
mengurai awan
ditepian rasa
di labirin prahara
dikesudahan malam
memanen embun
di basah daun
Aku pemuja kasih
diantara cinta
yang tak biasa
bukan tentang warna
atau pun tentang lena
di raut semesta
dikejawantahkan
dirapuh dedaun
disela akar ilalang
menghumus kesenyapan bumi
menuai harum
kembang seribu rupa
diantara angan
tinggi melambung. mengembara
mengurai sajak
mendera makna
dikesudahan hari
memanen hujan
dan hangat terik
Aku pemuja sinar
diantara gelap
dikala terang
mengurai awan
ditepian rasa
di labirin prahara
dikesudahan malam
memanen embun
di basah daun
Aku pemuja kasih
diantara cinta
yang tak biasa
bukan tentang warna
atau pun tentang lena
di raut semesta
dikejawantahkan
dirapuh dedaun
disela akar ilalang
menghumus kesenyapan bumi
menuai harum
kembang seribu rupa
Yang Aku Tahu
Aku hanya tahu pagi, adalah saat
Udara sisakan sejuk usai dingin menggigil
Geliat embun di kemalasan dedaun
langit benderang di timur dan mentari beranjak meninggi
Tapi tak pernah tahu tentang mimpimu semalam
Aku hanya tahu siang, adalah saat
kehangatan terik nyaris hangsukan pori2 kulitku
Angin berhembus kencang menyibak ranting pepohonan
Asap2 mengepul dan baur debu aspal jalanan
Tapi tak pernah tahu tentang riuh benakmu
Aku juga hanya tahu senja, saat
Mentari condongkan diri menuju barat
Cakrawala jingga memerah sembunyikan letihnya
Angin beringsut di cabang2 pinus, bermain dedaunnya
Tapi tak pernah tahu gelayut resah di gelisah langkahmu
Nyatanya
Aku hanya tahu sesuatu yang tak pernah ku Tahu...
Udara sisakan sejuk usai dingin menggigil
Geliat embun di kemalasan dedaun
langit benderang di timur dan mentari beranjak meninggi
Tapi tak pernah tahu tentang mimpimu semalam
Aku hanya tahu siang, adalah saat
kehangatan terik nyaris hangsukan pori2 kulitku
Angin berhembus kencang menyibak ranting pepohonan
Asap2 mengepul dan baur debu aspal jalanan
Tapi tak pernah tahu tentang riuh benakmu
Aku juga hanya tahu senja, saat
Mentari condongkan diri menuju barat
Cakrawala jingga memerah sembunyikan letihnya
Angin beringsut di cabang2 pinus, bermain dedaunnya
Tapi tak pernah tahu gelayut resah di gelisah langkahmu
Nyatanya
Aku hanya tahu sesuatu yang tak pernah ku Tahu...
Tersesat
karam tenggelam di ceruk sempit lautan hati
bersaksi pada bilah2 prahara yang tercipta
dari riak2 gelombang menghampa rasa
dari karang2 terjal ketidakacuhan
pada tiap kata mencoba menggali makna
tapi kenapa hanya perih yang tersisa
Bahkan disaat sajak cinta mengalir deras
malah tersiratkan sembilu di sayat kalbu
di pusara angin melempar harap
walau tahu mungkin harus menuai taupan
di gempita gelombang menyauh mimpi
walaupun tahu mesti memipih badai
bersaksi pada bilah2 prahara yang tercipta
dari riak2 gelombang menghampa rasa
dari karang2 terjal ketidakacuhan
pada tiap kata mencoba menggali makna
tapi kenapa hanya perih yang tersisa
Bahkan disaat sajak cinta mengalir deras
malah tersiratkan sembilu di sayat kalbu
di pusara angin melempar harap
walau tahu mungkin harus menuai taupan
di gempita gelombang menyauh mimpi
walaupun tahu mesti memipih badai
Diantara Aku
anakku pertama adalah harapan
harapan agar kelak bisa menjadikanku
menjadi orang tua yang seutuhnya
melebihi harapannya terlahir ke dunia
anakku kedua adalah doa
doa yang ku panjatkan
di khusuknya petang menuju malam
pada kegelapan hidup di masa lalu
menuju terang di masa datang
istriku adalah keyakinan
keyakinan untuk tetap melangkah
dalam badai, prahara dan dalam hembusan topan
menghujani setapak jalan yg akan ku lalui
Dan aku
menjadikanku sebagai perahu kepercayaan
untuk membawa mereka mengarungi samudera
mendera gelombang dan riak perjalanan
pada lautan tanpa pesisir
harapan agar kelak bisa menjadikanku
menjadi orang tua yang seutuhnya
melebihi harapannya terlahir ke dunia
anakku kedua adalah doa
doa yang ku panjatkan
di khusuknya petang menuju malam
pada kegelapan hidup di masa lalu
menuju terang di masa datang
istriku adalah keyakinan
keyakinan untuk tetap melangkah
dalam badai, prahara dan dalam hembusan topan
menghujani setapak jalan yg akan ku lalui
Dan aku
menjadikanku sebagai perahu kepercayaan
untuk membawa mereka mengarungi samudera
mendera gelombang dan riak perjalanan
pada lautan tanpa pesisir
Cintaku, Kekasihku
kekasihku,
cintaku bukanlah kata
pada bujuk rayu sajak2
karena aku tak mengurai makna
Akan perasaanku disana kepadamu
kekasihku,
cintaku bukanlah sikap
yang menjadikanmu istri
tuk melangkah setelah jejak
yang ku hentak di tanah
kekasihku,
cintaku bukanlah logika
tentang alibi sebab akibat
tak bisa ku nalar pada cerita
yang kerap ada di pertemuan kita
cintaku hanya perumpamaan
umpamakan kata, sikap dan logika
umpamakan aku, kamu dan Kita. itu saja
karena cintaku bukanlah kata
cintaku bukanlah kata
pada bujuk rayu sajak2
karena aku tak mengurai makna
Akan perasaanku disana kepadamu
kekasihku,
cintaku bukanlah sikap
yang menjadikanmu istri
tuk melangkah setelah jejak
yang ku hentak di tanah
kekasihku,
cintaku bukanlah logika
tentang alibi sebab akibat
tak bisa ku nalar pada cerita
yang kerap ada di pertemuan kita
cintaku hanya perumpamaan
umpamakan kata, sikap dan logika
umpamakan aku, kamu dan Kita. itu saja
karena cintaku bukanlah kata
Aku
Aku melakoni aku
tanpa harus menjadi ia, dia dan nya
bermetamorfosalah aku
dari aku yang tetap menjadi aku
Aku melakoni api
memipih gurat urat kayu
pelan yang perlahan
tak butuh lagi kehangatan
bersahabat dengan asapku
Aku melakoni air
di tetes2 embun mengembun
jatuhku mengharap tanah
maka bersambutlah aku
dengan angin dan matahari
Aku melakoni angin
di sibak ruas2 bambu
di riak2 air. di kepulan asap2
menariku bersama awan
di bahana panggung langit
Maka aku melakoni
Lelakon aku menyulih rupaku
menjadi aku
tanpa harus menjadi ia, dia dan nya
bermetamorfosalah aku
dari aku yang tetap menjadi aku
Aku melakoni api
memipih gurat urat kayu
pelan yang perlahan
tak butuh lagi kehangatan
bersahabat dengan asapku
Aku melakoni air
di tetes2 embun mengembun
jatuhku mengharap tanah
maka bersambutlah aku
dengan angin dan matahari
Aku melakoni angin
di sibak ruas2 bambu
di riak2 air. di kepulan asap2
menariku bersama awan
di bahana panggung langit
Maka aku melakoni
Lelakon aku menyulih rupaku
menjadi aku
Aku dan Warna
Aku menuai merah
pada desir2 darah
pada getir tumpah ruah
namun tanpa keluh kesah
Aku menuai jingga
pada arah barat yang cerah
sejauh batas khatulistiwa
di senja yang kita tunggui
Aku menuai putih
pada benderang siang
pada gumpalan2 awan
menyulih terik sinaran
Aku juga menuai hitam
setelah senja temaram
pada gulita malam
selayak kelam yang kau pinjamkan
Tapi kuning telah menghilang
semburat di putik bunga2
Tapi hijau telah tergadaikan
pada dedaun peneduh tanah
Maka pelangi telah memudar
Terpenjara ruang imajinasi
Yang tercipta sesaat usai hujan
Seperti hanyutku tercampak waktu
pada desir2 darah
pada getir tumpah ruah
namun tanpa keluh kesah
Aku menuai jingga
pada arah barat yang cerah
sejauh batas khatulistiwa
di senja yang kita tunggui
Aku menuai putih
pada benderang siang
pada gumpalan2 awan
menyulih terik sinaran
Aku juga menuai hitam
setelah senja temaram
pada gulita malam
selayak kelam yang kau pinjamkan
Tapi kuning telah menghilang
semburat di putik bunga2
Tapi hijau telah tergadaikan
pada dedaun peneduh tanah
Maka pelangi telah memudar
Terpenjara ruang imajinasi
Yang tercipta sesaat usai hujan
Seperti hanyutku tercampak waktu
Sentigi di Suatu Senja
sesayup bualan angin
menyapa kebisuan hari
dingin yang kau bagi
menusuk hingga ke sumsum tulang
gundah yang menyapu hening
di kelok senja menjelang petang
menggigil biduk tepian dermaga
di laju arus membuang terang
kotaku masih membisu
hanya derak karat2 pagar
lusuh dalam masa dan asin lautku
tenang beringsut perlahan. pelan
malam yang ku jemput
setia pekat dalam gulita
keremangan yang kosong. diam
cenungku melaju di lusuh keluh
kau rindukan apa?
kapal yang merapat di dermaga?
kau tunggui siapa?
cinta yang lama tak pulang?
terbuang jawab
pada desah kepul lintingan
mencari jawab
pada jejak riak ombak
menepi di pecah pasir. pesisir
menyapa kebisuan hari
dingin yang kau bagi
menusuk hingga ke sumsum tulang
gundah yang menyapu hening
di kelok senja menjelang petang
menggigil biduk tepian dermaga
di laju arus membuang terang
kotaku masih membisu
hanya derak karat2 pagar
lusuh dalam masa dan asin lautku
tenang beringsut perlahan. pelan
malam yang ku jemput
setia pekat dalam gulita
keremangan yang kosong. diam
cenungku melaju di lusuh keluh
kau rindukan apa?
kapal yang merapat di dermaga?
kau tunggui siapa?
cinta yang lama tak pulang?
terbuang jawab
pada desah kepul lintingan
mencari jawab
pada jejak riak ombak
menepi di pecah pasir. pesisir
Telaga Tunjung Suatu Ketika
termangu pertemuan air dan batu
lumut setia hijau bertumbuh
hasratnya adalah kambium
namun entahlah ia bahkan bukan perdu
bersaksi pada pasang mudamudi. mabuk cinta
romansa cerita menyeruak pelan
berkisah tentang bait2 kelana hati. erat dekap
di batu2, di rerumput pada seringai percik2 air
kerinduankah yang mengaliri hilir?
kekasih mendesau
di gelisah sibak angin
bebatuan yang kau tanyai
hanyalah penahan deru arus
bisu tak bergeming air gemericik
pengikut lembah
lihatlah awan
beringsut meninggalkan langit
bersembunyi di rimbun semak
kelak cerita kita bagi lagi
sesaat setelah estuari ini sepi
lumut setia hijau bertumbuh
hasratnya adalah kambium
namun entahlah ia bahkan bukan perdu
bersaksi pada pasang mudamudi. mabuk cinta
romansa cerita menyeruak pelan
berkisah tentang bait2 kelana hati. erat dekap
di batu2, di rerumput pada seringai percik2 air
kerinduankah yang mengaliri hilir?
kekasih mendesau
di gelisah sibak angin
bebatuan yang kau tanyai
hanyalah penahan deru arus
bisu tak bergeming air gemericik
pengikut lembah
lihatlah awan
beringsut meninggalkan langit
bersembunyi di rimbun semak
kelak cerita kita bagi lagi
sesaat setelah estuari ini sepi
Cermin
mematung mata awas memandang
kilatkilat cahaya lenggaklenggok gaya
mematut diri melihat pantas
pada raut kerut wajah, pada rambut memutih getir
gumamnya entahlah keluh
bertanya surau pada serak kering lidah
sesiapa memakan usia, sesiapa mewariskan renta
pada lusuh keriput belulang. keropos tulang
mata memata-matai siapa
di rabun temaram cahaya
di pikun benak merajalela
mematut pantas kejenuhan hati
Nyamankah ia
Di samar gelap bebayang
Keraguan menyurup rasa. sembunyi
Dari balik cermin. mematamatai mata
kilatkilat cahaya lenggaklenggok gaya
mematut diri melihat pantas
pada raut kerut wajah, pada rambut memutih getir
gumamnya entahlah keluh
bertanya surau pada serak kering lidah
sesiapa memakan usia, sesiapa mewariskan renta
pada lusuh keriput belulang. keropos tulang
mata memata-matai siapa
di rabun temaram cahaya
di pikun benak merajalela
mematut pantas kejenuhan hati
Nyamankah ia
Di samar gelap bebayang
Keraguan menyurup rasa. sembunyi
Dari balik cermin. mematamatai mata
Tabah
asa masih memendar cahaya
meredup ia di lorong waktu
menjejak di tiap langkah hari
mendepa kerinduan memipih sepi
telanjangi helai2 nafas. gumam kesah
mendetak detik kesenyapan hari
berpulang mereka satu per satu
pangkuan bumi memanggil lirih
tengadahku pada langit
mengarak awan memacu gelisah angin
mendesau desir kepasrahan.tabah
setabah tanah di geliat debu
(didedikasikan buat saudara2 Alm.Bapak yg berpulang satu per satu di lorong waktu...)
meredup ia di lorong waktu
menjejak di tiap langkah hari
mendepa kerinduan memipih sepi
telanjangi helai2 nafas. gumam kesah
mendetak detik kesenyapan hari
berpulang mereka satu per satu
pangkuan bumi memanggil lirih
tengadahku pada langit
mengarak awan memacu gelisah angin
mendesau desir kepasrahan.tabah
setabah tanah di geliat debu
(didedikasikan buat saudara2 Alm.Bapak yg berpulang satu per satu di lorong waktu...)
Entah Kumaknai Apa
menyibaksibak membelah petang
menjuntai perlahan di kesunyian
ku tinggal lelap dalam rengkuh peluk
pada gamit lengang bertandang sepi
mimpi yang ku sudahi bergumul peluh
derak karat ranjang yang kita singgahi
hanyalah sebait tikar lusuh
namun adakah kebahagiaan yag bisa menukarnya
cumbuan di tengah hari entah sudah yg kesekian kali
berteduh dari terik di rindang dedaun
pada ranting2 sesetia detak waktu
sesayup angin yang membelai anak2 rambut pelipismu
entah berapa detik yang kita lewati
entah berapa menit, perputaran jarum waktu
entah berapa siang dan malam yang kita singgahi
aku pun masih sama, berdiri berisian disamping hatimu
aku mau. Sungguh aku mau
jejakjejak kelana yang kita tinggalkan
ada arti baik di setapak jejalan
selayak harum semerbak wewangi liar bunga rumput
di rimbun belukar yang kita tinggalkan dipinggir jalan
menjuntai perlahan di kesunyian
ku tinggal lelap dalam rengkuh peluk
pada gamit lengang bertandang sepi
mimpi yang ku sudahi bergumul peluh
derak karat ranjang yang kita singgahi
hanyalah sebait tikar lusuh
namun adakah kebahagiaan yag bisa menukarnya
cumbuan di tengah hari entah sudah yg kesekian kali
berteduh dari terik di rindang dedaun
pada ranting2 sesetia detak waktu
sesayup angin yang membelai anak2 rambut pelipismu
entah berapa detik yang kita lewati
entah berapa menit, perputaran jarum waktu
entah berapa siang dan malam yang kita singgahi
aku pun masih sama, berdiri berisian disamping hatimu
aku mau. Sungguh aku mau
jejakjejak kelana yang kita tinggalkan
ada arti baik di setapak jejalan
selayak harum semerbak wewangi liar bunga rumput
di rimbun belukar yang kita tinggalkan dipinggir jalan
Purnama Datang Lagi
perjalanannya lusuh di tengah kabut
melalui lorong malam tak berkesudahan
di desau dingin angin menggigil
menyibak sebait senyum di rekah merah bibirnya
aku mendepa arah di setapak jalan
berharap ada sisa bait2 kenangan
meremah di bebayang gulita
sesaat setelah menghilang ditelan malam
entah pada malam yang mana
purnama akan datang lagi
menghapus getir di hampa tepuk sebelah tangan
di sejuk benderang
di rekah senyum merah bibirnya
menyibak desau angin menggigil
meluruhkan gelisah di sepi gundah
ditepian senja batas cakrawala
purnama..datang lagi
melalui lorong malam tak berkesudahan
di desau dingin angin menggigil
menyibak sebait senyum di rekah merah bibirnya
aku mendepa arah di setapak jalan
berharap ada sisa bait2 kenangan
meremah di bebayang gulita
sesaat setelah menghilang ditelan malam
entah pada malam yang mana
purnama akan datang lagi
menghapus getir di hampa tepuk sebelah tangan
di sejuk benderang
di rekah senyum merah bibirnya
menyibak desau angin menggigil
meluruhkan gelisah di sepi gundah
ditepian senja batas cakrawala
purnama..datang lagi
Lihat, Dengar dan Rasakan
di kilas jejak pasir
mencari remah bendera kau pasang
tak pedulikan tajam karangkarang
nyata hanya seraut bebayang
di untaian carut kabut
mencium sebait wewangi tubuhmu
tertinggal di ranting2 cemara
sesaat setelah rumput diam terjejak
aku memintal sulursulur langit
tertoreh pena tajam kau gurat
aksara kata pembentuk rasa citamu
untuk ku tenun sebidang kain. Penghangat jiwa
mencari remah bendera kau pasang
tak pedulikan tajam karangkarang
nyata hanya seraut bebayang
di untaian carut kabut
mencium sebait wewangi tubuhmu
tertinggal di ranting2 cemara
sesaat setelah rumput diam terjejak
aku memintal sulursulur langit
tertoreh pena tajam kau gurat
aksara kata pembentuk rasa citamu
untuk ku tenun sebidang kain. Penghangat jiwa
Purnama di atas Telaga
benderang ia di gulita petang
memantul indah bercanda riakriak
gelisahnya tenang berselimut kesunyian
hatinya meletupletup membelah kabut
bebatuan bersembunyi di balik lumut
diperdengarkannya nyanyian jiwa
kepada jentik dan belukar liar. tersiar
kesejukan air di sinaran sela dedaunan
waktunya tidaklah banyak
jika binatang malam letih berdendang
tergantikan irama pagi yang riang
cahayanya berdendang tak berkesudahan
memantul indah bercanda riakriak
gelisahnya tenang berselimut kesunyian
hatinya meletupletup membelah kabut
bebatuan bersembunyi di balik lumut
diperdengarkannya nyanyian jiwa
kepada jentik dan belukar liar. tersiar
kesejukan air di sinaran sela dedaunan
waktunya tidaklah banyak
jika binatang malam letih berdendang
tergantikan irama pagi yang riang
cahayanya berdendang tak berkesudahan
Pesan buat Anakku
Anakku,
maafkan aku
aku; ayahmu tak bisa mewariskan
warih wangsa utama di nadi darahmu
meski ibumu adalah ningrat mahotama
darah birunya yang mengalir deras
memenuhi setiap ujung pusat syaraf
Anakku,
aku tak memilih jaba sudra
saat nenek dan kakekmu merancangku
dan jelaslah aku ikhlas akan darah pinggiran
yang dipompa jantung ke seluruh nadiku
Anakku,
meski ada trah wangsa sudra mengalir di darahmu
juga tercampur trah wangsa utama
tetaplah engkau bangga anakku
karena hidupmu tak tergantung biru atau merah warna darahmu
tapi tergantung seberapa baik dan seberapa besar kemampuanmu
tuk menjaga akhlak dan moralmu
tuk menjaga pikiran, ucapan dan perbuatanmu
bukan karena darah biru di aliran darahmu,
Anakku
jika kerendahan hati telah menjadi bekal buatmu
jika sikap welas asih telah dijadikan pedoman hidupmu
jika budhi luhur mewarnai tiap tindakanmu
maka itulah yang akan mengangkatmu
mengangkat tinggi derajatmu
bukan oleh kekayaanmu
bukan oleh kecantikanmu
bukan pula oleh darah birumu
maafkan aku
aku; ayahmu tak bisa mewariskan
warih wangsa utama di nadi darahmu
meski ibumu adalah ningrat mahotama
darah birunya yang mengalir deras
memenuhi setiap ujung pusat syaraf
Anakku,
aku tak memilih jaba sudra
saat nenek dan kakekmu merancangku
dan jelaslah aku ikhlas akan darah pinggiran
yang dipompa jantung ke seluruh nadiku
Anakku,
meski ada trah wangsa sudra mengalir di darahmu
juga tercampur trah wangsa utama
tetaplah engkau bangga anakku
karena hidupmu tak tergantung biru atau merah warna darahmu
tapi tergantung seberapa baik dan seberapa besar kemampuanmu
tuk menjaga akhlak dan moralmu
tuk menjaga pikiran, ucapan dan perbuatanmu
bukan karena darah biru di aliran darahmu,
Anakku
jika kerendahan hati telah menjadi bekal buatmu
jika sikap welas asih telah dijadikan pedoman hidupmu
jika budhi luhur mewarnai tiap tindakanmu
maka itulah yang akan mengangkatmu
mengangkat tinggi derajatmu
bukan oleh kekayaanmu
bukan oleh kecantikanmu
bukan pula oleh darah birumu
Salah Waktu
serupa rupa perupa malam
melukis kelam di kanvas langit
tintanya hitam berkuas hati
tentang mimpimimpi ia miliki
sebuah galau menggatung di keresahan
pencarian diri di dunianya sendiri
lamatmengganggui tak berkesudahan
usai bulan dan bintang pulang bertandang
pagikah yang ia cari
terikkah yang ia nanti
seusai embun ditandas angin
setelah riak kerap mengulur sepi. sunyi
kepala kosong. melompong
terbang hilang ditelan riuh imajinasi
mata menatap lekat. bulat
menelanjangi hasrat kian memupus
dunia yang ia cari serupa rupa ulat
mendera jalan menuju kepompong
harapnya kelak dua sayap bertumbuh
sebagai anugerah waktu yang ia anggap salah
melukis kelam di kanvas langit
tintanya hitam berkuas hati
tentang mimpimimpi ia miliki
sebuah galau menggatung di keresahan
pencarian diri di dunianya sendiri
lamatmengganggui tak berkesudahan
usai bulan dan bintang pulang bertandang
pagikah yang ia cari
terikkah yang ia nanti
seusai embun ditandas angin
setelah riak kerap mengulur sepi. sunyi
kepala kosong. melompong
terbang hilang ditelan riuh imajinasi
mata menatap lekat. bulat
menelanjangi hasrat kian memupus
dunia yang ia cari serupa rupa ulat
mendera jalan menuju kepompong
harapnya kelak dua sayap bertumbuh
sebagai anugerah waktu yang ia anggap salah
Kita Bukan Apa-apa
sepotong bianglala hitam menari di terik tanpa awan
membentang menggurat wajah langit
entah kisah apa yang hendak ia sampaikan
sementara debu gelisah di terpa desau angin
Aku, kita tertawan dalam resah
usai getargemetar cipta semesta
di riuh rasa berkecamuk dalam dada
di kehendakNya bersujud ikhlas segala apa
akankah penghuni2 hari tersadar dari lantak
percaperca pengharapan masih tersisa di segenap asa
bukankah kami perlu disadarkan dari mimpi2 palsu?
Bukankah kami masih tetap terbangun dari susunan tulang darah daging?
Entahlah...
Karena kita tetap bukan apa-apa
membentang menggurat wajah langit
entah kisah apa yang hendak ia sampaikan
sementara debu gelisah di terpa desau angin
Aku, kita tertawan dalam resah
usai getargemetar cipta semesta
di riuh rasa berkecamuk dalam dada
di kehendakNya bersujud ikhlas segala apa
akankah penghuni2 hari tersadar dari lantak
percaperca pengharapan masih tersisa di segenap asa
bukankah kami perlu disadarkan dari mimpi2 palsu?
Bukankah kami masih tetap terbangun dari susunan tulang darah daging?
Entahlah...
Karena kita tetap bukan apa-apa
Kerinduan Berujung Belati
perihnya
di tiap gores
tanpa luka
tanpa darah
hanya melipat lipat
dilipat gurat dahi
hanya kesir-desir
berporak poranda
rasaku terbang
tiada pulang
melesat pedang
tukik menukik
menancap langit
terdiamlah
mematung patung
tanpa kedip
tanpa suara
bait membait kata
seperti angin
menelusuk jiwa
seperti kerinduan
berujung belati. perih
di tiap gores
tanpa luka
tanpa darah
hanya melipat lipat
dilipat gurat dahi
hanya kesir-desir
berporak poranda
rasaku terbang
tiada pulang
melesat pedang
tukik menukik
menancap langit
terdiamlah
mematung patung
tanpa kedip
tanpa suara
bait membait kata
seperti angin
menelusuk jiwa
seperti kerinduan
berujung belati. perih
Hujan Terakhir
aku sudah cukup puas
bercinta dengan kepulan kabut dan kering debu
dari balik derap langkah melewati jalan bebatu
dan aku tahu itu pasti jejak2mu di labirin hatiku
aku terkulai lemas
usai kaupacu detak jantung dan desir darahku
dari balik baju dan bercak2 merah di kusut kelambu
dan aku tahu itu pasti dari cakar2mu di deras peluhku
aku mengurai jiwaku setiap pipihan pedih
tertinggal di bawah bantal dan onggokt selimut
tersisa di laci2 nakas dan kolong ranjang
juga di kepulan asap dari kubangan puntung asbak kayu
aku menunggui isyarat langit
membawa kumpulan awan dan ribuan lembar mendung
bersama rinai berharap luruhkan segala hasratku
ku tunggui sampai tetes hujan yang terakhir
bercinta dengan kepulan kabut dan kering debu
dari balik derap langkah melewati jalan bebatu
dan aku tahu itu pasti jejak2mu di labirin hatiku
aku terkulai lemas
usai kaupacu detak jantung dan desir darahku
dari balik baju dan bercak2 merah di kusut kelambu
dan aku tahu itu pasti dari cakar2mu di deras peluhku
aku mengurai jiwaku setiap pipihan pedih
tertinggal di bawah bantal dan onggokt selimut
tersisa di laci2 nakas dan kolong ranjang
juga di kepulan asap dari kubangan puntung asbak kayu
aku menunggui isyarat langit
membawa kumpulan awan dan ribuan lembar mendung
bersama rinai berharap luruhkan segala hasratku
ku tunggui sampai tetes hujan yang terakhir
Kamis, 09 Februari 2012
Terimakasih, Guru
Nyaris tak mampu kusebut nama
engkau sang maha mengajar
pada tiap aksara ucap
pada tiap angka hitung
pada tiap suku kata dan kalimat
pada jajaran bilangan memusingkan kepala
Nyaris tak mampu kusebut nama
engkau sang maha mendidik
tentang arti baik dan buruk. ruang BP
tentang hitam dan merah. menjelma malam dan darah
tentang putih dan kuning. matahari
tentang pelangi usai hujan. mejikuhibiniu
Nyaris tak mampu kusebut nama
Engkau sang maha nasihat
di setiap jejak langkah kulalui
di setiap kekecewaan dan putus asa
di setiap amarah dan kedengkian hati
Lalu mencoba kusebut nama
tanpa harapmu. tanpa pamrihmu
seperti setia peluh di pengap kelas
seperti sabarmu tak berkesudahan
seperti serakmu. kami masih tak jua mengerti
Terimakasih. Guru
Jasamu tak terperi
Engkaulah pahlawan kami
Walau tanpa tanda jasa menghias di dadamu
(didedikasikan buat semua guru yang sudah, sedang dan akan mengajarkan apapun dalam kehidupan saya, Selamat Hari Guru)
engkau sang maha mengajar
pada tiap aksara ucap
pada tiap angka hitung
pada tiap suku kata dan kalimat
pada jajaran bilangan memusingkan kepala
Nyaris tak mampu kusebut nama
engkau sang maha mendidik
tentang arti baik dan buruk. ruang BP
tentang hitam dan merah. menjelma malam dan darah
tentang putih dan kuning. matahari
tentang pelangi usai hujan. mejikuhibiniu
Nyaris tak mampu kusebut nama
Engkau sang maha nasihat
di setiap jejak langkah kulalui
di setiap kekecewaan dan putus asa
di setiap amarah dan kedengkian hati
Lalu mencoba kusebut nama
tanpa harapmu. tanpa pamrihmu
seperti setia peluh di pengap kelas
seperti sabarmu tak berkesudahan
seperti serakmu. kami masih tak jua mengerti
Terimakasih. Guru
Jasamu tak terperi
Engkaulah pahlawan kami
Walau tanpa tanda jasa menghias di dadamu
(didedikasikan buat semua guru yang sudah, sedang dan akan mengajarkan apapun dalam kehidupan saya, Selamat Hari Guru)
Mengapa Aku?
mengapa aku?
menjadi sasaran lidah api
di jilat-jilat merah nan membara
sementara hati dan kepalaku telah pula memanas
memenjadi sasaran tembak
di desing pecah memecah senapan
sementara aku telah muntah timah-timah panas
mengapa aku?
menjadi air di pecah ombak
lunglai letih menopang lelah
sementara aku telah terbelah. terpecah
Lalu
mengapa masih aku?
menjadi sasaran lidah api
di jilat-jilat merah nan membara
sementara hati dan kepalaku telah pula memanas
memenjadi sasaran tembak
di desing pecah memecah senapan
sementara aku telah muntah timah-timah panas
mengapa aku?
menjadi air di pecah ombak
lunglai letih menopang lelah
sementara aku telah terbelah. terpecah
Lalu
mengapa masih aku?
Purnama sasih Kaenem
beberapa purnama kita lewati bersama
tak pernah sama
seperti kali ini
aku menanti. lebih
dalam pencarian terang
purnama sasih keenam
melukis mimpi-mimpi terpupus
di bebayang bias2 cahaya
terangi rongga langit
maka
tembuslah aku di dada, jantung dan hati
bagaimana kita mengenang laut
dalam bayangan jatuh tepi air
bagaimana kita mengenang angin
menerpa bahu.berlalu
di sela ranting dan daun
gemerisik. lalu sunyi
kali ini aku menanti
kesenyapan purnama penghias malam
sasih keenem
di sela wewangi dupa-dupa. semerbak
dan kumandang riuh doa-doa
melukis kembali jiwa-jiwa
dalam pencarian terang
dalam pencarian damai
jauh di dalam diri
maka kembalilah
tembus aku di dada, jantung dan hati
tak pernah sama
seperti kali ini
aku menanti. lebih
dalam pencarian terang
purnama sasih keenam
melukis mimpi-mimpi terpupus
di bebayang bias2 cahaya
terangi rongga langit
maka
tembuslah aku di dada, jantung dan hati
bagaimana kita mengenang laut
dalam bayangan jatuh tepi air
bagaimana kita mengenang angin
menerpa bahu.berlalu
di sela ranting dan daun
gemerisik. lalu sunyi
kali ini aku menanti
kesenyapan purnama penghias malam
sasih keenem
di sela wewangi dupa-dupa. semerbak
dan kumandang riuh doa-doa
melukis kembali jiwa-jiwa
dalam pencarian terang
dalam pencarian damai
jauh di dalam diri
maka kembalilah
tembus aku di dada, jantung dan hati
Kamel
sawat joh magenah tukad megantung
ngenjek nemonin sasih kaenem
kale ujane ulung bales beriokin langit
dauh abiyan tukad matine ngeloh
mesayuban di beten celagine nuduk lunak lengkong sabit
bungan jagung maseriak kuning gejergejer ampehang angin
tanah barak mesawang selem belus meambu padang
i kedis cerukcuk licitan ngucica liang paidepan
ngalap nasak buah intaran batu kukuk
lan, jalan
nguyeng tinjeh mabekel sopak
di punyan poh, punyah pungut
i teleba mengkeb ngumah ngalih amah
campur baan jagung ngude incuk megoreng
punduhang abun saang di puunapi
nunu payuk ngitukang ibuk krutuk kepuk. megandong
gula juruh ngiket pakeplugplug nyuryakin ujan
nundung dingin nadang manah ngantosin endang..
ngenjek nemonin sasih kaenem
kale ujane ulung bales beriokin langit
dauh abiyan tukad matine ngeloh
mesayuban di beten celagine nuduk lunak lengkong sabit
bungan jagung maseriak kuning gejergejer ampehang angin
tanah barak mesawang selem belus meambu padang
i kedis cerukcuk licitan ngucica liang paidepan
ngalap nasak buah intaran batu kukuk
lan, jalan
nguyeng tinjeh mabekel sopak
di punyan poh, punyah pungut
i teleba mengkeb ngumah ngalih amah
campur baan jagung ngude incuk megoreng
punduhang abun saang di puunapi
nunu payuk ngitukang ibuk krutuk kepuk. megandong
gula juruh ngiket pakeplugplug nyuryakin ujan
nundung dingin nadang manah ngantosin endang..
Entahlah
Jika mungkin tuk ku putar waktu,
akan kulakukan khusus pada hari ini
dimana saat pagi baru saja menyapaku
menyapaku penuh dengan keindahannya
tersenyum ramah dengan embun paginya
terdengar merdu kicau burung yg bertengger
di ranting2 bambu di belakang rumah...
bukanlah penyesalan dengan waktu yg berlalu
namun lebih kepada nikmat karunia
yg selalu berubah sebagai misteri yg penuh rencana
yg tak mungkin terkuak meski kucoba tuk memahaminya
namun hanya kekosongan dan kehampaan yg kunikmati
sebagai sebuah anugerah2 kecil yg ku syukuri
kemana ceria hari ini pergi
apa semua tergerus, terbang bersama sang bayu
dalam kebingungan mencari sebab
dari rasa yg begitu membuat gundah...
tentang arti semua yg terjadi hari ini
akan kulakukan khusus pada hari ini
dimana saat pagi baru saja menyapaku
menyapaku penuh dengan keindahannya
tersenyum ramah dengan embun paginya
terdengar merdu kicau burung yg bertengger
di ranting2 bambu di belakang rumah...
bukanlah penyesalan dengan waktu yg berlalu
namun lebih kepada nikmat karunia
yg selalu berubah sebagai misteri yg penuh rencana
yg tak mungkin terkuak meski kucoba tuk memahaminya
namun hanya kekosongan dan kehampaan yg kunikmati
sebagai sebuah anugerah2 kecil yg ku syukuri
kemana ceria hari ini pergi
apa semua tergerus, terbang bersama sang bayu
dalam kebingungan mencari sebab
dari rasa yg begitu membuat gundah...
tentang arti semua yg terjadi hari ini
Mencari Tuhan
Ada banyak alasan kenapa aku masih mencari-Nya. Di ambang batas penglihatan mata yang mampu ku tembus, kujajagi siapa tau aku bisa menemukan-Nya disana. Di setiap molekul2 dan sel yang masih mungkin ku amati dengan alat bantu pun tak kutemukan kalau Dia berada disana. Bukannya aku tak percaya kalau Dia itu ada. Hanya saja aku harus menceritakan kepada sahabat2ku bahwa aku telah menemukan-Nya di suatu tempat pada saatnya nanti.
Mungkin aku tidak sendirian mencarinya, mungkin saja ada banyak sekali orang2 yang sepertiku, yang mencari-Nya dengan segala daya upaya tuk mencoba tuk menemukan-Nya. Berbagai cara yang telah ditempuhi untuk sekedar melihatnya, tapi Dia memang belom ditemukan. Terkadang disaat lelah mencari, ku hubungi teman2 yang kebetulan sama2 mencari namun berada di belahan bumi yang lain, siapa tau sudah ditemukan, namun jawabannya masih sama denganku' masih dalam tahap pencarian" begitu katanya.
Lalu Dia ada dimana? Mengapa teman2ku yang kebetulan mempunyai rasa ingin tahu yang begitu kuat dan berada di seluruh penjuru dunia juga belum menemukan-Nya? Apakah memang dia tidak ada? Terus kalo memang benar tidak ada, lalu siapa yang membuat tatanan kehidupan yang telah kulihat selama ini, yang telah kunikmati sampai batas mata mampu memandanginya? Apa terjadi begitu saja? Rasanya gak mungkin sesuatu terjadi secara kebetulan. Apalagi terjadinya begitu saja......
Yang jelas, aku tetaplah akan terus mencari karena aku merasa bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk melakukannya, walaupun aku terkadang lelah dan perlu waktu untuk mengumpulkan tenaga, merubah strategi, bertanya dan apapun caranya, aku tetap harus mencari-Nya. Bukankah kesempatan untuk mencari tidak semua orang mau melakukannya walau itu memang selalu mungkin dilakukan oleh setiap orang.
Aku hanya tidak mau kembali lagi ke sini karena aku tak mampu menemukanNya
Semoga...
Mungkin aku tidak sendirian mencarinya, mungkin saja ada banyak sekali orang2 yang sepertiku, yang mencari-Nya dengan segala daya upaya tuk mencoba tuk menemukan-Nya. Berbagai cara yang telah ditempuhi untuk sekedar melihatnya, tapi Dia memang belom ditemukan. Terkadang disaat lelah mencari, ku hubungi teman2 yang kebetulan sama2 mencari namun berada di belahan bumi yang lain, siapa tau sudah ditemukan, namun jawabannya masih sama denganku' masih dalam tahap pencarian" begitu katanya.
Lalu Dia ada dimana? Mengapa teman2ku yang kebetulan mempunyai rasa ingin tahu yang begitu kuat dan berada di seluruh penjuru dunia juga belum menemukan-Nya? Apakah memang dia tidak ada? Terus kalo memang benar tidak ada, lalu siapa yang membuat tatanan kehidupan yang telah kulihat selama ini, yang telah kunikmati sampai batas mata mampu memandanginya? Apa terjadi begitu saja? Rasanya gak mungkin sesuatu terjadi secara kebetulan. Apalagi terjadinya begitu saja......
Yang jelas, aku tetaplah akan terus mencari karena aku merasa bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk melakukannya, walaupun aku terkadang lelah dan perlu waktu untuk mengumpulkan tenaga, merubah strategi, bertanya dan apapun caranya, aku tetap harus mencari-Nya. Bukankah kesempatan untuk mencari tidak semua orang mau melakukannya walau itu memang selalu mungkin dilakukan oleh setiap orang.
Aku hanya tidak mau kembali lagi ke sini karena aku tak mampu menemukanNya
Semoga...
Irama Pagi
Sesungguhnya pagi ini terasa dingin, tak seperti pagi2 sebelumnya,
tapi aku tak malas tuk beranjak dr bale2 bambu tempatku terbiasa menghabiskan malam,
diatas tikar pandan yg sudah mulai lusuh,
dtemani sepotong bantal kapuk tanpa sarungnya dan sepotong selimut batik yg warnanya mulai pudar,
Bergegas ku menuju tempayan air dengan gayung batok kelapa, membasuh wajahku tuk bersihkan jelaga yg menempel karena lampu minyak jarak yg selalu menerangi gelap pondokku, aahhh, segarnya pagi ini...
Selamat pagi kawan-kawanku semua, mari menikmati hari ini dengan hati yg damai...
tapi aku tak malas tuk beranjak dr bale2 bambu tempatku terbiasa menghabiskan malam,
diatas tikar pandan yg sudah mulai lusuh,
dtemani sepotong bantal kapuk tanpa sarungnya dan sepotong selimut batik yg warnanya mulai pudar,
Bergegas ku menuju tempayan air dengan gayung batok kelapa, membasuh wajahku tuk bersihkan jelaga yg menempel karena lampu minyak jarak yg selalu menerangi gelap pondokku, aahhh, segarnya pagi ini...
Selamat pagi kawan-kawanku semua, mari menikmati hari ini dengan hati yg damai...
Surat Terbuka buat Istriku
"Istriku, Kita memang sering berbicara, bercanda, saling ambulin, berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, kesibukan saat di kantor, hal2 yg terjadi dirumah, dibanjar, ngayahan regu, mekeneh meli kene keto tapi pis nu kejok, jek liu sajan, andai saja gak ada saatnya tuk tidur, pasti masih banyak hal yg akan kita bicarakan, bahkan 1001 malam pun mungkin gak akan cukup tuk kita berbicara apapun yg terlintas dalam benak kita masing-masing. malah aku sendiri yg sering curhat tentang masalah2 yg aku hadapi saat diperjalanan ke kantor maupun pulang kantor yg kadang2 ban motor kempes, motor gak mau distarter karena businya mati, remnya blong karena lupa ganti kampas rem bahkan sempat melewati genangan banjir karena habis hujan seharian. Dan hanya motor itu yg setia menemaniku dan jas hujan yg sudah robek di sana-sini. Paling hanya mampu menyelamatkan surat2 hutang yg tersimpan di tas kresek yg biasa kubawa ke mana-mana.
Tapi istriku, kenapa kita jarang berbicara tentang perasaan kita? Bagaimana perasaan km yg km rasakan jauh dalam hatimu? Meski kadang ku mulai tuk membicarakan gimana perasaanku, tapi km menanggapinya kadang menganggap semua itu gak serius dan gombal semata.
Tapi, percayalah. Mestinya km sudah tau bagaimana perasaanku sama km. Walau tak setiap hari bisa bersikap manis dan romantis, tapi aku tetaplah selalu menjadi suami yg baik buatmu. Tetap aku berusaha seperti itu. Jangan menilai aku dari apa yg tampak (demen mecande, senyum2 sendiri (bukan berarti buduh), tapi isi hatiku nu patuh jak waktu pertama kali kita bertemu di pagelaran wayang kulit di bale banjar malam itu. Saat itu, aku duduk di warung sambil minum segelas teh tawar karena hanya itu yang mampu aku beli, biar ada alasan duduk diwarung itu, dan km juga duduk di kursi plastik sambil makan rujak buah boni mecampur kedondong. Sungguh indah saat itu.
Jujur, aku ingin mengulang saat2 itu kembali bersamamu dalam segala keterbatasanku. Asal km tau istriku, dimanapun kita pernah melintas dulu, aku selalu suka mengenangnya, hanya saja aku gak mungkin selalu mengatakan seperti itu karena, km kurang menanggapi keseriusanku yg sering km anggap bercanda. Tapi, itu tidak apa-apa karena, perbedaan ini juga membuat hidup kita tampak lebih hidup.
Terimakasih istriku, km sudah menemaniku, mendampingiku sampai sejauh ini, walau tak selalu bisa aku ucapkan langsung dihadapanmu...
Tapi istriku, kenapa kita jarang berbicara tentang perasaan kita? Bagaimana perasaan km yg km rasakan jauh dalam hatimu? Meski kadang ku mulai tuk membicarakan gimana perasaanku, tapi km menanggapinya kadang menganggap semua itu gak serius dan gombal semata.
Tapi, percayalah. Mestinya km sudah tau bagaimana perasaanku sama km. Walau tak setiap hari bisa bersikap manis dan romantis, tapi aku tetaplah selalu menjadi suami yg baik buatmu. Tetap aku berusaha seperti itu. Jangan menilai aku dari apa yg tampak (demen mecande, senyum2 sendiri (bukan berarti buduh), tapi isi hatiku nu patuh jak waktu pertama kali kita bertemu di pagelaran wayang kulit di bale banjar malam itu. Saat itu, aku duduk di warung sambil minum segelas teh tawar karena hanya itu yang mampu aku beli, biar ada alasan duduk diwarung itu, dan km juga duduk di kursi plastik sambil makan rujak buah boni mecampur kedondong. Sungguh indah saat itu.
Jujur, aku ingin mengulang saat2 itu kembali bersamamu dalam segala keterbatasanku. Asal km tau istriku, dimanapun kita pernah melintas dulu, aku selalu suka mengenangnya, hanya saja aku gak mungkin selalu mengatakan seperti itu karena, km kurang menanggapi keseriusanku yg sering km anggap bercanda. Tapi, itu tidak apa-apa karena, perbedaan ini juga membuat hidup kita tampak lebih hidup.
Terimakasih istriku, km sudah menemaniku, mendampingiku sampai sejauh ini, walau tak selalu bisa aku ucapkan langsung dihadapanmu...
Jejak Langkah
Rafalkan bait2 yg tercipta dari rangkaian kata2 yg mewakili segenap rasa, jejakkan langkah pada setapak jalanan basah, asa masihlah tetap menjadi asa, usah dibenam bersama hujan, dia akan tumbuh dengan sendirinya bersama butiran2 benih yg matang usia, padi akan tetap tumbuh menjadi padi, ilalang juga tetap menjadi ilalang, walau pengharapan tuk menjadi padi terucap dlm keresahan, dia akan tetap tersemai sebagaimana kodratnya...
Hamparan ladang ilalang tetaplah menjadikan keindahannya tersendiri, kala kau lihat ribuan bunganya menghampar, tersikapi bersama angin yg menyeruak kebisuan, lambaian dedaunnya adalah ajakan, tuk membagi senyum kegetiran, gemerisiknya adalah nyanyian, yg termaknai dalam kekosongan, jika kelak tak kau temukan lagi cara tuk memaknai padang ilalang, ...
cobalah bangun pondok kecil dan menjadikannya sebagai pembatas pandangan langit, maknai dengan rasa, segenap keindahan masih mungkin tercipta bersama padang ilalang, yg tumbuh dalam kegersangan....
Petang telah bersambut kelam, langit masih diam dalam kebisuan, sementara awan tlah menjelma kabut, ilalang membisu bukanlah diam, hanya sejenak mematung kesenyapan, menunggu belalang terbang mendekat membawa dendang kegelisahan, yang lama terdiam bak batu pualam, datanglah lentera kunang2, terangilah sang penunggu malam, agar bintang yg berkelip terang, jadikan penentu arah langkah tujuan, dalam jarak yg kejauhan, tunjukkan indahmu walau tak benderang...
Belalang belum saja usai berdendang tembang malam, kunang2 belum redup kerlipkan terang, jika malam turun menjelang pagi dan ufuk tmur adalah pedoman pagi, belalang kecil telah kembali pulang, maka bosan adalah pengalih kata, maka harap adalah asa, maka jurang adalah gelombang surutnya, padang ilalang tak lagi gersang, awan adalah penjemput hujan, maka terlarik bait sajak berakhir kesabaran...
Ada malam yang ketakutan dengan siang, ada senja gelisah tergantikan pagi, rembulan menyepi saat tau mentari akan menyirnakan cahayanya, demikian pula mentari cemberut kesal saat tau dirinya tergantikan dlm gulita malam. Namun, kenapa ketakutan mesti memenjarakan angannya. Bukankah siang-malam, senja-pagi akan tetap memberi warna keindahannya sendiri-sendiri, sianglah yg akan menerangi bilik2 kamar, malamlah yg mengantarkan angin sejuk melewati kisi2 jendela kamar. Selalu berirama dalam ritme yg mengalun. Indah iramanya ataupun lembut mengalun, bahkan dalam tembang kesenduan akan tetap bisa dinikmati dengan kepekaan rasa...
Kelam sang malam, turun perlahan, berbait gundah, bersafir gelisah, kesunyian hanya dalam pikiran, berimajinasi dlm tarian jiwa, bergamelan tnpa pelog, tanpa selendro bahkan jauh dari solmisasi namun tetap dalam rel harmonisasi, jiwalah yg mengerti bahwa kidung hanyalah melodi hati, bahwa sajak adalah udara malam yg terhirup menghuni relung harapan....
Kupu2 bersayap kuning mengepakkan sayap kecilnya terbang menyisir angin, melupakan senja yang kian temaram, empat helai sayapnya menari-nari diantara udara dingin yg menerpa tubuhnya dlm kebekuan sepi, sesekali hinggap tuk tentukan arah terbang, apa mungkin tersisa madu selarut ini, sementara ludahnya terasa kecut bahkan cenderung kering, berharap mampu tuk lewati dingin malam kehausan, karena bunga yg dinantikan, tlah pergi ke peraduan, menjemput mimpi yang terbendung, menyiapkan mimpi tuk bekal esok menjemput pagi, menyapa embun tuk siarkan kabar bahwa malam berlalu dengan sempurna...
Hamparan ladang ilalang tetaplah menjadikan keindahannya tersendiri, kala kau lihat ribuan bunganya menghampar, tersikapi bersama angin yg menyeruak kebisuan, lambaian dedaunnya adalah ajakan, tuk membagi senyum kegetiran, gemerisiknya adalah nyanyian, yg termaknai dalam kekosongan, jika kelak tak kau temukan lagi cara tuk memaknai padang ilalang, ...
cobalah bangun pondok kecil dan menjadikannya sebagai pembatas pandangan langit, maknai dengan rasa, segenap keindahan masih mungkin tercipta bersama padang ilalang, yg tumbuh dalam kegersangan....
Petang telah bersambut kelam, langit masih diam dalam kebisuan, sementara awan tlah menjelma kabut, ilalang membisu bukanlah diam, hanya sejenak mematung kesenyapan, menunggu belalang terbang mendekat membawa dendang kegelisahan, yang lama terdiam bak batu pualam, datanglah lentera kunang2, terangilah sang penunggu malam, agar bintang yg berkelip terang, jadikan penentu arah langkah tujuan, dalam jarak yg kejauhan, tunjukkan indahmu walau tak benderang...
Belalang belum saja usai berdendang tembang malam, kunang2 belum redup kerlipkan terang, jika malam turun menjelang pagi dan ufuk tmur adalah pedoman pagi, belalang kecil telah kembali pulang, maka bosan adalah pengalih kata, maka harap adalah asa, maka jurang adalah gelombang surutnya, padang ilalang tak lagi gersang, awan adalah penjemput hujan, maka terlarik bait sajak berakhir kesabaran...
Ada malam yang ketakutan dengan siang, ada senja gelisah tergantikan pagi, rembulan menyepi saat tau mentari akan menyirnakan cahayanya, demikian pula mentari cemberut kesal saat tau dirinya tergantikan dlm gulita malam. Namun, kenapa ketakutan mesti memenjarakan angannya. Bukankah siang-malam, senja-pagi akan tetap memberi warna keindahannya sendiri-sendiri, sianglah yg akan menerangi bilik2 kamar, malamlah yg mengantarkan angin sejuk melewati kisi2 jendela kamar. Selalu berirama dalam ritme yg mengalun. Indah iramanya ataupun lembut mengalun, bahkan dalam tembang kesenduan akan tetap bisa dinikmati dengan kepekaan rasa...
Kelam sang malam, turun perlahan, berbait gundah, bersafir gelisah, kesunyian hanya dalam pikiran, berimajinasi dlm tarian jiwa, bergamelan tnpa pelog, tanpa selendro bahkan jauh dari solmisasi namun tetap dalam rel harmonisasi, jiwalah yg mengerti bahwa kidung hanyalah melodi hati, bahwa sajak adalah udara malam yg terhirup menghuni relung harapan....
Kupu2 bersayap kuning mengepakkan sayap kecilnya terbang menyisir angin, melupakan senja yang kian temaram, empat helai sayapnya menari-nari diantara udara dingin yg menerpa tubuhnya dlm kebekuan sepi, sesekali hinggap tuk tentukan arah terbang, apa mungkin tersisa madu selarut ini, sementara ludahnya terasa kecut bahkan cenderung kering, berharap mampu tuk lewati dingin malam kehausan, karena bunga yg dinantikan, tlah pergi ke peraduan, menjemput mimpi yang terbendung, menyiapkan mimpi tuk bekal esok menjemput pagi, menyapa embun tuk siarkan kabar bahwa malam berlalu dengan sempurna...
Bukan Ayah Lupa, Anakku
Sering ayah melupakan bahwa km itu hanya seorang anak kecil yang masih terbatas pada penalaran dan logika.
Aku, ayahmu terlalu banyak menuntutmu untuk bersikap seperti orang yg sudah besar dan berharap lebih untuk anak seusiamu.
Setiap ayah datang dari bekerja seharian, km menunggu ayah datang di balik pintu rumah, menyambut ayah dengan PR yang mesti ayah ajarkan cara menyelesaikannya. Ayah terlalu lelah anakku, sehingga sering PR-mu km kerjakan sendiri sementara ayah mesti menonton acara TV kesukaan ayah dan bahkan sering berebut remote TV karena kita mempunyai selera berbeda. Km malah sukanya nonton Spongebob yang sudah ratusan kali diputar namun km masih saja menyukainya. Bukan ayah lupa anakku, hanya ayah tak menyadarinya kalau kalian masih suka segala film kartun yg cocok dengan usiamu.
Anakku...
Menjelang km tidur, ayah lupa tuk membacakanmu dongeng si kancil dan buaya, dongeng tentang kura2 dan monyet, dongeng tentang kura2 dan dua ekor angsa dan masih banyak dongeng yang ayah tahu namun ayah tak menghantar tidurmu dengan dongeng2 itu. Bukan karena ayah lupa, ayah hanya tak menydarinya...Ayah terlalu sibuk dengan facebook dan twitter. Ayah juga mesti menjawab semua chatting di yahoo messenger yang online 24 jam.
Anakku...
Setiap pagi, saat km membuka kelopak matamu menyambut sinar mentari, km mencari ayah apa masih berada di sampingmu. Ayah tahu itu karena teriakanmu yang nyaring terdengar dari tempat ayah menikmati pagi dengan secangkir kopi pahit dan sebungkus rokok kesukaan ayah.
Ayah begitu menikmati pagi dengan cara ayah sendiri sambil memperbaharui status yg sudah basi kemarin di facebook dan twitter dengan status yang paling baru, sementara ibumu masih berkutat dengan sapu dan pengki yang penuh dengan sampah. Ayah masih memikirkan status apa yg mesti dibuat di jejaring sosial dan teriakanmu dari kamar tentu membuyarkan lamunan ayah tentang ide status itu. Bukan ayah lupa anakku, hanya tak menyadarinya kalau sarapan belum disiapkan dan air belum dipanaskan untuk mandi dan menyiapkan sekolahmu.
Anakku...
Ayah pasti terlalu keras padamu, saat km pulang sekolah, ayah minta jangan langsung bermain sementara seragammu masih melekat di badanmu, ayah membentakmu.
Saat mainanmu km berantakin, ayah membentakmu. Saat km gak mau makan, ayah juga membentakmu. Demikian pula saat siang km gak mau tidur siang, ayah masih tetap membentakmu. Maka km hanya punya satu hal untuk menyatakan rasa tidak terima dengan perlakuan ayah dengan tangismu. Hanya airmatamu yang mampu melawan ego ayah namun ayah tak terenyuh bukan karena ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadari kalau ayah terlalu keras mendidikmu.
Anakku...
Saat km jauh dari ayah, meninggalkanmu di sekolah. Menyaksikan semua lukisan abstrak di dinding rumah kita, melihat semua bonekamu yang tergeletak di semua tempat, mainanmu yang berserakan untuk membantu memainkan imajinasimu sebagai anak kecil, ayah merasa bersalah padamu. Ingin ayah minta maaf padamu nanti sepulang km dari sekolah. Namun bukan ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadarinya...
Aku, ayahmu terlalu banyak menuntutmu untuk bersikap seperti orang yg sudah besar dan berharap lebih untuk anak seusiamu.
Setiap ayah datang dari bekerja seharian, km menunggu ayah datang di balik pintu rumah, menyambut ayah dengan PR yang mesti ayah ajarkan cara menyelesaikannya. Ayah terlalu lelah anakku, sehingga sering PR-mu km kerjakan sendiri sementara ayah mesti menonton acara TV kesukaan ayah dan bahkan sering berebut remote TV karena kita mempunyai selera berbeda. Km malah sukanya nonton Spongebob yang sudah ratusan kali diputar namun km masih saja menyukainya. Bukan ayah lupa anakku, hanya ayah tak menyadarinya kalau kalian masih suka segala film kartun yg cocok dengan usiamu.
Anakku...
Menjelang km tidur, ayah lupa tuk membacakanmu dongeng si kancil dan buaya, dongeng tentang kura2 dan monyet, dongeng tentang kura2 dan dua ekor angsa dan masih banyak dongeng yang ayah tahu namun ayah tak menghantar tidurmu dengan dongeng2 itu. Bukan karena ayah lupa, ayah hanya tak menydarinya...Ayah terlalu sibuk dengan facebook dan twitter. Ayah juga mesti menjawab semua chatting di yahoo messenger yang online 24 jam.
Anakku...
Setiap pagi, saat km membuka kelopak matamu menyambut sinar mentari, km mencari ayah apa masih berada di sampingmu. Ayah tahu itu karena teriakanmu yang nyaring terdengar dari tempat ayah menikmati pagi dengan secangkir kopi pahit dan sebungkus rokok kesukaan ayah.
Ayah begitu menikmati pagi dengan cara ayah sendiri sambil memperbaharui status yg sudah basi kemarin di facebook dan twitter dengan status yang paling baru, sementara ibumu masih berkutat dengan sapu dan pengki yang penuh dengan sampah. Ayah masih memikirkan status apa yg mesti dibuat di jejaring sosial dan teriakanmu dari kamar tentu membuyarkan lamunan ayah tentang ide status itu. Bukan ayah lupa anakku, hanya tak menyadarinya kalau sarapan belum disiapkan dan air belum dipanaskan untuk mandi dan menyiapkan sekolahmu.
Anakku...
Ayah pasti terlalu keras padamu, saat km pulang sekolah, ayah minta jangan langsung bermain sementara seragammu masih melekat di badanmu, ayah membentakmu.
Saat mainanmu km berantakin, ayah membentakmu. Saat km gak mau makan, ayah juga membentakmu. Demikian pula saat siang km gak mau tidur siang, ayah masih tetap membentakmu. Maka km hanya punya satu hal untuk menyatakan rasa tidak terima dengan perlakuan ayah dengan tangismu. Hanya airmatamu yang mampu melawan ego ayah namun ayah tak terenyuh bukan karena ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadari kalau ayah terlalu keras mendidikmu.
Anakku...
Saat km jauh dari ayah, meninggalkanmu di sekolah. Menyaksikan semua lukisan abstrak di dinding rumah kita, melihat semua bonekamu yang tergeletak di semua tempat, mainanmu yang berserakan untuk membantu memainkan imajinasimu sebagai anak kecil, ayah merasa bersalah padamu. Ingin ayah minta maaf padamu nanti sepulang km dari sekolah. Namun bukan ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadarinya...
Prosa Belalang untuk Kunang-kunang
Masih segar dalam ingatanku beberapa tahun yang lalu saat kau tanyakan kemana perginya kunang2 setelah malam beranjak pagi. Desau angin di kedinginan usai temaram, sesaat setelah mentari pulang ke barat, membangunkan lelap binatang malam tak terkecuali serangga kecil yang mandiri di kegelapan, membawa lenteranya sendiri, menyeruak gulita menyibak bilah-bilah kepekatan malam.
Persahabatannya dengan seekor belalang yang kental diselingi riuh canda, kelakar tentang pagi dan senja, memberi arti tersendiri di setiap carut kehidupan yang dilaluinya. Walau belalang dan kunang-kunang adalah dua sahabat yang dipertemukan oleh masa dimana siang dan malam adalah berbeda namun penting baginya untuk masing-masing memberikan bait-bait makna pembentuk keindahan dari perbedaan itu sendiri.
Di saat belalang sibuk dengan aktifitasnya menghimpun ranting dan daun, sementara kunang-kunang sibuk dengan aktifitasnya menemukan jalan di setapak-setapak gelap, beberapa hal terlupakan. Sampai akhirnya...
Belalang begitu terkesiap dengan kabar bahwa kunang-kunang telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Tanpa ada pesan apapun tertinggalkan di pagi maupun senja, waktu yang biasa mereka selorohkan tuk bertegur sapa, selayak karib yang tak pernah bersua.
Lalu, belalang tak lagi bisa berucap sepatah katapun dengan kepergian kunang-kunang. Kesedihannya tercekat, tersangkut di kerongkongannya kering, lidahnyapun kelu membisu.
Nyaris, tak mampu merangkaikan kata tuk mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan untuk kunang-kunang sebagai sahabat dan adik yang sampai penghujung masanya tak pernah ada kesempatan mempertemukannya.
Hanya satu doa terpanjatkan, Semoga berjalan dengan tenang, bawalah lentera tuk terangi jalanmu seperti pertanyaan yang belum sempat terjawab, ke mana kunang-kunang pergi, setelah malam beranjak pagi.
...dedicated to lovely friend and lovely sister who had already rest in peace...Eka L.B (FB)
Persahabatannya dengan seekor belalang yang kental diselingi riuh canda, kelakar tentang pagi dan senja, memberi arti tersendiri di setiap carut kehidupan yang dilaluinya. Walau belalang dan kunang-kunang adalah dua sahabat yang dipertemukan oleh masa dimana siang dan malam adalah berbeda namun penting baginya untuk masing-masing memberikan bait-bait makna pembentuk keindahan dari perbedaan itu sendiri.
Di saat belalang sibuk dengan aktifitasnya menghimpun ranting dan daun, sementara kunang-kunang sibuk dengan aktifitasnya menemukan jalan di setapak-setapak gelap, beberapa hal terlupakan. Sampai akhirnya...
Belalang begitu terkesiap dengan kabar bahwa kunang-kunang telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Tanpa ada pesan apapun tertinggalkan di pagi maupun senja, waktu yang biasa mereka selorohkan tuk bertegur sapa, selayak karib yang tak pernah bersua.
Lalu, belalang tak lagi bisa berucap sepatah katapun dengan kepergian kunang-kunang. Kesedihannya tercekat, tersangkut di kerongkongannya kering, lidahnyapun kelu membisu.
Nyaris, tak mampu merangkaikan kata tuk mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan untuk kunang-kunang sebagai sahabat dan adik yang sampai penghujung masanya tak pernah ada kesempatan mempertemukannya.
Hanya satu doa terpanjatkan, Semoga berjalan dengan tenang, bawalah lentera tuk terangi jalanmu seperti pertanyaan yang belum sempat terjawab, ke mana kunang-kunang pergi, setelah malam beranjak pagi.
...dedicated to lovely friend and lovely sister who had already rest in peace...Eka L.B (FB)
Surga Bata Telanjang
Di pinggir jembatan sebuah sungai berarus deras, aku melihat surga. Sebuah surga yang sangat sederhana. Halamannya menyerupai garis sempadan sungai berhiaskan tanaman pisang, sebuah sepeda butut dan beberapa helai rumput yang tumbuh liar. Ku intip sejenak lantainya masih tanah yang dipadatkan, baik itu di teras maupun di kamar lainnya yang hanya berjumlah satu. Atap asbes yang disangga kayu-kayu bekas, menaungi pondok yang berdinding dinding telanjang batu bata.
Harmonis, mungkin itu kata yang tepat untuk ku gambarkan penghuninya. Dua ekor burung dalam sangkar sederhana ku lihat menggantung di rangka kayu teras, tiada henti bersiul mengimbangi dingin tadi pagi, sementara penghuninya sebuah keluarga dengan empat orang anak yang sedang beranjak remaja.
Sungguh sebuah keluarga yang sangat bersahaja. Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari menjual canang, mereka menghidupi 4 orang anak yang sedang menuntut ilmu, makan sehari-hari dan membayar sewa rumah. Apa mungkin?
Aku berpikir,mungkin rasa syukur adalah hal yang menjadikan mereka bahagia. Cobaan hidup membuat mereka kuat dan keuletan menjadikan mereka arif dan bijak menyikapi setiap keadaan yang harus dijalaninya.
Lalu, bagaimana dengan kita? Apa tidak mungkin menciptakan surga kita sendiri dengan situasi dan kondisi yang lebih baik dari surga bata telanjang?
Harmonis, mungkin itu kata yang tepat untuk ku gambarkan penghuninya. Dua ekor burung dalam sangkar sederhana ku lihat menggantung di rangka kayu teras, tiada henti bersiul mengimbangi dingin tadi pagi, sementara penghuninya sebuah keluarga dengan empat orang anak yang sedang beranjak remaja.
Sungguh sebuah keluarga yang sangat bersahaja. Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari menjual canang, mereka menghidupi 4 orang anak yang sedang menuntut ilmu, makan sehari-hari dan membayar sewa rumah. Apa mungkin?
Aku berpikir,mungkin rasa syukur adalah hal yang menjadikan mereka bahagia. Cobaan hidup membuat mereka kuat dan keuletan menjadikan mereka arif dan bijak menyikapi setiap keadaan yang harus dijalaninya.
Lalu, bagaimana dengan kita? Apa tidak mungkin menciptakan surga kita sendiri dengan situasi dan kondisi yang lebih baik dari surga bata telanjang?
Prahara Rumah Pasir
'Selamat Pak, istri Bapak positif hamil', kata dokter Kadek sambil menjabat tanganku di suatu sore, saat aku memeriksakan istriku di dokter umum. Ia ku ajak memeriksakan kesehatannya di tempat praktek dokter yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku.
Aku menyambut berita tersebut dengan senyum yang kupaksakan. Betapa tidak, berita dokter tentang kehamilan istriku seakan petir yang menyambarku, sesaat setelah dokter keluar dari ruang periksa sementara istriku masih di dalam ruangan tersebut.
Bukannya aku tidak mau punya anak lagi karena anakku sudah berjumlah empat orang, lengkap dengan jenis kelamin dua orang anak pertama dan kedua adalah perempuan dan anakku yang ketiga dan yang bungsu, keduanya laki-laki yang tentu saja telah melengkapi kebahagiaan keluargaku. Namun hal yang tak habis ku mengerti dan rasanya tidak masuk dalam akal sehatku juga, membuatku bertanya-tanya, apa mungkin aku bisa membuahi istriku lagi setelah aku memutuskan untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk ikut program KB sehubungan dengan program ajeg bali untuk memiliki maksimal empat orang anak dan sudah aku telah difasektomi!
Memang, fasektomi yang aku jalani, telah berjalan dua bulan setelah istriku melahirkan anakku yang paling bungsu, yang mana saat ini telah memasuki usia dua tahun tiga bulan.
Siapa yang salah, apa sesuatu telah terjadi denganku? Apa mungkin fasektomi yang aku jalani tidak berjalan dengan sempurna? Kalau memang iya, lalu kenapa baru sekarang istriku hamil?
Sejuta pertanyaan terus menggelayuti pikiranku. Ah, mana mungkin! Itu tidak mungkin. Aku percaya dengan istriku. Ia adalah seorang wanita yang sempurna di mataku, seorang ibu yang baik bagi keempat orang anakku dan seorang istri yang sepengetahuanku tak pernah neko-neko, selalu berbakti kepada suami dan tak pernah menunjukkan hal-hal yang membuatku hilang rasa percayaku padanya.
Dengan keberadaannya sekarang, apa semuanya masih tetap sama? Lalu, kehamilan istriku sekarang apakah sebuah bukti kegagalan program KB pemerintah, kesalahan dokter yang menanganiku, atau...ahhh.
Jujur, aku tak berani melanjutkan hipotesa yang berkecamuk dalam dadaku. Saat ini sebaiknya aku melahapnya sendiri dengan sejuta tanda tanya di kepalaku.
'Pak, Bapak!', tegur istriku yang tiba-tiba sudah berdiri disampingtempatku menungguinya sembari duduk termenung.
'Ayo pulang' Pak!' sergahnya seraya menggamit lenganku seusai menyelesaikan urusan administrasi dan menebus obat yang diserahkan dokter. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku beranjak bersama menuju kendaraan yang ku parkir di halaman rumah dokter, tak jauh dari tempat prakteknya. Ku pacu perlahan mobil yang kami tumpangi menuju rumah dalam kebungkaman kami masing-masing.
Rasanya detak jarum jam malam ini tak beranjak samasekali. Detik-detik yang kulalui lamban beranjak jadi menit. kantukpun tak jua bertandang menghampiri kedua mataku. Yang ada hanya gejolak tanda tanya yang menari-nari di pikiranku seolah mencari tahu apa yang telah terjadi hari ini. Sementara istriku kulihat telah terlelap beberapa saat setelah bantal guling terdekap erat dalam pelukannya. Ingin sekali aku membahas tentang ini semua dan mempertanyakan kehamilannya kali ini. Tapi, aku harus memulai percakapan darimana? Haruskah aku larut mengikuti arus didih darahku? Haruskah aku menuruti egoku dan memaksanya untuk bicara sesuatu yang sangat-sangat ingin aku dengar dari bibirnya. Aku butuh sebuah pengakuan.
Ya, sebuah pengakuan!
Namun, syukurnya usai ku tarik beberapa kali nafas panjang, aku masih bisa meredam gejolak perasaanku. Toh, masih ada hari esok dan aku perlu momen yang tepat untuk bisa membicarakannya dari hati ke hati tanpa harus membuat suasana semakin keruh dan mungkin saja akan mengundang curiga anak-anakku dengan keributan di tengah malam. Tidak, aku bukan type seorang suami dan ayah yang seperti itu. Aku memikirkan keempat anakku yang telah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing, saat tadi aku hampiri kamarnya begitu sampai di rumah sepulang dari dokter.
Kamarku terasa panas oleh sinar matahari. Entah sudah jam berapa sekarang, yang pasti, mataku masih terasa berat untuk ku buka. Rupanya aku baru bisa tertidur menjelang subuh. Syukurlah, walau hanya beberapa menit, aku sempat tertidur juga.
Rumah sudah agak lengang, hanya sesekali ku dengar suara si mbok, pembantu paruh baya yang berbicara dengan anakkua si bungsu; Caturdamar di ruang tengah, sementara istriku sudah berangkat ke kantornya dan ketiga anakku sudah berangkat ke sekolah.
Aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Rasanya malas sekali hari ini, disamping itu, kepalaku masih terasa agak berat.
Hari itu aku putuskan untuk bolos kerja. Aku masih memikirkan cara untuk memulai pembicaraan nanti dengan istriku tentang segala unek-unek yang ada di pikiranku. Ini harus dibicarakan. Semua mesti terbuka dan tak ada hal yang mesti disembunyikan, walau sepahit apapun kenyataan yang sebenarnya, aku mesti tahu kebenaran. Bukahkah dulu, saat aku meminangnya, kami telah berkomitmen bahwa pernikahan harus dilandasi sikap terbuka keduabelah pihak, sebagai pondasi awal membangun rumahtangga.
Sesaat usai mandi siang itu, aku berkemas hendak keluar rumah walau tanpa tujuan yang pasti, hanya sekedar untuk menyegarkan pikiranku. Aku tandaskan segelas kopi yang disiapkan oleh si mbok di meja makan dan ku cari kunci kontak mobilku tuk menemani perjalananku. Aku tak menemukannya. Aneh, biasanya aku meletakkannya di nakas samping tempat tidurku, kali ini tak ada disana. Ah, mungkin saja aku salah taruh, tapi setelah aku cari-cari di hampir seluruh pelosok kamar dan ruang tamu, aku masih tak menemukannya.
Baiknya, aku telepon istriku, tapi ponselnya tidak aktif. Aku putuskan untuk menghubungi kantornya.
'Diva wedding, selamat siang! Ada yang bisa kami bantu?', suara renyah sekretaris di kantor istriku bekerja menyambut suaraku dari seberang.
'Ya, selamat siang. Bu Diva ada?,tanyaku tanpa basa-basi.
'Oh maaf, Bu Diva belom datang. Ini dari siapa?'
Langsung saja ku tutup sambungan ponselku tanpa memberikan jawaban untuk sekretaris itu. Ini agak aneh menurutku. Ke mana perginya istriku dari tadi pagi. Di kantornya tidak ada, bahkan ponselnya pun tidak aktif.
Akhirnya, aku menunggangi motor CBR hitamku dan ku pacu bak kesetanan membelah hiruk pikuk lalu-lintas jalanan siang itu.
*********************
Di sebuah tikungan tajam nan menukik, ku lihat kerumunan orang- di pinggir jalan. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Sebuah mobil sedan warna hitam....whatttt??? Bukankah itu mobil yang dikendarai istriku tadi pagi? Kenapa gerangan ada disana? Dan..kondisinya remuk di bagian bemper kiri depan. Mendadak sontak, aku jadi panik. Ya ampun...apa yang telah terjadi? Apa yang telah menimpa istriku?
Aku bertanya kepada setiap orang yang berada di sana tentang keberadaan pengemudi mobil itu. Namun tak ku dapatkan jawaban yang pasti. Aku semakin bingung. Nyaris semua yang ku tanyai, tak tahu pasti kejadian yang sebenarnya. Beruntung ada polisi lalu-lintas yang ku tanyai, aku akhirnya mendapat kepastian tentang keberadaan Diva, istriku yang telah dilarikan di sebuah rumah sakit yang berjarak tempuh 30 menit, tak begitu jauh dari tempat kejadian itu.
"Maaf Pak, kami sedang menangani istri Bapak. Silakan bersabar dan menunggu di luar," cegah perawat sambil menenangkanku dan membimbingku keluar dari ruangan UGD.
Perasaanku bercampur aduk, bagaimana tidak, aku tak terima dengan semua ini dan aku, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Andai saja aku bisa mengelola sedikit egoku, seandainya saja aku bisa bangun lebih pagi dan menyapanya seperti biasa, andai saja...ahhhh...ku hela nafasku sendiri untuk menenangkan perasaan ini.
"Istri Bapak mengalami pendarahan, dan dokter sedang melakukan upaya penyelamatan untuk bayi Bapak, namun maaf, kami tak berhasil," dokter menghampiriku setelah sekian lama aku menunggu kabar tentang keberadaan istriku.
"Silakan Bapak menemuinya, dan jangan diajak berbicara terlalu banyak," sambung dokter lagi sambil berlalu dari hadapanku.
Ku kumpulkan sejenak pikiran yang semrawut, kusut dan sisa-sisa tenaga yang terkuras oleh kekhawatiranku. Aku berlalu dari ruang tunggu menuju tempat istriku terbaring lemas.
"Maafkan aku Pak'" lirih istriku serupa bisikan, sesaat setelah aku ada di samping tempat tidurnya. Airmatanya menggenang di ekor matanya yang masih terpejam. Luluh, luruh semua kecamuk riuh dan gundah yang menyelimuti hatiku.
"Ssst,..., jangan diteruskan Bu'" sergahku sambil meletakkan telunjuk di bibirnya yang mungil.
"Aku sudah memaafkanmu Bu,"
"Apapun kesalahanmu, tanpa harus dijelaskan apapun itu, aku telah memaafkanmu" lanjutku.
"Setiap manusia, pasti ada khilaf, pasti ada kesalahan, entah itu besar atau pun kecil, yang penting Ibu telah menyadari yang mana salah, yang mana benar," tandasku sambil ku elus lembut anak rambutnya dan ku kecup pelan di keningnya.
Rasanya aku begitu lega. Ya, lega karena istriku telah mengakui kesalahannya walau hanya dengan sebuah kata maaf. Bagiku, memaafkannya adalah sebuah usaha untuk melepaskan diri dari kekang tali kebencian dan kemarahan. Dan aku percaya, manusia tak ada yang sempurna, luput dari salah dan dosa termasuk aku, diriku sendiri.#0#
Aku menyambut berita tersebut dengan senyum yang kupaksakan. Betapa tidak, berita dokter tentang kehamilan istriku seakan petir yang menyambarku, sesaat setelah dokter keluar dari ruang periksa sementara istriku masih di dalam ruangan tersebut.
Bukannya aku tidak mau punya anak lagi karena anakku sudah berjumlah empat orang, lengkap dengan jenis kelamin dua orang anak pertama dan kedua adalah perempuan dan anakku yang ketiga dan yang bungsu, keduanya laki-laki yang tentu saja telah melengkapi kebahagiaan keluargaku. Namun hal yang tak habis ku mengerti dan rasanya tidak masuk dalam akal sehatku juga, membuatku bertanya-tanya, apa mungkin aku bisa membuahi istriku lagi setelah aku memutuskan untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk ikut program KB sehubungan dengan program ajeg bali untuk memiliki maksimal empat orang anak dan sudah aku telah difasektomi!
Memang, fasektomi yang aku jalani, telah berjalan dua bulan setelah istriku melahirkan anakku yang paling bungsu, yang mana saat ini telah memasuki usia dua tahun tiga bulan.
Siapa yang salah, apa sesuatu telah terjadi denganku? Apa mungkin fasektomi yang aku jalani tidak berjalan dengan sempurna? Kalau memang iya, lalu kenapa baru sekarang istriku hamil?
Sejuta pertanyaan terus menggelayuti pikiranku. Ah, mana mungkin! Itu tidak mungkin. Aku percaya dengan istriku. Ia adalah seorang wanita yang sempurna di mataku, seorang ibu yang baik bagi keempat orang anakku dan seorang istri yang sepengetahuanku tak pernah neko-neko, selalu berbakti kepada suami dan tak pernah menunjukkan hal-hal yang membuatku hilang rasa percayaku padanya.
Dengan keberadaannya sekarang, apa semuanya masih tetap sama? Lalu, kehamilan istriku sekarang apakah sebuah bukti kegagalan program KB pemerintah, kesalahan dokter yang menanganiku, atau...ahhh.
Jujur, aku tak berani melanjutkan hipotesa yang berkecamuk dalam dadaku. Saat ini sebaiknya aku melahapnya sendiri dengan sejuta tanda tanya di kepalaku.
'Pak, Bapak!', tegur istriku yang tiba-tiba sudah berdiri disampingtempatku menungguinya sembari duduk termenung.
'Ayo pulang' Pak!' sergahnya seraya menggamit lenganku seusai menyelesaikan urusan administrasi dan menebus obat yang diserahkan dokter. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku beranjak bersama menuju kendaraan yang ku parkir di halaman rumah dokter, tak jauh dari tempat prakteknya. Ku pacu perlahan mobil yang kami tumpangi menuju rumah dalam kebungkaman kami masing-masing.
Rasanya detak jarum jam malam ini tak beranjak samasekali. Detik-detik yang kulalui lamban beranjak jadi menit. kantukpun tak jua bertandang menghampiri kedua mataku. Yang ada hanya gejolak tanda tanya yang menari-nari di pikiranku seolah mencari tahu apa yang telah terjadi hari ini. Sementara istriku kulihat telah terlelap beberapa saat setelah bantal guling terdekap erat dalam pelukannya. Ingin sekali aku membahas tentang ini semua dan mempertanyakan kehamilannya kali ini. Tapi, aku harus memulai percakapan darimana? Haruskah aku larut mengikuti arus didih darahku? Haruskah aku menuruti egoku dan memaksanya untuk bicara sesuatu yang sangat-sangat ingin aku dengar dari bibirnya. Aku butuh sebuah pengakuan.
Ya, sebuah pengakuan!
Namun, syukurnya usai ku tarik beberapa kali nafas panjang, aku masih bisa meredam gejolak perasaanku. Toh, masih ada hari esok dan aku perlu momen yang tepat untuk bisa membicarakannya dari hati ke hati tanpa harus membuat suasana semakin keruh dan mungkin saja akan mengundang curiga anak-anakku dengan keributan di tengah malam. Tidak, aku bukan type seorang suami dan ayah yang seperti itu. Aku memikirkan keempat anakku yang telah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing, saat tadi aku hampiri kamarnya begitu sampai di rumah sepulang dari dokter.
Kamarku terasa panas oleh sinar matahari. Entah sudah jam berapa sekarang, yang pasti, mataku masih terasa berat untuk ku buka. Rupanya aku baru bisa tertidur menjelang subuh. Syukurlah, walau hanya beberapa menit, aku sempat tertidur juga.
Rumah sudah agak lengang, hanya sesekali ku dengar suara si mbok, pembantu paruh baya yang berbicara dengan anakkua si bungsu; Caturdamar di ruang tengah, sementara istriku sudah berangkat ke kantornya dan ketiga anakku sudah berangkat ke sekolah.
Aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Rasanya malas sekali hari ini, disamping itu, kepalaku masih terasa agak berat.
Hari itu aku putuskan untuk bolos kerja. Aku masih memikirkan cara untuk memulai pembicaraan nanti dengan istriku tentang segala unek-unek yang ada di pikiranku. Ini harus dibicarakan. Semua mesti terbuka dan tak ada hal yang mesti disembunyikan, walau sepahit apapun kenyataan yang sebenarnya, aku mesti tahu kebenaran. Bukahkah dulu, saat aku meminangnya, kami telah berkomitmen bahwa pernikahan harus dilandasi sikap terbuka keduabelah pihak, sebagai pondasi awal membangun rumahtangga.
Sesaat usai mandi siang itu, aku berkemas hendak keluar rumah walau tanpa tujuan yang pasti, hanya sekedar untuk menyegarkan pikiranku. Aku tandaskan segelas kopi yang disiapkan oleh si mbok di meja makan dan ku cari kunci kontak mobilku tuk menemani perjalananku. Aku tak menemukannya. Aneh, biasanya aku meletakkannya di nakas samping tempat tidurku, kali ini tak ada disana. Ah, mungkin saja aku salah taruh, tapi setelah aku cari-cari di hampir seluruh pelosok kamar dan ruang tamu, aku masih tak menemukannya.
Baiknya, aku telepon istriku, tapi ponselnya tidak aktif. Aku putuskan untuk menghubungi kantornya.
'Diva wedding, selamat siang! Ada yang bisa kami bantu?', suara renyah sekretaris di kantor istriku bekerja menyambut suaraku dari seberang.
'Ya, selamat siang. Bu Diva ada?,tanyaku tanpa basa-basi.
'Oh maaf, Bu Diva belom datang. Ini dari siapa?'
Langsung saja ku tutup sambungan ponselku tanpa memberikan jawaban untuk sekretaris itu. Ini agak aneh menurutku. Ke mana perginya istriku dari tadi pagi. Di kantornya tidak ada, bahkan ponselnya pun tidak aktif.
Akhirnya, aku menunggangi motor CBR hitamku dan ku pacu bak kesetanan membelah hiruk pikuk lalu-lintas jalanan siang itu.
*********************
Di sebuah tikungan tajam nan menukik, ku lihat kerumunan orang- di pinggir jalan. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Sebuah mobil sedan warna hitam....whatttt??? Bukankah itu mobil yang dikendarai istriku tadi pagi? Kenapa gerangan ada disana? Dan..kondisinya remuk di bagian bemper kiri depan. Mendadak sontak, aku jadi panik. Ya ampun...apa yang telah terjadi? Apa yang telah menimpa istriku?
Aku bertanya kepada setiap orang yang berada di sana tentang keberadaan pengemudi mobil itu. Namun tak ku dapatkan jawaban yang pasti. Aku semakin bingung. Nyaris semua yang ku tanyai, tak tahu pasti kejadian yang sebenarnya. Beruntung ada polisi lalu-lintas yang ku tanyai, aku akhirnya mendapat kepastian tentang keberadaan Diva, istriku yang telah dilarikan di sebuah rumah sakit yang berjarak tempuh 30 menit, tak begitu jauh dari tempat kejadian itu.
"Maaf Pak, kami sedang menangani istri Bapak. Silakan bersabar dan menunggu di luar," cegah perawat sambil menenangkanku dan membimbingku keluar dari ruangan UGD.
Perasaanku bercampur aduk, bagaimana tidak, aku tak terima dengan semua ini dan aku, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Andai saja aku bisa mengelola sedikit egoku, seandainya saja aku bisa bangun lebih pagi dan menyapanya seperti biasa, andai saja...ahhhh...ku hela nafasku sendiri untuk menenangkan perasaan ini.
"Istri Bapak mengalami pendarahan, dan dokter sedang melakukan upaya penyelamatan untuk bayi Bapak, namun maaf, kami tak berhasil," dokter menghampiriku setelah sekian lama aku menunggu kabar tentang keberadaan istriku.
"Silakan Bapak menemuinya, dan jangan diajak berbicara terlalu banyak," sambung dokter lagi sambil berlalu dari hadapanku.
Ku kumpulkan sejenak pikiran yang semrawut, kusut dan sisa-sisa tenaga yang terkuras oleh kekhawatiranku. Aku berlalu dari ruang tunggu menuju tempat istriku terbaring lemas.
"Maafkan aku Pak'" lirih istriku serupa bisikan, sesaat setelah aku ada di samping tempat tidurnya. Airmatanya menggenang di ekor matanya yang masih terpejam. Luluh, luruh semua kecamuk riuh dan gundah yang menyelimuti hatiku.
"Ssst,..., jangan diteruskan Bu'" sergahku sambil meletakkan telunjuk di bibirnya yang mungil.
"Aku sudah memaafkanmu Bu,"
"Apapun kesalahanmu, tanpa harus dijelaskan apapun itu, aku telah memaafkanmu" lanjutku.
"Setiap manusia, pasti ada khilaf, pasti ada kesalahan, entah itu besar atau pun kecil, yang penting Ibu telah menyadari yang mana salah, yang mana benar," tandasku sambil ku elus lembut anak rambutnya dan ku kecup pelan di keningnya.
Rasanya aku begitu lega. Ya, lega karena istriku telah mengakui kesalahannya walau hanya dengan sebuah kata maaf. Bagiku, memaafkannya adalah sebuah usaha untuk melepaskan diri dari kekang tali kebencian dan kemarahan. Dan aku percaya, manusia tak ada yang sempurna, luput dari salah dan dosa termasuk aku, diriku sendiri.#0#
Sesuatu
Cinta itu memang sulit untuk dimengerti, sulit juga tuk di fahami dengan nalar dan logika, namun cinta tetaplah adalah sebuah anugerah yg disyukuri kehadirannya walau dalam waktu yg tidak sempurna. entahlah apa yg akan terjadi nantinya, kita hanya bisa menikmati segala keagungan dari cinta itu dan menari diatas riak2nya bersama kehidupan ini sendiri. kadang cinta begitu indah mengalunkan melody yg indah, kadang juga cinta dinikmati dengan cucuran air mata, karena cinta tak pernah menjanjikan keindahan, cinta juga memberikan kesedihan saat dia mengalun sendu. maka jika pribahasa tentang "jika takut dilimbur pasang jangan berumah di tepi pantai' akan memberikan kesan bahwa, jika kita takut untuk menhadapi irama cinta yg terkadang membawamu dalam kesedihan dan berharap akan sesuatu yg selalu bahagia, bukanlah cinta namanya, namun hanya sebuah kesenangan belaka.
Jelas aku gak bisa menjanjikan sesuatu yg akan selalu membuatmu bahagia dengan cinta ini, karena aku bukan sesuatu yg sempurna. jika km bisa berbahagia dengan cinta ini, demikian juga aku. cinta ini penuh keterbatasan dan kita sama2 mengerti keadaannya dan semoga itu gak akan membuat kita bersedih ataupun kecewa.
Semoga apa yg telah dimulai andaipun akan berakhir, berakhirlah dengan indah, bukan sebaliknya.
Jelas aku gak bisa menjanjikan sesuatu yg akan selalu membuatmu bahagia dengan cinta ini, karena aku bukan sesuatu yg sempurna. jika km bisa berbahagia dengan cinta ini, demikian juga aku. cinta ini penuh keterbatasan dan kita sama2 mengerti keadaannya dan semoga itu gak akan membuat kita bersedih ataupun kecewa.
Semoga apa yg telah dimulai andaipun akan berakhir, berakhirlah dengan indah, bukan sebaliknya.
Pati Kaplug (Prosa Bali)
"Man, sing ngidang mulih?", petakon ane biasa katakonang kala ketemu timpal-timpale di perantauan.
"Jumah ngodalin di Bale Agung,"
Sebet tanpesaut.
Inguh bayune mepunduh.
Liu timpal-timpale pade ngurimik. Ada ane ngorahang engsap tekening kawitan, ade ane nyambatang sombong lan ada masih ane ngorahang ajum.
Nyak sekadi sesonggane ane mamunyi sekadi bukite ejohin wiyakti katon rawit. Sujatine singa ade ape de.
Kadi mejalan nepukin pempatan, encen jalane sane pinih utama. Encen tetujone sane pinih becik. Kenehe kasaputin baan ambu, uyang atine ngetor naenang dingin rasa kadi kilangan tungguh bayu.
Angine ngesisir ngampehang sekancan keneh. Bengong nungkulang idep. Jiwa premana ngumbara loka.
Nyen ane nawang isin ati?
Bibihe setate bisa nampedang kenyem, kewala cumpu, ragu ngungkulin padewekan.
Jengah kangene meadukan di polo.
Tetep, bibihe caket tanpe munyi.
"Jumah ngodalin di Bale Agung,"
Sebet tanpesaut.
Inguh bayune mepunduh.
Liu timpal-timpale pade ngurimik. Ada ane ngorahang engsap tekening kawitan, ade ane nyambatang sombong lan ada masih ane ngorahang ajum.
Nyak sekadi sesonggane ane mamunyi sekadi bukite ejohin wiyakti katon rawit. Sujatine singa ade ape de.
Kadi mejalan nepukin pempatan, encen jalane sane pinih utama. Encen tetujone sane pinih becik. Kenehe kasaputin baan ambu, uyang atine ngetor naenang dingin rasa kadi kilangan tungguh bayu.
Angine ngesisir ngampehang sekancan keneh. Bengong nungkulang idep. Jiwa premana ngumbara loka.
Nyen ane nawang isin ati?
Bibihe setate bisa nampedang kenyem, kewala cumpu, ragu ngungkulin padewekan.
Jengah kangene meadukan di polo.
Tetep, bibihe caket tanpe munyi.
Pasung
"Gila!"
"Gilaaa!" "Dia sudah gila!" teriak orang-orang riuh sambil mengelilingiku. Aku merasa ketakutan sekali. Beberapa diantara mereka memegangi tanganku. Ada juga yang memegang pundakku. Aku diperlakukan bak seorang pesakitan tanpa ku ketahui apa yang merasuki mereka sehingga bertindak brutal seperti itu.
"Pasung!!"
"Pasuuung!!", teriakan mereka semakin keras memekik saat mereka telah memegangi kedua kakiku. Aku panik dan hanya bisa meronta-ronta sekuat tenaga. Aku tak terima, sumpah. Aku berusaha melawan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki namun semua itu sia-sia belaka. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk membela diri. Semakin aku berusaha melawan, semakin garang mereka membekukku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menghantam tengkukku dan seketika itu juga suara riuh dan teriakan orang-orang di sekitarku lenyap dan penglihatanku nanar, hilang dan sepi.
Aku seperti terbangun dari sebuah tidur panjang dengan mimpi buruk yang sangat seram. saat aku pulih dengan kondisiku, kudapati kedua kakiku terikat pada sebuah rantai besi dimana pergelangan kakiku masuk di lobang papan dengan gembok. Ya, benar. Aku sadar bahwa teriakan orang-orang tadi bukanlah mimpi. Kedua kakiku telah terpasung.
Berulangkali aku mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang mengawali semua ini, kenapa orang-orang begitu membenciku, termasuk keluargaku. Yang aku ingat hanya saat anak lelaki satu-satunya menangis dipelukan ibunya yang berteriak histeris membelaku, namun orang-orang mulai berdatangan mengelilingiku dan meneriakiku dengan kata-kata gila. Sementara aku sendiri tak mampu mengingat hal-hal lain.
Aku berpikir, apakah aku benar-benar gila? Lalu jika benar demikian, apakah mereka waras? Apakah mereka lebih waras daripada aku dengan memperlakukanku dengan sangat kasar tanpa perikemanusiaan?
Aku hanya mampu terdiam. Tak ada gunanya membela diri. Apapun yang aku katakan tak ada yang mau mempercayainya. Aku terima saja bahwa aku mungkin benar telah gila.
Namun aku masih mencari sebuah jawaban tentang perbedaan orang gila dengan orang waras sesuai difinisiku sendiri. Mencari kebenaran! Itulah yang menjadi misiku saat ini.
Aku dipasung di sebuah gubuk kecil, tak jauh dari rumahku, di atas sebuah dipan kayu berlantaikan tanah. Dindingnya pun hanya terbuat dari anyaman bambu kasar yang dibentuk sekenanya. Atapnya terbuat dari atap seng dimana saat hujan suaranya sangat ribut oleh gempuran hujan dan saat cuaca terik, aku sangat kegerahan. Hanya sebuah sarung lusuh dan sebuah piring plastik dan mug kecil sebagai harta milikku yang paling berharga saat ini. Sehari sekali, bergantian anggota keluargaku datang untuk mengantarkan ransum buatku. Aku lebih sering tak menyentuhnya dan malahan hanya menjadi santapan serangga dan tikus yang bertandang ke gubukku.
Aku rindu anak semata wayangku. Aku kangen istriku. Namun aku tak mampu menemui mereka walau hanya untuk melihatnya saja. Kerinduan seorang ayah dan seorang suami yang sangat naluriah, namun aku yakin, keluargaku telah meracuni pikiran mereka bahwa aku sudah benar-benar gila tanpa diberi kesempatan untuk menemuiku lagi. Aku meratapi sepi, berkeluh pada siang dan malam dengan kejadian yang menimpaku.
Aku hanya bisa pasrah, sama pasrahnya dengan ikhlasku saat beberapa tahun istriku pulang ke rumahnya dan menikah lagi dengan orang lain tanpa persetujuanku, tanpa proses perceraian yang semestinya, sementara anakku diasuh oleh anggota keluargaku yang lain. Sama seperti saat-saat sebelumnya, aku tak mampu mempertahankan hak-hakku dan membela diriku sendiri.
Hancur.
Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku.
Aku dibawa oleh anggota keluargaku ke suatu tempat, dipindahkan ke tempat lain yang aku sendiri tak diberitahu sebelumnya. Aku hanya mengikutinya saat sebuah kendaraan telah dipersiapkan untuk membawaku di suatu pagi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, aku tiba di sebuah tempat.
Rumah Sakit Jiwa Kabupaten Bangli!
Pasrah mungkin lebih baik bagiku untuk saat ini. Ya, setidaknya aku bisa berharap agar aku diperlakukan lebih baik, lebih manusiawi di sini. Setidaknya, aku bisa bebas melangkahkan kaki kurus ini yang telah bertahun-tahun tak pernah kupakai sesuai fungsinya, tanpa pasung dan rantai besi yang mengikatnya. Tanpa harus merasa was-was, tanpa tekanan dari siapapun bersama orang-orang yang senasib denganku. Aku melihat begitu banyak orang yang bernasib sama denganku, entah mereka benar-benar gila atau hanya sebuah kata lain dari pengasingan keluarga untuk mempertahankan citranya di masyarakat bahwa mereka masih memiliki nama baik terlepas dari ada anggota keluarganya yang berbeda dari lazimnya hidup bermasyarakat. Entahlah mereka pernah memikirkan bahwa aku, dan orang-orang yang kurang beruntung untuk hidup normal adalah manusia juga yang memiliki hak hidup sesuai hak asasi manusia.
Bertahun-tahun telah berlalu dan tak pernah ada satu pun keluargaku yang pernah datang menjenguk keadaanku. Rupanya dulu itu adalah saat pertama dan terakhir kalinya bagiku untuk melihat anggota keluargaku. Aku selama ini telah mampu hidup normal di tempat ini. Para pegawai rumah sakit, dokter dan teman-temanku yang dirawat disini memperlakukanku jauh lebih baik dari keluargaku. Aku dianggap sebagai manusia. Ya, sebagai manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan, memaklumi keadaanku sama seperti aku memaklumi orang-orang di sekitarku.
Suatu ketika, aku bertemu seseorang dari kampungku. Walau bukan keluargaku, tapi aku merasakan siraman air kerinduan akan kampung halamanku. Aku ketahui namanya Wayan dan kedatangannya ke rumah sakit ini karena ada anggota keluarganya yang nyaris bernasib sama denganku.
“Bli sangat ingin bertemu dengan keluargaku”, kataku membuka perbincangan.
“Sudah bertahun-tahun Bli ada di sini, tak pernah ada orang yang ingin tahu keadaan Bli disini”.
“Bli merasa bahwa Bli akan menghabiskan sisa hidup di tempat ini”.
“Andai saja Wayan tau, betapa kerinduan akan kampung halaman, betapa kerinduan akan anak Bli telah menguras airmata dan mengeringkan hati Bli selama di sini”.
“Entahlah sudah berapa usia anak Bli sekarang”.
“Entahlah sudah berkeluargakah ia atau bahkan Bli mungkin sudah memiliki cucu”.
Aku tak dapat menyembunyikan sejuta kesedihanku. Mulutku terasa kering dan tak ada suara lagi yang mampu ku ucapkan. Aku lihat juga Wayan terdiam tanpa menjawab apapun, malah aku melihat ia merasakan kepedihanku dari raut muka dan matanya yang mulai sembab dan berkaca-kaca.
“Terimakasih Wayan sudah menemui Bli di sini”.
“Jika Wayan pulang, tolong sampaikan kepada anak Bli, bahwa Aku; Bapaknya masih hidup”, itulah kalimat terakhir yang mampu kusampaikan dan aku beranjak dari tempatku agar aku tak membuatnya semakin larut dalam kesedihanku.
Aku melanjutkan hidupku seperti biasanya walau beberapa pertanyaan sering mengganggu pikiranku.
Adakah orang yang masih peduli dengan hidupku? Apakah itu keluargaku? Apakah itu anakku?
Adakah orang yang akan menebusku dari tempat ini?
Kusembunyikan sejuta harapan untuk bisa kembali pulang suatu saat nanti. Tapi walau aku tak yakin aku bisa pulang, tapi aku percaya, suatu saat aku akan pulang. Ya, aku pasti pulang ke alam yang semestinya aku berada. Aku serahkan segalanya pada Tuhan. Andaipun aku pulang kampung hanya dengan jasadku, aku ikhlas. Yang aku tau, aku menjalani kehidupan ini dalam ketebatasan ruangku, dalam pasung kehidupan yang mesti kujalani dengan segenap kepasrahan dan keikhlasan hati. Entah sampai kapan harus terpasung dalam ketidakberdayaan dan terbuang dari kehidupan yang sesungguhnya.
#o0o#
"Gilaaa!" "Dia sudah gila!" teriak orang-orang riuh sambil mengelilingiku. Aku merasa ketakutan sekali. Beberapa diantara mereka memegangi tanganku. Ada juga yang memegang pundakku. Aku diperlakukan bak seorang pesakitan tanpa ku ketahui apa yang merasuki mereka sehingga bertindak brutal seperti itu.
"Pasung!!"
"Pasuuung!!", teriakan mereka semakin keras memekik saat mereka telah memegangi kedua kakiku. Aku panik dan hanya bisa meronta-ronta sekuat tenaga. Aku tak terima, sumpah. Aku berusaha melawan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki namun semua itu sia-sia belaka. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk membela diri. Semakin aku berusaha melawan, semakin garang mereka membekukku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menghantam tengkukku dan seketika itu juga suara riuh dan teriakan orang-orang di sekitarku lenyap dan penglihatanku nanar, hilang dan sepi.
Aku seperti terbangun dari sebuah tidur panjang dengan mimpi buruk yang sangat seram. saat aku pulih dengan kondisiku, kudapati kedua kakiku terikat pada sebuah rantai besi dimana pergelangan kakiku masuk di lobang papan dengan gembok. Ya, benar. Aku sadar bahwa teriakan orang-orang tadi bukanlah mimpi. Kedua kakiku telah terpasung.
Berulangkali aku mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang mengawali semua ini, kenapa orang-orang begitu membenciku, termasuk keluargaku. Yang aku ingat hanya saat anak lelaki satu-satunya menangis dipelukan ibunya yang berteriak histeris membelaku, namun orang-orang mulai berdatangan mengelilingiku dan meneriakiku dengan kata-kata gila. Sementara aku sendiri tak mampu mengingat hal-hal lain.
Aku berpikir, apakah aku benar-benar gila? Lalu jika benar demikian, apakah mereka waras? Apakah mereka lebih waras daripada aku dengan memperlakukanku dengan sangat kasar tanpa perikemanusiaan?
Aku hanya mampu terdiam. Tak ada gunanya membela diri. Apapun yang aku katakan tak ada yang mau mempercayainya. Aku terima saja bahwa aku mungkin benar telah gila.
Namun aku masih mencari sebuah jawaban tentang perbedaan orang gila dengan orang waras sesuai difinisiku sendiri. Mencari kebenaran! Itulah yang menjadi misiku saat ini.
Aku dipasung di sebuah gubuk kecil, tak jauh dari rumahku, di atas sebuah dipan kayu berlantaikan tanah. Dindingnya pun hanya terbuat dari anyaman bambu kasar yang dibentuk sekenanya. Atapnya terbuat dari atap seng dimana saat hujan suaranya sangat ribut oleh gempuran hujan dan saat cuaca terik, aku sangat kegerahan. Hanya sebuah sarung lusuh dan sebuah piring plastik dan mug kecil sebagai harta milikku yang paling berharga saat ini. Sehari sekali, bergantian anggota keluargaku datang untuk mengantarkan ransum buatku. Aku lebih sering tak menyentuhnya dan malahan hanya menjadi santapan serangga dan tikus yang bertandang ke gubukku.
Aku rindu anak semata wayangku. Aku kangen istriku. Namun aku tak mampu menemui mereka walau hanya untuk melihatnya saja. Kerinduan seorang ayah dan seorang suami yang sangat naluriah, namun aku yakin, keluargaku telah meracuni pikiran mereka bahwa aku sudah benar-benar gila tanpa diberi kesempatan untuk menemuiku lagi. Aku meratapi sepi, berkeluh pada siang dan malam dengan kejadian yang menimpaku.
Aku hanya bisa pasrah, sama pasrahnya dengan ikhlasku saat beberapa tahun istriku pulang ke rumahnya dan menikah lagi dengan orang lain tanpa persetujuanku, tanpa proses perceraian yang semestinya, sementara anakku diasuh oleh anggota keluargaku yang lain. Sama seperti saat-saat sebelumnya, aku tak mampu mempertahankan hak-hakku dan membela diriku sendiri.
Hancur.
Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku.
Aku dibawa oleh anggota keluargaku ke suatu tempat, dipindahkan ke tempat lain yang aku sendiri tak diberitahu sebelumnya. Aku hanya mengikutinya saat sebuah kendaraan telah dipersiapkan untuk membawaku di suatu pagi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, aku tiba di sebuah tempat.
Rumah Sakit Jiwa Kabupaten Bangli!
Pasrah mungkin lebih baik bagiku untuk saat ini. Ya, setidaknya aku bisa berharap agar aku diperlakukan lebih baik, lebih manusiawi di sini. Setidaknya, aku bisa bebas melangkahkan kaki kurus ini yang telah bertahun-tahun tak pernah kupakai sesuai fungsinya, tanpa pasung dan rantai besi yang mengikatnya. Tanpa harus merasa was-was, tanpa tekanan dari siapapun bersama orang-orang yang senasib denganku. Aku melihat begitu banyak orang yang bernasib sama denganku, entah mereka benar-benar gila atau hanya sebuah kata lain dari pengasingan keluarga untuk mempertahankan citranya di masyarakat bahwa mereka masih memiliki nama baik terlepas dari ada anggota keluarganya yang berbeda dari lazimnya hidup bermasyarakat. Entahlah mereka pernah memikirkan bahwa aku, dan orang-orang yang kurang beruntung untuk hidup normal adalah manusia juga yang memiliki hak hidup sesuai hak asasi manusia.
Bertahun-tahun telah berlalu dan tak pernah ada satu pun keluargaku yang pernah datang menjenguk keadaanku. Rupanya dulu itu adalah saat pertama dan terakhir kalinya bagiku untuk melihat anggota keluargaku. Aku selama ini telah mampu hidup normal di tempat ini. Para pegawai rumah sakit, dokter dan teman-temanku yang dirawat disini memperlakukanku jauh lebih baik dari keluargaku. Aku dianggap sebagai manusia. Ya, sebagai manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan, memaklumi keadaanku sama seperti aku memaklumi orang-orang di sekitarku.
Suatu ketika, aku bertemu seseorang dari kampungku. Walau bukan keluargaku, tapi aku merasakan siraman air kerinduan akan kampung halamanku. Aku ketahui namanya Wayan dan kedatangannya ke rumah sakit ini karena ada anggota keluarganya yang nyaris bernasib sama denganku.
“Bli sangat ingin bertemu dengan keluargaku”, kataku membuka perbincangan.
“Sudah bertahun-tahun Bli ada di sini, tak pernah ada orang yang ingin tahu keadaan Bli disini”.
“Bli merasa bahwa Bli akan menghabiskan sisa hidup di tempat ini”.
“Andai saja Wayan tau, betapa kerinduan akan kampung halaman, betapa kerinduan akan anak Bli telah menguras airmata dan mengeringkan hati Bli selama di sini”.
“Entahlah sudah berapa usia anak Bli sekarang”.
“Entahlah sudah berkeluargakah ia atau bahkan Bli mungkin sudah memiliki cucu”.
Aku tak dapat menyembunyikan sejuta kesedihanku. Mulutku terasa kering dan tak ada suara lagi yang mampu ku ucapkan. Aku lihat juga Wayan terdiam tanpa menjawab apapun, malah aku melihat ia merasakan kepedihanku dari raut muka dan matanya yang mulai sembab dan berkaca-kaca.
“Terimakasih Wayan sudah menemui Bli di sini”.
“Jika Wayan pulang, tolong sampaikan kepada anak Bli, bahwa Aku; Bapaknya masih hidup”, itulah kalimat terakhir yang mampu kusampaikan dan aku beranjak dari tempatku agar aku tak membuatnya semakin larut dalam kesedihanku.
Aku melanjutkan hidupku seperti biasanya walau beberapa pertanyaan sering mengganggu pikiranku.
Adakah orang yang masih peduli dengan hidupku? Apakah itu keluargaku? Apakah itu anakku?
Adakah orang yang akan menebusku dari tempat ini?
Kusembunyikan sejuta harapan untuk bisa kembali pulang suatu saat nanti. Tapi walau aku tak yakin aku bisa pulang, tapi aku percaya, suatu saat aku akan pulang. Ya, aku pasti pulang ke alam yang semestinya aku berada. Aku serahkan segalanya pada Tuhan. Andaipun aku pulang kampung hanya dengan jasadku, aku ikhlas. Yang aku tau, aku menjalani kehidupan ini dalam ketebatasan ruangku, dalam pasung kehidupan yang mesti kujalani dengan segenap kepasrahan dan keikhlasan hati. Entah sampai kapan harus terpasung dalam ketidakberdayaan dan terbuang dari kehidupan yang sesungguhnya.
#o0o#
Prosa untuk Meyslei
Mey, aku tak pernah segelisah ini sebelumnya. Seperti kegelisahan angin diantara gumpalan-gumpalan kabut, seperti resah luruhnya dedaunan yang menukik tanah, seperti kerinduan tentangmu yang tak bisa ku kejawantahkan dengan susunan aksara-aksara dan juga seperti lidah-lidah ombak menggapai getir di sepanjang pesisir.
Mey, aku guratkan sejuta kebahagiaan dan sejuta kesedihan di putih kertasmu. Entahlah mengapa. Aku telah mencoba menjadi pensil tuk menulis bait-bait kata yang datang dan pergi mengisi rongga kepalaku dengan lugas maupun tersirat. Jikapun itu tak cukup, aku menjadikan beberapa bagian hatiku tuk menjadi pemutih agar noda-noda sepanjang lalu hidupmu terbasuh untuk kau bisa lupakan segenap kekecewaan yang pernah singgah di sana yang membentuk sayatan-sayatan luka yang membuat derai tak luput menggenangi indah bola matamu.
Mey, bagaimana bisa kita saling menguatkan satu sama lain sementara gelisahku memipih barisan-barisan rasa yang kian rapuh. Cintaku mungkin tak khan cukup membebat duka di jalan yang mulai gelap, sementara lentera yang ku pegang perlahan kehabisan sumbunya.
Mey, kelak jika hari yang kita nanti telah tiba, maka aku ingin menyunggingkan senyum yang pernah kau pinta sebelum langit benar-benar runtuh, sebelum kilat membelahnya menjadi dua, dan guntur menggetarkan bumi tempat kita berpijak.
Ya, mungkin nanti, suatu saat nanti...
Mey, aku guratkan sejuta kebahagiaan dan sejuta kesedihan di putih kertasmu. Entahlah mengapa. Aku telah mencoba menjadi pensil tuk menulis bait-bait kata yang datang dan pergi mengisi rongga kepalaku dengan lugas maupun tersirat. Jikapun itu tak cukup, aku menjadikan beberapa bagian hatiku tuk menjadi pemutih agar noda-noda sepanjang lalu hidupmu terbasuh untuk kau bisa lupakan segenap kekecewaan yang pernah singgah di sana yang membentuk sayatan-sayatan luka yang membuat derai tak luput menggenangi indah bola matamu.
Mey, bagaimana bisa kita saling menguatkan satu sama lain sementara gelisahku memipih barisan-barisan rasa yang kian rapuh. Cintaku mungkin tak khan cukup membebat duka di jalan yang mulai gelap, sementara lentera yang ku pegang perlahan kehabisan sumbunya.
Mey, kelak jika hari yang kita nanti telah tiba, maka aku ingin menyunggingkan senyum yang pernah kau pinta sebelum langit benar-benar runtuh, sebelum kilat membelahnya menjadi dua, dan guntur menggetarkan bumi tempat kita berpijak.
Ya, mungkin nanti, suatu saat nanti...
Prosa Air
Aku telah bosan memilin getir di setiap benak yang menetaskan luka di setiap ingatanku tentang detak jarum waktu.
Apakah itu sebentuk keputusasaan?
Paling tidak, untuk saat ini aku memetik hikmah di hilir sebagai cerita bahwa hutan-hutan pinus masih menyisakan ranting tuk burung-burung liar bertengger disana. Humus masih saja basah dalam musim pancaroba. Muasal air masih tetap berupa perdu pakis dan lumut di bebatuan lembab di kedua sisi sungai.
Bukankah mengalir adalah pilihan tuk terus bertahan dalam badai taufan, dalam panas dan hujan, bahkan dalam setiap musim yang kita temui disepanjang sungai ini. Aku hanya ingat satu hal tuk terus berfokus menuju muara. Kelak di penghujung bisa kutemukan samudera dengan debur ombaknya, dengan pasir pesisirnya, dengan lambaian daun nyiurnya..ahh...Betapa hidup harus terus mengalir.
Betapa indahnya andai aku masih mungkin mendekap klimak di setiap kelokan batu dan pasir sebelum aku membawa kembali pembawa ragaku dalam kesempurnaan pengembaraan ini.
Apakah itu sebentuk keputusasaan?
Paling tidak, untuk saat ini aku memetik hikmah di hilir sebagai cerita bahwa hutan-hutan pinus masih menyisakan ranting tuk burung-burung liar bertengger disana. Humus masih saja basah dalam musim pancaroba. Muasal air masih tetap berupa perdu pakis dan lumut di bebatuan lembab di kedua sisi sungai.
Bukankah mengalir adalah pilihan tuk terus bertahan dalam badai taufan, dalam panas dan hujan, bahkan dalam setiap musim yang kita temui disepanjang sungai ini. Aku hanya ingat satu hal tuk terus berfokus menuju muara. Kelak di penghujung bisa kutemukan samudera dengan debur ombaknya, dengan pasir pesisirnya, dengan lambaian daun nyiurnya..ahh...Betapa hidup harus terus mengalir.
Betapa indahnya andai aku masih mungkin mendekap klimak di setiap kelokan batu dan pasir sebelum aku membawa kembali pembawa ragaku dalam kesempurnaan pengembaraan ini.
Memilih Pulau
Rasanya aku mengenal betul tempat ini!
Seluruh ingatanku tak merasa asing dengan lingkungan sekitarku.
Suara angin di atas ombak,kabutkabut di kaki gunung, barisan nyiur di sepanjang pantai, denting gentagenta saat pagi menjelang, aroma asapasap dupa, semerbak wewangi kembang...semuanya tak asing lagi.
Tapi ini dimana?
Aku tak menemukan satu pun kata kunci untuk menyegarkan kembali ingatanku dengan tanah ini. Aku terus mencari tahu tentang semua yang aku lihat, terasa seperti baru saja terbangun dari mimpi.
Beberapa jukung (perahu kecil) serupa kupukupu bertengger diatas laut tampak dikejauhan dengan layar warnawarni. Sawah dengan hamparan padinya sejauh mata memandang juga terasa lekat dalam ingatanku.
Ini semua seperti dunia yang lain.
Seperti pengembaraan di alam yang jelas2 pernah aku jalani namun entah kapan.
Di sini..ya disinilah aku akan memilih tempatku.
Memilih tempat untuk melanjutkan sisa hidupku bersama segala kenangan yang telah membangunkanku tentang hidup yang sesunnguhnya.
Semoga mungkin untuk memilih pulau, karena akan kupilih sebuah pulau dimana saiban, canang tangkih, canang ceper dan canangsari beserta segehan pancawarna adalah hal utama sebagai bagian dari keseharian diluar dari bangsabangsa dolar dan pacuan waktu yang terus memburu...
Seluruh ingatanku tak merasa asing dengan lingkungan sekitarku.
Suara angin di atas ombak,kabutkabut di kaki gunung, barisan nyiur di sepanjang pantai, denting gentagenta saat pagi menjelang, aroma asapasap dupa, semerbak wewangi kembang...semuanya tak asing lagi.
Tapi ini dimana?
Aku tak menemukan satu pun kata kunci untuk menyegarkan kembali ingatanku dengan tanah ini. Aku terus mencari tahu tentang semua yang aku lihat, terasa seperti baru saja terbangun dari mimpi.
Beberapa jukung (perahu kecil) serupa kupukupu bertengger diatas laut tampak dikejauhan dengan layar warnawarni. Sawah dengan hamparan padinya sejauh mata memandang juga terasa lekat dalam ingatanku.
Ini semua seperti dunia yang lain.
Seperti pengembaraan di alam yang jelas2 pernah aku jalani namun entah kapan.
Di sini..ya disinilah aku akan memilih tempatku.
Memilih tempat untuk melanjutkan sisa hidupku bersama segala kenangan yang telah membangunkanku tentang hidup yang sesunnguhnya.
Semoga mungkin untuk memilih pulau, karena akan kupilih sebuah pulau dimana saiban, canang tangkih, canang ceper dan canangsari beserta segehan pancawarna adalah hal utama sebagai bagian dari keseharian diluar dari bangsabangsa dolar dan pacuan waktu yang terus memburu...
Menuju Purnama
Aku mungkin saja telah terlalu banyak mengkiaskan rasa,yang datang silih berganti memenuhi rongga hati.
Rasanya tak berlebihan jika aku mencoba melukis dengan pena segala hal tentang kamu. Ya, tentang kamu.
Sejuta kerinduan saat waktu berlalu menjadi dauh bulan mati,
silih berganti manjadikan kerinduan yang sama saat waktumu datang, menggurat sebaris senyum, mengintip diantara awan, melenakan segenap pengagum rahasiamu dengan segenap pesonamu.
Aku adalah satu yang menyematkan rasa entahlah itu apa, dengan terlalu dalam, menenggak-tandaskan bebuih ombak yang setiap saat mampu melantakkan kesadaran.
Bagaimana menumbuhkan tunas di rantingranting kerinduan yang semakin meranggas?
Lalu,
aku tak pernah pikirkan
akan menjadi apa kelak kehidupan
seperti khayalanku tentang esok hari
disaat purnama datang
entahlah serupa apa warna rembulan
Apakah ia berupa rembulan tembaga
rembulan putih perak
ataupun rembulan merah jambu
aku tak punya kewajiban
tuk menebak atau memilih warnanya
Bukankah ia akan tetap indah
saat wajah menengadah langit
bermandikan temaram di cahayanya
atau bahkan saat langit malam berpekat gelap
aku mengandalkan imajinasiku
tuk menembus gumpalan awan
bercengkrama bintang dan rembulan. menuju purnama
Bukankah imajinasi tiada batasnya?
Rasanya tak berlebihan jika aku mencoba melukis dengan pena segala hal tentang kamu. Ya, tentang kamu.
Sejuta kerinduan saat waktu berlalu menjadi dauh bulan mati,
silih berganti manjadikan kerinduan yang sama saat waktumu datang, menggurat sebaris senyum, mengintip diantara awan, melenakan segenap pengagum rahasiamu dengan segenap pesonamu.
Aku adalah satu yang menyematkan rasa entahlah itu apa, dengan terlalu dalam, menenggak-tandaskan bebuih ombak yang setiap saat mampu melantakkan kesadaran.
Bagaimana menumbuhkan tunas di rantingranting kerinduan yang semakin meranggas?
Lalu,
aku tak pernah pikirkan
akan menjadi apa kelak kehidupan
seperti khayalanku tentang esok hari
disaat purnama datang
entahlah serupa apa warna rembulan
Apakah ia berupa rembulan tembaga
rembulan putih perak
ataupun rembulan merah jambu
aku tak punya kewajiban
tuk menebak atau memilih warnanya
Bukankah ia akan tetap indah
saat wajah menengadah langit
bermandikan temaram di cahayanya
atau bahkan saat langit malam berpekat gelap
aku mengandalkan imajinasiku
tuk menembus gumpalan awan
bercengkrama bintang dan rembulan. menuju purnama
Bukankah imajinasi tiada batasnya?
Pelangi di Malam Hari
Waktu berjalan terasa lebih gegas dari biasanya.
Berjalan melalui segala hal yang hanya dianggap kibas-libas angin.
Tapi aku merasakan indah.
Indah melebihi keindahan panorama gunung-gunung.
Indah melebihi pesona matahari terbenam di garis laut barat.
Saat senja pergi temaram dan rembulan masih saja lelap diperaduannya,
kita menyaksikan kunang-kunang dari jendela, terbang diantara rumput basah usai hujan siang tadi.
Lalu apa yang kita perbincangkan?
Hanya diam dan bermain dengan imajinasi masing-masing.
Aku bersama imajinasi tertinggi, menenun kembali sekelumit memori yang masih bisa diraih tentang aku, kamu...lebih tepatnya kita.
Saat kata-kata hanya serupa tarian di pikiran, saat rasa hanya sebatas labirin hati, bukankah semua itu tak penting lagi.
Tentu saja melahirkan sesuatu yang baru dalam otakku yang belum jua pernah aku beri nama.
Entah apa.
Dan aku tak menampik bahwa kita kadang tak perlu berucap apapun untuk saling mengetahui apa yang bergejolak di bathin masing-masing.
Kadang diam adalah juga jawaban hati.
Sama seperti saat melihat pelangi dimalam hari.
Tak ada kata-kata.
Tanpa hembus angin,
pun desah nafas.
Hanya senyap.
Berjalan melalui segala hal yang hanya dianggap kibas-libas angin.
Tapi aku merasakan indah.
Indah melebihi keindahan panorama gunung-gunung.
Indah melebihi pesona matahari terbenam di garis laut barat.
Saat senja pergi temaram dan rembulan masih saja lelap diperaduannya,
kita menyaksikan kunang-kunang dari jendela, terbang diantara rumput basah usai hujan siang tadi.
Lalu apa yang kita perbincangkan?
Hanya diam dan bermain dengan imajinasi masing-masing.
Aku bersama imajinasi tertinggi, menenun kembali sekelumit memori yang masih bisa diraih tentang aku, kamu...lebih tepatnya kita.
Saat kata-kata hanya serupa tarian di pikiran, saat rasa hanya sebatas labirin hati, bukankah semua itu tak penting lagi.
Tentu saja melahirkan sesuatu yang baru dalam otakku yang belum jua pernah aku beri nama.
Entah apa.
Dan aku tak menampik bahwa kita kadang tak perlu berucap apapun untuk saling mengetahui apa yang bergejolak di bathin masing-masing.
Kadang diam adalah juga jawaban hati.
Sama seperti saat melihat pelangi dimalam hari.
Tak ada kata-kata.
Tanpa hembus angin,
pun desah nafas.
Hanya senyap.
Kasmir...(chapter IX)
Memiliki paras sepertiku, bagi sebagian orang adalah anugerah.
Bagiku malah sebaliknya.
Dalam hal ini, aku tak samasekali bermaksud mendustakan anugerah Tuhan namun petaka telah merenggut kebebasanku, merenggut harga diriku bahkan merenggut kehidupan dan masa depanku. Aku mengibaratkan hidupku selaik burung surga, dengan helai bulu-bulu bertahtakan mutu manikam dengan suara merdu yang malah menjadikan hidupnya tak tenang manakala para pemburu merasa haus tuk menjerat, menangkap bahkan membinasakannya hanya demi sehelai bulu yang melekat di tubuhnya.
Lalu, siapa yang salah?
Apa mungkin menyalahkan Sang Pencipta, para pemburu atau malah burung itu sendiri kenapa tidak terlahir sebagai seekor gagak dengan suara parau saja?
Masa depanku tergadaikan bahkan jauh sebelum aku sempat menikmati kehidupan seperti sahabat-sahabat seusiaku hanya karena himpitan ekonomi.
Kadang kemiskinan membuat kita tak memiliki nilai tawar menjalani hidup normal. Aku tak menyalahkan keluargaku, sanak saudaraku, atas segala hal yang menimpa hidupku. Mengapa semua ini menimpaku?
Apakah karena kami pemalas?
Kami telah melakukan hampir segala hal untung menyambung hidup. Dari buruh pengumpul kurma, pemetik kapas, peternak unta dll.
Namun, semua berakhir saat semua usaha majikanku gulung tikar karena permainan politik tingkat tinggi yang aku sendiri tak pernah mengerti.
Lalu, kemana para pemegang tampuk pemerintahan di negeriku? Saat kami berteriak dengan lapar dan dahaga kami, para buruh yang tak memiliki lahan garapan, orasi-orasi kami lebih sering hanya didengar oleh kawat bandil, pintu pagar terkatup rapat. Andaipun bisa kami menemukan pintu ruangan yang masih terbuka, namun kami hanya menemukan kursi kosong dengan keterangan bahwa pejabat berwenang sedang keluar kota.
Hanya pikiranku saja yang berkecamuk, bagaimana bisa mereka harus pergi bertugas keluar kota sementara urusan di dalam kotanya sendiri masih semrawut dan tak pernah becus.
Siapa yang berkewajiban mengentaskan masalah-masalah orang kecil seperti kami?
Kemana mereka-mereka yang selalu menebar manis janji-janji saat jelang waktu pemilihan pejabat? Rupanya peribahasa jika sudah duduk, lupa berdiri memang benar adanya.
Jerat kemiskinan di setiap langkah kami, tak ada yang mampu melepasnya bahkan oleh siapapun.
Jika aku pada akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan negeriku, sahabat-sahabatku, kerabatku, semua kenangan tentang tanah kelahiranku, itu semua tak lebih dari usahaku agar aku tak mati dalam keterpurukan masa lalu. Agar aku kelak tak harus mengubur jasadku dalam tanah tertangisi langit.
Aku ingin kelak mati, dalam liang yang ditumbuhi rimbun bunga, semerbak wangi aroma hutan cemara dimana burung terbang dan bebas bersarang, dimana buah ranum di dahan, dimana hati masih berwarna merah dan setiap manusia menebar kebaikan hidup.
Dan aku, bersama perasaanku berharap menemukan cinta yang baru, seperti keinginanku menemukan tempat baru untuk melanjutkan sisa hidupku.
Bagiku malah sebaliknya.
Dalam hal ini, aku tak samasekali bermaksud mendustakan anugerah Tuhan namun petaka telah merenggut kebebasanku, merenggut harga diriku bahkan merenggut kehidupan dan masa depanku. Aku mengibaratkan hidupku selaik burung surga, dengan helai bulu-bulu bertahtakan mutu manikam dengan suara merdu yang malah menjadikan hidupnya tak tenang manakala para pemburu merasa haus tuk menjerat, menangkap bahkan membinasakannya hanya demi sehelai bulu yang melekat di tubuhnya.
Lalu, siapa yang salah?
Apa mungkin menyalahkan Sang Pencipta, para pemburu atau malah burung itu sendiri kenapa tidak terlahir sebagai seekor gagak dengan suara parau saja?
Masa depanku tergadaikan bahkan jauh sebelum aku sempat menikmati kehidupan seperti sahabat-sahabat seusiaku hanya karena himpitan ekonomi.
Kadang kemiskinan membuat kita tak memiliki nilai tawar menjalani hidup normal. Aku tak menyalahkan keluargaku, sanak saudaraku, atas segala hal yang menimpa hidupku. Mengapa semua ini menimpaku?
Apakah karena kami pemalas?
Kami telah melakukan hampir segala hal untung menyambung hidup. Dari buruh pengumpul kurma, pemetik kapas, peternak unta dll.
Namun, semua berakhir saat semua usaha majikanku gulung tikar karena permainan politik tingkat tinggi yang aku sendiri tak pernah mengerti.
Lalu, kemana para pemegang tampuk pemerintahan di negeriku? Saat kami berteriak dengan lapar dan dahaga kami, para buruh yang tak memiliki lahan garapan, orasi-orasi kami lebih sering hanya didengar oleh kawat bandil, pintu pagar terkatup rapat. Andaipun bisa kami menemukan pintu ruangan yang masih terbuka, namun kami hanya menemukan kursi kosong dengan keterangan bahwa pejabat berwenang sedang keluar kota.
Hanya pikiranku saja yang berkecamuk, bagaimana bisa mereka harus pergi bertugas keluar kota sementara urusan di dalam kotanya sendiri masih semrawut dan tak pernah becus.
Siapa yang berkewajiban mengentaskan masalah-masalah orang kecil seperti kami?
Kemana mereka-mereka yang selalu menebar manis janji-janji saat jelang waktu pemilihan pejabat? Rupanya peribahasa jika sudah duduk, lupa berdiri memang benar adanya.
Jerat kemiskinan di setiap langkah kami, tak ada yang mampu melepasnya bahkan oleh siapapun.
Jika aku pada akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan negeriku, sahabat-sahabatku, kerabatku, semua kenangan tentang tanah kelahiranku, itu semua tak lebih dari usahaku agar aku tak mati dalam keterpurukan masa lalu. Agar aku kelak tak harus mengubur jasadku dalam tanah tertangisi langit.
Aku ingin kelak mati, dalam liang yang ditumbuhi rimbun bunga, semerbak wangi aroma hutan cemara dimana burung terbang dan bebas bersarang, dimana buah ranum di dahan, dimana hati masih berwarna merah dan setiap manusia menebar kebaikan hidup.
Dan aku, bersama perasaanku berharap menemukan cinta yang baru, seperti keinginanku menemukan tempat baru untuk melanjutkan sisa hidupku.
Kashmir...(chapter VIII)
Aku terpasung imajinasi rinduku sendiri.
seperti kerinduan pulang pada bukit-bukit tandus yang mulai menghijau saat memasuki penghujan, pada debur ombak memecah sunyi pesisir, pada kesejukan embun pagi saat pertama kali kubuka jendela-jendela kamarku, pada hembus dan buai angin bertiup searah meningginya awan-awan.
Kubayangkan aku selalu berada diantaranya segala keindahan dan damai semesta, menjadi sebuah gugusan pulau bertemankan belalang hijau.
Lalu, kepada siapa aku sampaikan kristal-kristal rindu ini sementara aku masih terpasung dalam imajinasi yang ku bangun sendiri? Cintakah yang telah menetaskan kerinduan seperti ini? Jika iya, lalu kenapa malah gelora kekesalan yang gemuruh, meratap mendengung di setiap ingatanku pada puing-puing kekecewaan masa lalu. Sampai kapan akan seperti ini? Bukankah aku telah sedari dulu mengubur jauh kedalam perut bumi segala hal yang melelehkan kristal bening di mataku. Lalu ini apa?
Tidak!
Ini pasti sebentuk rindu yang berbeda. Kerinduan pada bayangan yang terus menari indah di ruang jiwaku. Kerinduan yang memenuhi mimpi dalam tidurku. Sebuah rindu yang menyakiti rapuh rasaku.
Jujur, aku enggan berbagi kekecewaan, apalagi kekecewaan tentang masa lalu. Itu menyiratkan sebentuk kelemahanku. Lemah dalam menghadapi peta kehidupan dan takdirku, dan terlalu berfokus pada segala hal yang mengecewakanku. Aku sadar, bahwa pasti ada sebentuk karunia yang tak pernah aku sadari. Pasti banyak hikmah yang terlewati tanpa kusyukuri sebagai sebuah nikmat dari Sang Khalik.
Bukankah aku telah berjanji untuk bangkit?
Aku tak ingin membawa bayangan masa lalu dalam kehidupanku karena itu malah akan membuatku terpuruk lagi dalam linting candu dan cawan nira yang telah aku laknatkan.
Entahlah apa itu dinamakan dengan tobat.
Perjalananku telah aku mulai sendiri. Aku yakin di suatu belahan dunia yang lain pasti ada kehangatan sinar matahari yang mampu menembus kebekuan hatiku seperti kerinduanku yang menjelma dalam imajinasiku tertuju pada sesuatu.
seperti kerinduan pulang pada bukit-bukit tandus yang mulai menghijau saat memasuki penghujan, pada debur ombak memecah sunyi pesisir, pada kesejukan embun pagi saat pertama kali kubuka jendela-jendela kamarku, pada hembus dan buai angin bertiup searah meningginya awan-awan.
Kubayangkan aku selalu berada diantaranya segala keindahan dan damai semesta, menjadi sebuah gugusan pulau bertemankan belalang hijau.
Lalu, kepada siapa aku sampaikan kristal-kristal rindu ini sementara aku masih terpasung dalam imajinasi yang ku bangun sendiri? Cintakah yang telah menetaskan kerinduan seperti ini? Jika iya, lalu kenapa malah gelora kekesalan yang gemuruh, meratap mendengung di setiap ingatanku pada puing-puing kekecewaan masa lalu. Sampai kapan akan seperti ini? Bukankah aku telah sedari dulu mengubur jauh kedalam perut bumi segala hal yang melelehkan kristal bening di mataku. Lalu ini apa?
Tidak!
Ini pasti sebentuk rindu yang berbeda. Kerinduan pada bayangan yang terus menari indah di ruang jiwaku. Kerinduan yang memenuhi mimpi dalam tidurku. Sebuah rindu yang menyakiti rapuh rasaku.
Jujur, aku enggan berbagi kekecewaan, apalagi kekecewaan tentang masa lalu. Itu menyiratkan sebentuk kelemahanku. Lemah dalam menghadapi peta kehidupan dan takdirku, dan terlalu berfokus pada segala hal yang mengecewakanku. Aku sadar, bahwa pasti ada sebentuk karunia yang tak pernah aku sadari. Pasti banyak hikmah yang terlewati tanpa kusyukuri sebagai sebuah nikmat dari Sang Khalik.
Bukankah aku telah berjanji untuk bangkit?
Aku tak ingin membawa bayangan masa lalu dalam kehidupanku karena itu malah akan membuatku terpuruk lagi dalam linting candu dan cawan nira yang telah aku laknatkan.
Entahlah apa itu dinamakan dengan tobat.
Perjalananku telah aku mulai sendiri. Aku yakin di suatu belahan dunia yang lain pasti ada kehangatan sinar matahari yang mampu menembus kebekuan hatiku seperti kerinduanku yang menjelma dalam imajinasiku tertuju pada sesuatu.
Kasmir...(chapter VII)
Tolong jawab dengan jujur, siapa yang bertahta di hatimu?
Aku selalu membuat pertanyaan yang sama nyaris setiap saat di sela-sela pertemuan kita, saat dimana kita kehabisan bahan pembicaraan dan kehilangan kata-kata, bahkan usai pergumulan kita sekalipun!
Aku hanya temukan diam sebagai jawaban, sementara ujung matamu menyiratkan hal yang berbeda dari apa yang kau rasakan.
Apakah itu sebentuk dusta?
Atau semacam cara untuk mengalihkan topik pembicaraan ataukah apa. Aku hanya tak mau kebersamaan itu hanya menjadikan beban baru dalam hidupmu.
Itu dulu. Bahkan sampai saat kepergianmu pun, aku tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Namun aku tak akan pernah menyimpulkan bahwa kepergianmu sebagai suatu jawaban.
Lebih baik aku terasing.
Pergi dari tempatku terlahir dan besar dengan tetap membawa nama pemberian orang tuaku. Biarlah nama Kashmir Lantika menjadi sebuah sejarah yang tak pernah tergali lagi di tanah kelahiranku; Kashmir.
Dan kini saatnya aku memulai perjalanan ke sebuah tempat dimana tak seorangpun pernah bertemu aku sebelumnya dan bahkan tak mengenalku sama sekali, menuju tempat sebelum garis terbitnya matahari, tempat sebelum timur memerah saat pagi, tempat dimana hanya ada rumput basah dan embun, tempat dimana tanah tak pernah menjadi kotak-kotak kepemilikan orang pribadi, tempat dimana ternak tanpa kandang, tempat dimana aku dan alam adalah kesatuan yang sama.
Kubiarkan saja kelak kaki melangkah membawaku ke ujung Alam Semesta.
Aku selalu membuat pertanyaan yang sama nyaris setiap saat di sela-sela pertemuan kita, saat dimana kita kehabisan bahan pembicaraan dan kehilangan kata-kata, bahkan usai pergumulan kita sekalipun!
Aku hanya temukan diam sebagai jawaban, sementara ujung matamu menyiratkan hal yang berbeda dari apa yang kau rasakan.
Apakah itu sebentuk dusta?
Atau semacam cara untuk mengalihkan topik pembicaraan ataukah apa. Aku hanya tak mau kebersamaan itu hanya menjadikan beban baru dalam hidupmu.
Itu dulu. Bahkan sampai saat kepergianmu pun, aku tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Namun aku tak akan pernah menyimpulkan bahwa kepergianmu sebagai suatu jawaban.
Lebih baik aku terasing.
Pergi dari tempatku terlahir dan besar dengan tetap membawa nama pemberian orang tuaku. Biarlah nama Kashmir Lantika menjadi sebuah sejarah yang tak pernah tergali lagi di tanah kelahiranku; Kashmir.
Dan kini saatnya aku memulai perjalanan ke sebuah tempat dimana tak seorangpun pernah bertemu aku sebelumnya dan bahkan tak mengenalku sama sekali, menuju tempat sebelum garis terbitnya matahari, tempat sebelum timur memerah saat pagi, tempat dimana hanya ada rumput basah dan embun, tempat dimana tanah tak pernah menjadi kotak-kotak kepemilikan orang pribadi, tempat dimana ternak tanpa kandang, tempat dimana aku dan alam adalah kesatuan yang sama.
Kubiarkan saja kelak kaki melangkah membawaku ke ujung Alam Semesta.
Kasmir...(chapter VI)
Waktuku tak banyak jika dibandingkan dengan ribuan butir pasir di sepanjang pesisir. Perasaanku tak tegar jika dibandingkan kokohnya batu karang penahan ombak. Namun deraiku, melebihi butir-butir air hujan yang jatuh disepanjang musim.
Namun jua, jangan tanyakan arti setiap tetes yag mengaliri ranum pipiku. Aku tak perlu dikasihani. Aku hanya perlu bicara bukan mengeluh bukan tuk membagi kesedihanku, bahkkan kali ini parit-parit kecil itu sudah mulai kering usai isakku memudar di bawah terik matahari dan tandusnya gurun di sekitar desaku.
Ya, inilah waktunya, waktu yang paling tepat untuk membalikkan arah pikiran, keluar dari nujum-nujum dan mantra-mantra pemikat yang digemakan dari balik bulita petang. bahkan parau suara jangkrik yang biasa dipedengarkan saat malam, tak mampu bergeming dari kebangkitanku.
Bagiku, penyesalan adalah sisi waktu masa lalu, sedangkan di depan adalah bentang samudera harapan. Aku tak pernah tau ke mana arah angin yang menghembus ujung-ujung rambutku namun jika aku mau, jejalan tak mesti selalu berbatu. Pasti semua tergantung dari cara pandangku terhadap sesuatu.
Aku bersiap untuk membuat perubahan. Paling tidak perubahan sikap atas apa yang aku alami. Bukankah luka membuat seseorang lebih waspada dari bahaya? Bukankah getir menjadikan kita lebih tahu nikmatnya manis? Bukankah badai memberikan pelajaran penting tentang buai sepoi angin dan riak-riak penghias gelombang dibarengi semburat cahaya menambah keindahan langit?
Sementara aku tersadar dari pengembaraan imajinasiku nyatanya aku masih diam mematung di pinggiran dipan lusuh beralas tikar pandan.
Masih.
Enggan beranjak untuk membuat sedikit perbedaan saat matahari, awan, langit, mendung, hujan, bulan dan bintang bertandang di atas atap rumahku terus silih berganti.
Namun jua, jangan tanyakan arti setiap tetes yag mengaliri ranum pipiku. Aku tak perlu dikasihani. Aku hanya perlu bicara bukan mengeluh bukan tuk membagi kesedihanku, bahkkan kali ini parit-parit kecil itu sudah mulai kering usai isakku memudar di bawah terik matahari dan tandusnya gurun di sekitar desaku.
Ya, inilah waktunya, waktu yang paling tepat untuk membalikkan arah pikiran, keluar dari nujum-nujum dan mantra-mantra pemikat yang digemakan dari balik bulita petang. bahkan parau suara jangkrik yang biasa dipedengarkan saat malam, tak mampu bergeming dari kebangkitanku.
Bagiku, penyesalan adalah sisi waktu masa lalu, sedangkan di depan adalah bentang samudera harapan. Aku tak pernah tau ke mana arah angin yang menghembus ujung-ujung rambutku namun jika aku mau, jejalan tak mesti selalu berbatu. Pasti semua tergantung dari cara pandangku terhadap sesuatu.
Aku bersiap untuk membuat perubahan. Paling tidak perubahan sikap atas apa yang aku alami. Bukankah luka membuat seseorang lebih waspada dari bahaya? Bukankah getir menjadikan kita lebih tahu nikmatnya manis? Bukankah badai memberikan pelajaran penting tentang buai sepoi angin dan riak-riak penghias gelombang dibarengi semburat cahaya menambah keindahan langit?
Sementara aku tersadar dari pengembaraan imajinasiku nyatanya aku masih diam mematung di pinggiran dipan lusuh beralas tikar pandan.
Masih.
Enggan beranjak untuk membuat sedikit perbedaan saat matahari, awan, langit, mendung, hujan, bulan dan bintang bertandang di atas atap rumahku terus silih berganti.
Kashmir...(chapter V)
Jika aku pernah memupuk kebencian, itu adalah saat dimana aku dulu kehilangan cintaku. Jika aku juga pernah merasakan kekecewaan itu juga adalah di saat dimana aku ditinggalkan tanpa satu kata pun mengiringinya. Semua perasaanku kini membathin lagi saat aku mengetahui keberadaanmu yang hanya aku dengar dari kabar burung beberapa waktu lalu.
Semua perasaanku membaur menjadi satu bahkan setiap tetes airmataku memiliki ribuan makna dari kegusaranku.
Apakah semua ini adalah bagian dari kharma yang mesti aku jalani?
Kasmir Lantika, kamu adalah bagian masa lalu yang terseret ke masa kini dalam kejayaan topeng-topeng laknat penjilat ludah janji-janji palsu yang tak akan ada akhirnya.
Aku mengumpat diri sendiri saat pecahan cermin dikamarku memantulkan seribu kekecewaan dari kepergian seseorang yang selama hampir puluhan tahun ku sebut ia sebagai kekasih.
Lalu apa balasan yang aku terima?
Kepergianmu?
Ketidakpedulianmu?
Keacuhanmu?
Apakah masih pantas untuk kuharapkan balas baik untuk penantian hati panjang yang tiada menentu?
Sebegitu berhargakah kamu dimataku sehingga aku dan perasaanku masih saja membuka pintu maaf untuk ribuan kekecewaan yang kausematkan di tiap pori-pori kulit yang membungkus tubuhku?
Aku ingin, dan sangat ingin menempatkanmu di langkahku yang tertinggal seribu tapak di belakangku. Aku juga ingin menghapus setiap titit-titik kenangan menghambur terbang dari alam imajinasiku saat angin berpusara gusar menerbangkan tiap debu jejalan yang pernah kulewati.
Aku juga ingin membasuh setiap bekas kecup bibirmu bahkan berhasrat untuk menguliti sekujur tubuhku agar pupus semua rasa dari jamah jemarimu.
Itu pun andai aku mampu.
Tapi kenapa aku malah tersiksa dari segala rasaku yang menyesak himpit rongga dadaku?
Lalu, aku tetap saja tak mampu menuliskan segenap kekecewaanku untuk kutuliskan di atas kertas yang sengaja aku tujukan buat kamu. Kertas ini masih saja kosong bahkan airmataku telah menggenanginya semenjak malam mulai datang bertandang.
Mungkin kertas putih yang lembab dengan genangan air mata jiwaku lebih mampu mengejawantahkan segala perasaanku, segala rasaku dan segala apa yang aku mau.
Buatmu.
Semua perasaanku membaur menjadi satu bahkan setiap tetes airmataku memiliki ribuan makna dari kegusaranku.
Apakah semua ini adalah bagian dari kharma yang mesti aku jalani?
Kasmir Lantika, kamu adalah bagian masa lalu yang terseret ke masa kini dalam kejayaan topeng-topeng laknat penjilat ludah janji-janji palsu yang tak akan ada akhirnya.
Aku mengumpat diri sendiri saat pecahan cermin dikamarku memantulkan seribu kekecewaan dari kepergian seseorang yang selama hampir puluhan tahun ku sebut ia sebagai kekasih.
Lalu apa balasan yang aku terima?
Kepergianmu?
Ketidakpedulianmu?
Keacuhanmu?
Apakah masih pantas untuk kuharapkan balas baik untuk penantian hati panjang yang tiada menentu?
Sebegitu berhargakah kamu dimataku sehingga aku dan perasaanku masih saja membuka pintu maaf untuk ribuan kekecewaan yang kausematkan di tiap pori-pori kulit yang membungkus tubuhku?
Aku ingin, dan sangat ingin menempatkanmu di langkahku yang tertinggal seribu tapak di belakangku. Aku juga ingin menghapus setiap titit-titik kenangan menghambur terbang dari alam imajinasiku saat angin berpusara gusar menerbangkan tiap debu jejalan yang pernah kulewati.
Aku juga ingin membasuh setiap bekas kecup bibirmu bahkan berhasrat untuk menguliti sekujur tubuhku agar pupus semua rasa dari jamah jemarimu.
Itu pun andai aku mampu.
Tapi kenapa aku malah tersiksa dari segala rasaku yang menyesak himpit rongga dadaku?
Lalu, aku tetap saja tak mampu menuliskan segenap kekecewaanku untuk kutuliskan di atas kertas yang sengaja aku tujukan buat kamu. Kertas ini masih saja kosong bahkan airmataku telah menggenanginya semenjak malam mulai datang bertandang.
Mungkin kertas putih yang lembab dengan genangan air mata jiwaku lebih mampu mengejawantahkan segala perasaanku, segala rasaku dan segala apa yang aku mau.
Buatmu.
Kashmir...(chapter IV)
Penanggal bulan mati, tepat lima belas hari usai purnama berpulang, adalah malam tergelap yang mesti ia lewati. Dalam suasana hening yang berbeda dari malam sebelumnya dimana kini awan tebal berarak menyelimuti langit, taburan bintang menghilang ditelan gulita, bahkan suara binatangpun enggan menghias kegelapan saat semua mahluk tlah lama dibuai mimpi, hanya tampak satu jendela yang masih diterangi temaram lampu minyak jarak.
Hening sehening malam.
Hanya sesekali terdengar isak tertahan dari balik kelambu lusuh di kamar itu.
Di atas kursi bambu kusam, ia terduduk menghadap meja dengan secarik kertas kosong teronggok pasrah tanpa satupun huruf mampu ia gurat di atasnya.
bagian tengahnya malah telah lembab menahan tetes-tetes airmata yang sedari tadi berjatuhan ibarat air hujan tumpah ke pangkuan bumi.
Kenapa ia begitu kelihatan bersedih? kalaupun jawabannya iya, lalu apa gerangan yang menjadi penyebabnya?
Apakah ia sedang patah hati?
Rasanya tak mungkin ia merasakan hal seperti ini karena selama ini ia hanya berteman dengan kesendiriannya. Jika lelaki yang patah hati karena bertepuk sebelah tangan dengan perasaannya sendiri, itu rasanya lebih masuk akal.
Kesedihan atau kebahagiaan rupanya telah menjadi sahabat kehidupan manusia terlepas ia menghendakinya ataupun tidak.
Lama ia tertegun.
Masih dalam posisi yang sama.
Kertas putih yang semakin basah nyaris lekat dengan kayu di mejanya.
Tangannya tak beranjak dengan sebuah mata tinta terbuat dari bulu sayap elang di jepit jemarinya.
Tanpa suara, hanya sesekali menyeka sembab matanya yang tak mau kompromi dengan hatinya.
"Tidurlah, Nak"
Suara parau wanita tengah baya yang dibarengi batuk-batuk kecil, memecah kesunyian malam itu.
"Ini sudah menjelang subuh, Anakku. Istirahatlah walau itu sejenak".
Suasana menjadi hening kembali, sementara langit timur perlahan berbagi terang.
Akankah pagi benar-benar memberikan harapan baru baginya?
Hening sehening malam.
Hanya sesekali terdengar isak tertahan dari balik kelambu lusuh di kamar itu.
Di atas kursi bambu kusam, ia terduduk menghadap meja dengan secarik kertas kosong teronggok pasrah tanpa satupun huruf mampu ia gurat di atasnya.
bagian tengahnya malah telah lembab menahan tetes-tetes airmata yang sedari tadi berjatuhan ibarat air hujan tumpah ke pangkuan bumi.
Kenapa ia begitu kelihatan bersedih? kalaupun jawabannya iya, lalu apa gerangan yang menjadi penyebabnya?
Apakah ia sedang patah hati?
Rasanya tak mungkin ia merasakan hal seperti ini karena selama ini ia hanya berteman dengan kesendiriannya. Jika lelaki yang patah hati karena bertepuk sebelah tangan dengan perasaannya sendiri, itu rasanya lebih masuk akal.
Kesedihan atau kebahagiaan rupanya telah menjadi sahabat kehidupan manusia terlepas ia menghendakinya ataupun tidak.
Lama ia tertegun.
Masih dalam posisi yang sama.
Kertas putih yang semakin basah nyaris lekat dengan kayu di mejanya.
Tangannya tak beranjak dengan sebuah mata tinta terbuat dari bulu sayap elang di jepit jemarinya.
Tanpa suara, hanya sesekali menyeka sembab matanya yang tak mau kompromi dengan hatinya.
"Tidurlah, Nak"
Suara parau wanita tengah baya yang dibarengi batuk-batuk kecil, memecah kesunyian malam itu.
"Ini sudah menjelang subuh, Anakku. Istirahatlah walau itu sejenak".
Suasana menjadi hening kembali, sementara langit timur perlahan berbagi terang.
Akankah pagi benar-benar memberikan harapan baru baginya?
Kashmir...(chapter III)
Kini aku percaya, bahwa bidadari bisa terlahir bukan hanya dari taman-taman firdaus yang dipenuhi ranum buah ara dan kesejukan oase diantara perdu bunga surgawi, namun bidadari juga bisa terlahir dari hamparan padang tandus berdebu tanpa naungan pepohon yang mengelilinginya.
"Kashmir Lantika!"
"Kashmir Lantika!!" terdengar teriakan dari sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Aku terperanjat dari lamunan kering diantara bidikan-bidikan kameraku yang sedari tadi mengarah kepadanya dari sela puing reruntuhan tembok rumah yang lama tak berpenghuni. Aku sengaja mengambil jarak yag cukup jauh dari jarak pandang biasa karena aku hanya tak mau mengganggu aktifitasnya, disamping aku memang penasaran tentang siapa dia sesungguhnya.
Oh, ternyata ia bernama Kashmir Lantika.
Sebuah nama yang sama dengan kota kelahirannya.
Berbanding terbalik dengan sosoknya yang elok nan rupawan walau tersembunyi dari pakaian yang dikenakannya.
Namun pancaran kecantikannya nyata terlihat searah dengan aura yang mengelilinginya.
"Kashmir Lantika!"
"Kashmir Lantika!!" terdengar teriakan dari sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Aku terperanjat dari lamunan kering diantara bidikan-bidikan kameraku yang sedari tadi mengarah kepadanya dari sela puing reruntuhan tembok rumah yang lama tak berpenghuni. Aku sengaja mengambil jarak yag cukup jauh dari jarak pandang biasa karena aku hanya tak mau mengganggu aktifitasnya, disamping aku memang penasaran tentang siapa dia sesungguhnya.
Oh, ternyata ia bernama Kashmir Lantika.
Sebuah nama yang sama dengan kota kelahirannya.
Berbanding terbalik dengan sosoknya yang elok nan rupawan walau tersembunyi dari pakaian yang dikenakannya.
Namun pancaran kecantikannya nyata terlihat searah dengan aura yang mengelilinginya.
Kashmir...(chapter II)
Mentari siang tak lagi benderang, reduplah ia tatkala wanita sempurna melangkahkan jejak kakinya di kepulan debu tanah kering. Kerikil tanah kecil sejurus bungkam menunduk tak mampu menandingi rupa cahaya terpancar menyilaukan segala pandang. Awan bergegas pergi tanpa menoleh arah yang hendak dituju.
Bidadarikah yang lupa jalan pulang hingga mesti menempuh setapak tapak tandus?
Lalu, kemana angin yang biasa nakal berhembus tiba-tiba sepi bahkan dedaun kering engan luruh ke tanah?
Tak kulihat tanda-tanda alam seperti biasa. Lengang di sepanjang jalan. Gubuk-gubuk tanah telah lama menutup rapat jendela dan pintunya.
Burung-burung yang biasa bernyanyi, kehilangan sinfony di cekat paruh dan lidah kelunya.
Ia tak pergi.
Hanya diam memandang tanpa fokus tertuju.
Bidadarikah yang lupa jalan pulang hingga mesti menempuh setapak tapak tandus?
Lalu, kemana angin yang biasa nakal berhembus tiba-tiba sepi bahkan dedaun kering engan luruh ke tanah?
Tak kulihat tanda-tanda alam seperti biasa. Lengang di sepanjang jalan. Gubuk-gubuk tanah telah lama menutup rapat jendela dan pintunya.
Burung-burung yang biasa bernyanyi, kehilangan sinfony di cekat paruh dan lidah kelunya.
Ia tak pergi.
Hanya diam memandang tanpa fokus tertuju.
Kashmir...(chapter I)
Entahlah, pikiranku berubah menjadi pipihan bait-bait ketika mata ini tertumbuk tajam di sayu dayu tentang kelembutan sejati bagaimana seorang wanita semestinya.
Sempurna, ya...pengejawantahan yang sempurna tanpa cacat cela dari kerudung dan kain sari melengkapi kesempurnaan penampilannya.
Adakah ia menaruh hati?
Adakah ia sendiri?
Ah,...itu hanya penggalan-penggalan pertanyaan yang serupa harapan agar hatiku merasa terhibur dan enggan terpelosok jatuh dalam jurang sakit hati atas kekecewaan yang mungkin saja ku panen sendiri.
Hanya rupa rupawan nan menawan.
Aku bahkan tak pernah tahu nama dan alamat tinggalnya di belahan kota Kashmir yang mana...
Sempurna, ya...pengejawantahan yang sempurna tanpa cacat cela dari kerudung dan kain sari melengkapi kesempurnaan penampilannya.
Adakah ia menaruh hati?
Adakah ia sendiri?
Ah,...itu hanya penggalan-penggalan pertanyaan yang serupa harapan agar hatiku merasa terhibur dan enggan terpelosok jatuh dalam jurang sakit hati atas kekecewaan yang mungkin saja ku panen sendiri.
Hanya rupa rupawan nan menawan.
Aku bahkan tak pernah tahu nama dan alamat tinggalnya di belahan kota Kashmir yang mana...
My Valentine
Selayak kagumku pada langit memanen sinar tadi pagi, hangatnya menerobos pada teralis kusam di sudut hatiku, aku jejalkan sejuta tanya tentang segala rasa yang berkecamuk riuh, meniti labirin hati menuju poros kidung cinta, dalam gemanya ku panen ribuan kata, ku persembahkan indah untuk yang indah, karena hartaku hanyalah aksara perangkai kata dan tinta penggores kertas, terpipih pada imajinasi, terangkum pada pengembaraan khayal, tanpa mawar pada halamanku yang tlah tandus, apalagi pohon kakao yang kuharap kupanen coklat,
aku tak sempat tuk memikirkannya sebab aku hanya tahu satu hal, bahwa hari valentine bukan diukur dari seberapa banyak kuntum mawar merah dan seberapa manis cokelat yang bisa kupersembahkan di hari kasih sayang ini...
aku tak sempat tuk memikirkannya sebab aku hanya tahu satu hal, bahwa hari valentine bukan diukur dari seberapa banyak kuntum mawar merah dan seberapa manis cokelat yang bisa kupersembahkan di hari kasih sayang ini...
Stasiun di Suatu Ketika
Peluit itu lantang dan nyaring, menyadarkanku dari lamunan tentang perjalanan panjang yang mesti kamu lalui. Di sini, di atas kursi besi lusuh, aku ikrarkan sebuah janji untuk menjemputmu, menjemput kedatanganmu ke kotaku. Dengan bekal secarik kertas bertuliskan namamu; Wulan Dewi yang ku gurat dengan spidol besar-besar, dengan harapan kamu melihatnya begitu turun dari kereta.
Derak gerbong yang melambat di rel, seolah malah memacu degup jantungku untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. bagaimana tidak, aku telah menunggunya lebih dari jam 6:10 , meski aku tahu jadwal kereta datang tidak sepagi itu. Aku hanya ingin memastikan seandainya keretal lebih cepat dari biasanya, dan aku juga tahu kalau kereta tak pernah datang lebih awal.
Tiba-tiba, kereta Argo Lawu benar-benar berhenti. Satu persatu dari tiap gerbong para penumpang turun memenuhi Stasiun Balapan dan aku semakin merasakan ketegangan di antara jejal lalu lalang penumpang mencari jemputan. Aku sibuk mencari-cari entah kamu berada di gerbong yang mana.
Perlahan-lahan, lengang. Aku bahkan tak menemukanmu di setiap gerbong yang telah kosong. Sepi. Bahkan masinis pun aku tanyai tentang keberadanmu, padahal aku sudah begitu yakin dengan kedatanganmu sesuai surat terakhir yang aku terima beberapa hari yang lalu, bahkan dengan detail kamu gambarkan bahwa hari ini, ya, hari ini kamu pasti sampai di kotaku dengan kaus merah jambu dan celana jeans kesukaanmu,
Lunglai, itulah gambaran yang pas dengan kekecewaanku, dengan tinggi harapku untuk berjumpa denganmu. Kakiku melemas, dan aku hentak terduduk kembali di kursi besi yang sangat mengerti dengan kegelisahanku. aku remas kertas yang bertuliskan namamu, geram di hempasan nafas yang ku tarik dalam-dalam, dan ku buang di tumpukan kardus-kardus bekas air mineral yang tergeletak, terkapar seperti perasaanku saat ini.
Aku tak tahu. Entah alasan apa yang akan aku sampaikan kepada kedua orang tuaku, kepada sanak familiku yang aku minta menyiapkan kedatanganmu dengan sambutan yang sedikit berbeda. Maklumlah, aku sudah menceritakan segala sesuatunya kepada mereka, tentang perasaanku, tentang kesungguhanku untuk memperkenalkanmu pada keluargaku bahwa hanya kamu yang mampu meruntuhkan pendirianku, mematikan ego dan membuatku lebih mengerti hidup.
Aku putuskan untuk tetap diam. Tak beranjak dari tempatku terduduk. Diam tak bergeming. Entahlah, kamu ada di mana, itu sudah tak penting lagi karena aku dan kursi besi nan lusuh ini tetap saling berdiam diri entah sampai kapan....
*********
Aku hela nafas satu per satu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangat yang masih bertengger di segenap jiwaku. Apa yang aku lakukan hanya sebuah kesia-siaan belaka? Lalu, kesalahan apa yang telah kuperbuat tanpa aku sadari kepadanya, sehingga aku mesti menerima kenyataan yang begitu pahitnya hari ini.
oh,...rupanya aku hanya bergumul dengan segala tanda tanya yang mondar-mandir memenuhi isi kepalaku. Bahkan tak satupun jawaban yang aku bisa temukan di setiap jengkal rasa kecewa dan pedih yang melumuri jiwa ragaku.
Tiba-tiba aku tersentak kaget saat sepasang tangan lembut bergelayut manja memelukku dari belakang, bahkan secepat kilat, tanpa aku sempat menoleh ke belakang, sebuah ciuman hangat mendarat tepat di pipiku, muach... sebuah senyum, ya, sebuah senyum tersungging menyerupai tawa yang ditahan, mempermainkan sejuta heranku, bahkan kedua tangannya tetap tak bergeming melingkar di leherku, erat.
Kerongkonganku tercekat,kelu bahkan tak sepatah kata pun mampu aku ucapkan. Mengapa bisa? Mengapa aku mendadak serupa kerbau dicocok hidungnya menyaksikan ini semua. Nyatakah ini atau hanya sebuah fatamorgana dari kekecewaanku? Atau ini semua sebuah mimpi?
Ya, benar. Aku ternyata tidak sedang bermimpi. Semua yang pernah kamu gambarkan tentang ciri-ciri fisik, ada pada wanita ini. Persis seperti apa yang kamu gambarkan dalam suratmu tempo hari, saat kamu sampaikan kabar gembira bahwa kamu akan datang khusus menemuiku. Dari ujung rambut yang lurus sebahu, kulit yang putih selayak mekar bunga cempaka, body yang sintal sangat proporsional, wajah yang menyungging senyuman dan tak lupa pula,.. ah, ya kakimu yang indah bak padi membunting, lebih indah dari apa yang lihat selama ini.
"Hai" sapamu. Aku masih tak mampu berucap untuk menjawabmu. aku masih saja tak percaya dengan ini semua. Kerongkonganku terasa begitu kering, bahkan rasanya menelan ludahku sendiri, aku hanya merasakan angin.
Ah, sudahlah, apapun yang berkecamuk di pikiranku itu sudah tak penting lagi. Entah tadi dia telah mempermainkan perasaankuku dengan bersembunyi di mana sehingga aku tak bisa menemukannya, entah apa tujuannya. Yang paling penting saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan ku tinggalkan lengang Stasiun Balapan dengan hati berbunga-bunga sambil ku rangkul erat pundaknya..
**********
Brakkkkk...entah datang dari arah mana, sebuah Ferrari dengan kecepatan tinggi menghantamku dari samping kanan persis di seberang jalan tempatku memarkir kendaraanku. Aku tak merasakan apa-apa, kecuali sesuatu yang membuatku merasa aneh. Ya, sangat aneh. Aku melihat mobil yang menabrakku oleng dan terperosok di selokan pinggir aspal dan mengepulkan asap tebal. Orang-orang yang melihat kejadian tadi mulai panik dan berdatangan membentuk setengah lingkaran.
Hah!!!,...aku kaget bukan kepalang dengan penglihatan yang baru saja aku alami. De javu, sekelebat bayangan ter;intas sekilas tentang apa yang mungkin menimpaku jika aku tak memutuskan untuk berdiri sejenak di pinggir stasiun karena sesuatu telah jatuh dari saku celanaku. Ya, dompetku adalah penyelamatku dari maut. Dompet yang tadinya tersimpan rapi di celanaku tiba-tiba jatuh sesaat sebelum sebuah ferrari melintas persis di depanku melintas dengan kecepatan tinggi. Huh, siapa sih yang mengendarai kendaraan si lingkungan stasiun dengan kesetanan. Pasti pengemudinya merasa bangga dengan apa yang dikemudikannya sehingga tak mengenal tempat lagi untuk memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Usai aku menenangkan diri, ku simpul sebait senyum seolah tak terjadi apa-apa, sambil ku rapikan dompet yang kupungut dari lantai stasiun dan bergegas menuju kendaraan yang gelisah menungguku. Nyaman sekali rasanya saat beriringan ku gandeng tanganmu.
Dalam perjalanan, aku tiada henti-hentinya mengagumi sosokmu yang duduk di sampingku. Aku heran saja, kenapa aku belum pernah bertemu wanita seanggun kamu, itu menurutku. Decak kagumku tentangmu menari-nari di seluruh khayal imajinasiku. Sambil ku lemparkan lelucon ringan dan tertawa-tertawa kecil, ku dera aspal menuju rumahku.
**********
Jarak tempuh antara stasiun dan rumahku yang biasanya kutempuh satu setengah jam, kali ini terasa hanya beberapa menit, tak terasa mobil yang kami kendarai telah merapat di halaman rumahku.
Bak memenangkan sebuah peperangan dahsyat, ku luapkan kegembiraanku sesaat kami keluar dari kendaraan yang disambut seluruh anggota keluargaku dengan senyum sumringah.
'inilah kamarmu sayang,'
'silakan beristirahat, kalau perlu apa-apa, aku ada di kamar sebelah,' ucapku sambil mempersialakannya masuk, di kamar yang biasa diperuntukkan kepada tamu-tamu dari jauh yang kebetulan singgah dan menginap di rumahku.
Setelahnya, aku pun masuk ke kamarku sendiri, yang bersebelahan dengan kamar tersebut.
Aku tak bisa lagi menggambarkan perasaanku saat ini. Segala kekecewaan yang tadinya memenuhi rongga dadaku, pupus dan terkubur segala keindahan tentang Dewi Wulan. Sambil merebahkan diri di kamarku, kupejamkan mata sejenak, menikmati gelambir-gelambir damai, bahagia dan haru membaur memenuhi ruang batinku. Ini sangat nyata, ya...ini bukanlah sebuah mimpi. Ku menyaksikan keindahan sempurna seorang wanita seperti apa yang aku angankan selama ini. Aku bukanlah pria yang munafik, aku mengaguminya melebihi harapanku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku tak menemukan cacat cela yang membuat kesan tentangnya menjadi berubah. Apakah kesempurnaan yang kulihat akan bertambah saat aku punya kesempatan untuk mencium setiap inchi dari keindahan tubuhnya dalam keadaan tanpa ada balutan benang sehelaipun yang menutupi tubuh indahnya dan menyatu di pacuan desah nafas memburu kami bersama tetes-tetes peluh yang membalur hasrat...hufffh...tidak!
Ini gila!
Aku pasti sudah gila!
Betapa tidak, mendadak pikiranku menjadi kacau dan membayangkan hal yang tak semestinya merasuk dalam benakku. Jangan-jangan, setan telah menggodaku kali ini. Aku membuang jauh-jauh semua hayalanku tentangnya dan bangkit dari tempat tidur serta kuputuskan untuk mandi.
Setelah ku guyur seluruh tubuhku dengan kesegaran air dan aroma wangi sabun, aku bersiap keluar kamar mandi hanya berbalutkan handuk.
Di perjalanan menuju ruang ganti aku kaget setengah mati karena di atas sofa kecil dalam kamarku, Wulan Dewi sudah duduk di sana entah sudah berapa lama.
'Maaf Mas, saya lancang telah masuk kamarmu, habisnya tadi tak ketuk pintunya tak ada sahutan dari dalam. Daripada bengong sendiri di kamar, aku putuskan untuk masuk saja. Apalagi tadi aku tak melihat siapapun di luar. Yang lain pada ke mana ya Mas?'
Aku tak sempat lagi menjawab semua pertanyaannya. Hasrat kelelakianku malah bergejolak, saat melihatnya begitu seksi, berbalut kaos ketat merah dipadukan dengan rok jeans pendek. Kakinya yang putih disilangkan, dimana betis dan sebagian besar pahanya jadi terekspose jelas. Kaos merah ketatnya mampu mencetak lekuk-lekuk indah tubuhnya. Samar-samar kupastikan bra yang menyangga dadanya tak mampu menahan beban di dalamnya dengan sempurna.
Kini, aku mendadak merasakan dahaga yang luar biasa. Ya, dahaga akan sentuhannya, menikmati keindahannya dan....brakkkkk!
Aduhhh...!! Aku menabrak pinggiran meja di kamarku yang membuat balutan handuk di pinggangku terlepas, membuatku panik dan tak bisa menyembunyikan rasa malu di hadapannya. Wulan Dewi malah cengengesan dan cengar-cengir melihatku sambil bangkit dari tempat duduknya seraya melangkah menghampiriku.
Aku jadi salah tingkah saat jari-jemarinya yang lentik menjamahku.
Aaawwhh...aku hanya mampu melenguh pelan. Reflek, kami pun berpagutan, hangat bibirnya serasa membuatku melayang. Tanganku pun tak tinggal diam masuk di punggungnya, membelai halus lembut kulitnya, sementara jari-jemarinya masih mempermainkanku, kadang mengelus, meremas-remas bahkan mengocoknya dengan lembut. Aku semakin tak terkendali dibuatnya. Cumbuanku pun semakin panas, beralih ke lehernya yang jenjang dan membuatnya menggelinjang-gelinjang tak beraturan. Nafasnya semakin memburu saat ciumanku mendekati area dadanya. Secepat kilat ia melepas kaosnya saat jari tanganku mulai mencari pengait bra di punggungnya dan...lepaslah sudah bersamaan dengan bibirku mencapai kedua bukit di dadanya.
Desahan dan pekikan-pekikan kecil yang keluar dari bibirnya membuatku semakin menggila. Bergantian, buah dadanya ku kulum, ku remas, memainkannya dengan ujung lidahku membuat putingnya semakin mengeras. Dan kami memutuskan untuk pindah ke tempat tidurku.
Ia pasrah menantikan perlakuanku selanjutnya. Kurebahkan dalam posisi telentang dalam kondisi tanpa busana. Kepalang tanggung pikirku. Kulepaskan saja rok jeans yang masih melekat di tubuhnya. Sambil ku cium bibirnya, jari-jemariku tak sulit untuk melepaskan roknya karena dibantu dengan ia mengangkat sedikit pinggulnya.
Wooww...hanya itu sebentuk ungkapan kekagumanku yang menyeruak di kepalaku.
Inilah kesempurnaan wanita sejati pikirku. Dengan mengenakan daleman merah yang senada, kontras dengan kulitnya yang putih bak pualam, lembut bagaikan sutra, adakah hal yang mampu menandingi anugerah ini?
Aroma wangi di sekujur tubuhnya yang polos menyeruak di kedalaman indera penciumanku, mengantarku pada imajinasi tertinggi yang mungkin ku gapai, terbang jauh membubung tinggi menuju lapisan langit kedelapan. Kini aku percaya bahwa ada keindahan yang lebih tinggi dari surga, dan ada buah yang lebih ranum dari jeruk linglang, ada bunga yang lebih wangi dari misteriusnya bunga ara serta ada padang rumput yang mampu menandingi taman firdaus.
Merinding aku menyaksikan hal yang paling indah yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Pahatan-pahatan sang maestro pemahat dunia tak mampu menandingi lekuk indah tubuhnya. Para ahli wewangian parfum dunia tak akan mampu menciptakan dan menandingi aroma wangi yang terpancar dari tubuhnya. Sorot matanya memancar redup penuh cinta kasih, mengalahkan pelita dan lilin-lilin aromatherapy yang hanya terbuat dari parafin. Bahkan para pujangga dan pesohor dunia sastra akan kehabisan kata-kata untuk menggambarkan detail tentangnya. Jelmaan sosok Ishtar mungkin lebih tepat tuk memberikan gambaran pembanding untuknya.
Matanya terpejam dan bibirnya terbuka menahan desis sensasi yang aku berikan. Kedua tangannya menjambak rambutku saat bibirku mengecup perut atasnya, terus berlanjut di sekitar pusar dan turun ke bawahnya perlahan-lahan. Gundukan bukit kecil dengan rumputnya yang legam, aroma yang melenakan jiwa, menyeruak jauh ke dalam imajinasiku. Seperti seekor kuda jantan usai melewati lautan gurun, menemukan oase dengan kesegaran air surgawi, kupuaskan dahagaku di sana. Semakin banyak yang diminum, maka semakin haus dalam gelora yang semakin membara.
Diselingi desahan-desahan panjangnya, aku tandaskan air di sana. Paha dan betisnya yang indah tak luput dari elusan jari-jemariku.
Kali ini, aku sudah sangat siap untuk tahapan selanjutnya, menyatukan segenap rasa kami yang gemulak membara. Ku mainkan jilatan-jilatan lidahku di kedua betisnya, naik ke paha dengan penuh perasaan.
Ciumanku yang tadinya dari atas, kali ini malah sebaliknya. Aku kembali bergumul di kedua dadanya, aku merasakan menyentuh sesuatu di bawah sana. Ini sebuah sensasi yang berbeda, jauh lebih indah. Perlahan namun pasti, aku menemukan celah yang semestinya. Begitu hangat!
Badanku bergetar merasakan sensasi denyutan dan remasan-remasan lembut di sana. Semakin ku atur ritme kadang perlahan, dan diselingi dengan gerakan cepat atau pun lambat, perasaanku semakin dibuai seperti mimpi. Apalagi saat kedua kakinya merengkuh dan melingkar erat di punggungku. Aku bahkan ingin menggali kenikmatan lebih jauh lagi.
Sungguh ini pergumulan yang tak ingin kusudahi. Tiba-tiba tubuh kami mengejang, bak meregang nyawa, seluruh tulang yang menyangga badanku serasa lepas dari otot dan dagingku seiring melesatnya jiwaku dalam hitungan detik. Serasa detak jantungku terhenti seketika. Kami tanpa kata. Aaawwhhh...hanya erangan panjang menyudahi peluh di sekujur tubuhku yang perlahan-lahan mengembalikan kesadaranku.
Aku tak lantas menyudahi apa yang kulakukan begitu saja. Kukecup keningnya, kedua pipinya seraya kubisikkan, 'Aku sayang kamu,'. 'Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku,'
Ia hanya tersenyum sangat manis dalam dekapanku seraya membalas kecupanku.
Saat kubuka mataku, hari telah beranjak gelap. Entah berapa lama aku terlelap dalam tidur yang begitu pulas. Kubawa kembali ingatanku kepada hal yang terjadi hari ini. Oh ya, tadi khan aku tertidur dalam pelukan Wulan Dewi, tapi...kemana dia?
Kenapa saat aku terbangun, kudapati diriku sendiri di atas ranjang yang semrawut ini? Apa sudah kembali ke kamar sebelah?
Kusambar pakaian sekenanya dan mencoba ke kamar tempat Wulan, namun tidak ada.
'Wulan!'
'Wulaaan!'
Ku panggil-panggil dia sambil ku cari sampai di kamar mandi. Namun tak ada jawaban. Suasana rumahku yang masih sepi tak ada siapapun yang mungkin kutanyai.
Bahkan saat aku kembali ke kamarnya, kuperhatikan dengan lebih seksama tak satupun pakaiannya masih tersisa disana. Semua isi kamar masih tertata dengan sangat rapi kecuali barang bawaannya.
Di atas nakas, kutemukan secarik kertas yang rupanya sengaja ia tinggalkan;
'Mas, maafkan aku,
Aku tau Mas pasti sangat kecewa denganku. Bukan maksudku tuk menyakiti perasaanmu, mempermalukanmu di depan keluargamu, namun aku tak punya pilihan lain.
Aku telah memenuhi janjiku untuk menemuimu walau hanya sesaat.
Jika Mas ingat sewaktu di stasiun, aku sempat ragu untuk melanjutkan pertemuan kita. Saat itu, aku sengaja tak langsung menemuimu tapi aku tak tega melihatmu begitu kecewa dan akhirnya aku memutuskan untuk datang ke tempatmu terduduk diam di bangku itu.
Mas, aku percaya jika suatu saat nanti akan menemukan wanita terbaik untuk mendampingimu dan itu jelas bukan aku.
Aku punya alasan lain kenapa memutuskan untuk pergi saat Mas masih tertidur pulas, dan Mas tak perlu tau alasan itu.
Aku ingin Mas bahagia.
Saat Mas membaca pesanku ini, aku sudah kembali ke stasiun untuk pulang kembali.
Mas tidak perlu mencariku lagi, karena aku tak kembali ke rumahku.
Sekali lagi, maafkan aku
Salam kasihku,
WD
Aku terdiam. Perasaanku hancur, tapi aku segera memutuskan untuk pergi ke stasiun. Ku pacu kendaraanku secepat yang aku bisa. Aku harus mendapatkan penjelasan yang masuk akal dengan semua ini. Aku harus tau alasannya. Sepahit apapun, aku mesti mendengarnya langsung.
Kuparkir kendaraanku dan bergegas mencarinya di stasiun. Namun kereta sudah berangkat lima menit yang lalu. Aku pasrah menerima semua ini. Aku tak perlu alasan kepergianmu seperti kata-kata dalam pesanmu. Yang aku tau, stasiun ini adalah awal dan akhir perjalananku.#00#
Derak gerbong yang melambat di rel, seolah malah memacu degup jantungku untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. bagaimana tidak, aku telah menunggunya lebih dari jam 6:10 , meski aku tahu jadwal kereta datang tidak sepagi itu. Aku hanya ingin memastikan seandainya keretal lebih cepat dari biasanya, dan aku juga tahu kalau kereta tak pernah datang lebih awal.
Tiba-tiba, kereta Argo Lawu benar-benar berhenti. Satu persatu dari tiap gerbong para penumpang turun memenuhi Stasiun Balapan dan aku semakin merasakan ketegangan di antara jejal lalu lalang penumpang mencari jemputan. Aku sibuk mencari-cari entah kamu berada di gerbong yang mana.
Perlahan-lahan, lengang. Aku bahkan tak menemukanmu di setiap gerbong yang telah kosong. Sepi. Bahkan masinis pun aku tanyai tentang keberadanmu, padahal aku sudah begitu yakin dengan kedatanganmu sesuai surat terakhir yang aku terima beberapa hari yang lalu, bahkan dengan detail kamu gambarkan bahwa hari ini, ya, hari ini kamu pasti sampai di kotaku dengan kaus merah jambu dan celana jeans kesukaanmu,
Lunglai, itulah gambaran yang pas dengan kekecewaanku, dengan tinggi harapku untuk berjumpa denganmu. Kakiku melemas, dan aku hentak terduduk kembali di kursi besi yang sangat mengerti dengan kegelisahanku. aku remas kertas yang bertuliskan namamu, geram di hempasan nafas yang ku tarik dalam-dalam, dan ku buang di tumpukan kardus-kardus bekas air mineral yang tergeletak, terkapar seperti perasaanku saat ini.
Aku tak tahu. Entah alasan apa yang akan aku sampaikan kepada kedua orang tuaku, kepada sanak familiku yang aku minta menyiapkan kedatanganmu dengan sambutan yang sedikit berbeda. Maklumlah, aku sudah menceritakan segala sesuatunya kepada mereka, tentang perasaanku, tentang kesungguhanku untuk memperkenalkanmu pada keluargaku bahwa hanya kamu yang mampu meruntuhkan pendirianku, mematikan ego dan membuatku lebih mengerti hidup.
Aku putuskan untuk tetap diam. Tak beranjak dari tempatku terduduk. Diam tak bergeming. Entahlah, kamu ada di mana, itu sudah tak penting lagi karena aku dan kursi besi nan lusuh ini tetap saling berdiam diri entah sampai kapan....
*********
Aku hela nafas satu per satu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangat yang masih bertengger di segenap jiwaku. Apa yang aku lakukan hanya sebuah kesia-siaan belaka? Lalu, kesalahan apa yang telah kuperbuat tanpa aku sadari kepadanya, sehingga aku mesti menerima kenyataan yang begitu pahitnya hari ini.
oh,...rupanya aku hanya bergumul dengan segala tanda tanya yang mondar-mandir memenuhi isi kepalaku. Bahkan tak satupun jawaban yang aku bisa temukan di setiap jengkal rasa kecewa dan pedih yang melumuri jiwa ragaku.
Tiba-tiba aku tersentak kaget saat sepasang tangan lembut bergelayut manja memelukku dari belakang, bahkan secepat kilat, tanpa aku sempat menoleh ke belakang, sebuah ciuman hangat mendarat tepat di pipiku, muach... sebuah senyum, ya, sebuah senyum tersungging menyerupai tawa yang ditahan, mempermainkan sejuta heranku, bahkan kedua tangannya tetap tak bergeming melingkar di leherku, erat.
Kerongkonganku tercekat,kelu bahkan tak sepatah kata pun mampu aku ucapkan. Mengapa bisa? Mengapa aku mendadak serupa kerbau dicocok hidungnya menyaksikan ini semua. Nyatakah ini atau hanya sebuah fatamorgana dari kekecewaanku? Atau ini semua sebuah mimpi?
Ya, benar. Aku ternyata tidak sedang bermimpi. Semua yang pernah kamu gambarkan tentang ciri-ciri fisik, ada pada wanita ini. Persis seperti apa yang kamu gambarkan dalam suratmu tempo hari, saat kamu sampaikan kabar gembira bahwa kamu akan datang khusus menemuiku. Dari ujung rambut yang lurus sebahu, kulit yang putih selayak mekar bunga cempaka, body yang sintal sangat proporsional, wajah yang menyungging senyuman dan tak lupa pula,.. ah, ya kakimu yang indah bak padi membunting, lebih indah dari apa yang lihat selama ini.
"Hai" sapamu. Aku masih tak mampu berucap untuk menjawabmu. aku masih saja tak percaya dengan ini semua. Kerongkonganku terasa begitu kering, bahkan rasanya menelan ludahku sendiri, aku hanya merasakan angin.
Ah, sudahlah, apapun yang berkecamuk di pikiranku itu sudah tak penting lagi. Entah tadi dia telah mempermainkan perasaankuku dengan bersembunyi di mana sehingga aku tak bisa menemukannya, entah apa tujuannya. Yang paling penting saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan ku tinggalkan lengang Stasiun Balapan dengan hati berbunga-bunga sambil ku rangkul erat pundaknya..
**********
Brakkkkk...entah datang dari arah mana, sebuah Ferrari dengan kecepatan tinggi menghantamku dari samping kanan persis di seberang jalan tempatku memarkir kendaraanku. Aku tak merasakan apa-apa, kecuali sesuatu yang membuatku merasa aneh. Ya, sangat aneh. Aku melihat mobil yang menabrakku oleng dan terperosok di selokan pinggir aspal dan mengepulkan asap tebal. Orang-orang yang melihat kejadian tadi mulai panik dan berdatangan membentuk setengah lingkaran.
Hah!!!,...aku kaget bukan kepalang dengan penglihatan yang baru saja aku alami. De javu, sekelebat bayangan ter;intas sekilas tentang apa yang mungkin menimpaku jika aku tak memutuskan untuk berdiri sejenak di pinggir stasiun karena sesuatu telah jatuh dari saku celanaku. Ya, dompetku adalah penyelamatku dari maut. Dompet yang tadinya tersimpan rapi di celanaku tiba-tiba jatuh sesaat sebelum sebuah ferrari melintas persis di depanku melintas dengan kecepatan tinggi. Huh, siapa sih yang mengendarai kendaraan si lingkungan stasiun dengan kesetanan. Pasti pengemudinya merasa bangga dengan apa yang dikemudikannya sehingga tak mengenal tempat lagi untuk memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Usai aku menenangkan diri, ku simpul sebait senyum seolah tak terjadi apa-apa, sambil ku rapikan dompet yang kupungut dari lantai stasiun dan bergegas menuju kendaraan yang gelisah menungguku. Nyaman sekali rasanya saat beriringan ku gandeng tanganmu.
Dalam perjalanan, aku tiada henti-hentinya mengagumi sosokmu yang duduk di sampingku. Aku heran saja, kenapa aku belum pernah bertemu wanita seanggun kamu, itu menurutku. Decak kagumku tentangmu menari-nari di seluruh khayal imajinasiku. Sambil ku lemparkan lelucon ringan dan tertawa-tertawa kecil, ku dera aspal menuju rumahku.
**********
Jarak tempuh antara stasiun dan rumahku yang biasanya kutempuh satu setengah jam, kali ini terasa hanya beberapa menit, tak terasa mobil yang kami kendarai telah merapat di halaman rumahku.
Bak memenangkan sebuah peperangan dahsyat, ku luapkan kegembiraanku sesaat kami keluar dari kendaraan yang disambut seluruh anggota keluargaku dengan senyum sumringah.
'inilah kamarmu sayang,'
'silakan beristirahat, kalau perlu apa-apa, aku ada di kamar sebelah,' ucapku sambil mempersialakannya masuk, di kamar yang biasa diperuntukkan kepada tamu-tamu dari jauh yang kebetulan singgah dan menginap di rumahku.
Setelahnya, aku pun masuk ke kamarku sendiri, yang bersebelahan dengan kamar tersebut.
Aku tak bisa lagi menggambarkan perasaanku saat ini. Segala kekecewaan yang tadinya memenuhi rongga dadaku, pupus dan terkubur segala keindahan tentang Dewi Wulan. Sambil merebahkan diri di kamarku, kupejamkan mata sejenak, menikmati gelambir-gelambir damai, bahagia dan haru membaur memenuhi ruang batinku. Ini sangat nyata, ya...ini bukanlah sebuah mimpi. Ku menyaksikan keindahan sempurna seorang wanita seperti apa yang aku angankan selama ini. Aku bukanlah pria yang munafik, aku mengaguminya melebihi harapanku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku tak menemukan cacat cela yang membuat kesan tentangnya menjadi berubah. Apakah kesempurnaan yang kulihat akan bertambah saat aku punya kesempatan untuk mencium setiap inchi dari keindahan tubuhnya dalam keadaan tanpa ada balutan benang sehelaipun yang menutupi tubuh indahnya dan menyatu di pacuan desah nafas memburu kami bersama tetes-tetes peluh yang membalur hasrat...hufffh...tidak!
Ini gila!
Aku pasti sudah gila!
Betapa tidak, mendadak pikiranku menjadi kacau dan membayangkan hal yang tak semestinya merasuk dalam benakku. Jangan-jangan, setan telah menggodaku kali ini. Aku membuang jauh-jauh semua hayalanku tentangnya dan bangkit dari tempat tidur serta kuputuskan untuk mandi.
Setelah ku guyur seluruh tubuhku dengan kesegaran air dan aroma wangi sabun, aku bersiap keluar kamar mandi hanya berbalutkan handuk.
Di perjalanan menuju ruang ganti aku kaget setengah mati karena di atas sofa kecil dalam kamarku, Wulan Dewi sudah duduk di sana entah sudah berapa lama.
'Maaf Mas, saya lancang telah masuk kamarmu, habisnya tadi tak ketuk pintunya tak ada sahutan dari dalam. Daripada bengong sendiri di kamar, aku putuskan untuk masuk saja. Apalagi tadi aku tak melihat siapapun di luar. Yang lain pada ke mana ya Mas?'
Aku tak sempat lagi menjawab semua pertanyaannya. Hasrat kelelakianku malah bergejolak, saat melihatnya begitu seksi, berbalut kaos ketat merah dipadukan dengan rok jeans pendek. Kakinya yang putih disilangkan, dimana betis dan sebagian besar pahanya jadi terekspose jelas. Kaos merah ketatnya mampu mencetak lekuk-lekuk indah tubuhnya. Samar-samar kupastikan bra yang menyangga dadanya tak mampu menahan beban di dalamnya dengan sempurna.
Kini, aku mendadak merasakan dahaga yang luar biasa. Ya, dahaga akan sentuhannya, menikmati keindahannya dan....brakkkkk!
Aduhhh...!! Aku menabrak pinggiran meja di kamarku yang membuat balutan handuk di pinggangku terlepas, membuatku panik dan tak bisa menyembunyikan rasa malu di hadapannya. Wulan Dewi malah cengengesan dan cengar-cengir melihatku sambil bangkit dari tempat duduknya seraya melangkah menghampiriku.
Aku jadi salah tingkah saat jari-jemarinya yang lentik menjamahku.
Aaawwhh...aku hanya mampu melenguh pelan. Reflek, kami pun berpagutan, hangat bibirnya serasa membuatku melayang. Tanganku pun tak tinggal diam masuk di punggungnya, membelai halus lembut kulitnya, sementara jari-jemarinya masih mempermainkanku, kadang mengelus, meremas-remas bahkan mengocoknya dengan lembut. Aku semakin tak terkendali dibuatnya. Cumbuanku pun semakin panas, beralih ke lehernya yang jenjang dan membuatnya menggelinjang-gelinjang tak beraturan. Nafasnya semakin memburu saat ciumanku mendekati area dadanya. Secepat kilat ia melepas kaosnya saat jari tanganku mulai mencari pengait bra di punggungnya dan...lepaslah sudah bersamaan dengan bibirku mencapai kedua bukit di dadanya.
Desahan dan pekikan-pekikan kecil yang keluar dari bibirnya membuatku semakin menggila. Bergantian, buah dadanya ku kulum, ku remas, memainkannya dengan ujung lidahku membuat putingnya semakin mengeras. Dan kami memutuskan untuk pindah ke tempat tidurku.
Ia pasrah menantikan perlakuanku selanjutnya. Kurebahkan dalam posisi telentang dalam kondisi tanpa busana. Kepalang tanggung pikirku. Kulepaskan saja rok jeans yang masih melekat di tubuhnya. Sambil ku cium bibirnya, jari-jemariku tak sulit untuk melepaskan roknya karena dibantu dengan ia mengangkat sedikit pinggulnya.
Wooww...hanya itu sebentuk ungkapan kekagumanku yang menyeruak di kepalaku.
Inilah kesempurnaan wanita sejati pikirku. Dengan mengenakan daleman merah yang senada, kontras dengan kulitnya yang putih bak pualam, lembut bagaikan sutra, adakah hal yang mampu menandingi anugerah ini?
Aroma wangi di sekujur tubuhnya yang polos menyeruak di kedalaman indera penciumanku, mengantarku pada imajinasi tertinggi yang mungkin ku gapai, terbang jauh membubung tinggi menuju lapisan langit kedelapan. Kini aku percaya bahwa ada keindahan yang lebih tinggi dari surga, dan ada buah yang lebih ranum dari jeruk linglang, ada bunga yang lebih wangi dari misteriusnya bunga ara serta ada padang rumput yang mampu menandingi taman firdaus.
Merinding aku menyaksikan hal yang paling indah yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Pahatan-pahatan sang maestro pemahat dunia tak mampu menandingi lekuk indah tubuhnya. Para ahli wewangian parfum dunia tak akan mampu menciptakan dan menandingi aroma wangi yang terpancar dari tubuhnya. Sorot matanya memancar redup penuh cinta kasih, mengalahkan pelita dan lilin-lilin aromatherapy yang hanya terbuat dari parafin. Bahkan para pujangga dan pesohor dunia sastra akan kehabisan kata-kata untuk menggambarkan detail tentangnya. Jelmaan sosok Ishtar mungkin lebih tepat tuk memberikan gambaran pembanding untuknya.
Matanya terpejam dan bibirnya terbuka menahan desis sensasi yang aku berikan. Kedua tangannya menjambak rambutku saat bibirku mengecup perut atasnya, terus berlanjut di sekitar pusar dan turun ke bawahnya perlahan-lahan. Gundukan bukit kecil dengan rumputnya yang legam, aroma yang melenakan jiwa, menyeruak jauh ke dalam imajinasiku. Seperti seekor kuda jantan usai melewati lautan gurun, menemukan oase dengan kesegaran air surgawi, kupuaskan dahagaku di sana. Semakin banyak yang diminum, maka semakin haus dalam gelora yang semakin membara.
Diselingi desahan-desahan panjangnya, aku tandaskan air di sana. Paha dan betisnya yang indah tak luput dari elusan jari-jemariku.
Kali ini, aku sudah sangat siap untuk tahapan selanjutnya, menyatukan segenap rasa kami yang gemulak membara. Ku mainkan jilatan-jilatan lidahku di kedua betisnya, naik ke paha dengan penuh perasaan.
Ciumanku yang tadinya dari atas, kali ini malah sebaliknya. Aku kembali bergumul di kedua dadanya, aku merasakan menyentuh sesuatu di bawah sana. Ini sebuah sensasi yang berbeda, jauh lebih indah. Perlahan namun pasti, aku menemukan celah yang semestinya. Begitu hangat!
Badanku bergetar merasakan sensasi denyutan dan remasan-remasan lembut di sana. Semakin ku atur ritme kadang perlahan, dan diselingi dengan gerakan cepat atau pun lambat, perasaanku semakin dibuai seperti mimpi. Apalagi saat kedua kakinya merengkuh dan melingkar erat di punggungku. Aku bahkan ingin menggali kenikmatan lebih jauh lagi.
Sungguh ini pergumulan yang tak ingin kusudahi. Tiba-tiba tubuh kami mengejang, bak meregang nyawa, seluruh tulang yang menyangga badanku serasa lepas dari otot dan dagingku seiring melesatnya jiwaku dalam hitungan detik. Serasa detak jantungku terhenti seketika. Kami tanpa kata. Aaawwhhh...hanya erangan panjang menyudahi peluh di sekujur tubuhku yang perlahan-lahan mengembalikan kesadaranku.
Aku tak lantas menyudahi apa yang kulakukan begitu saja. Kukecup keningnya, kedua pipinya seraya kubisikkan, 'Aku sayang kamu,'. 'Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku,'
Ia hanya tersenyum sangat manis dalam dekapanku seraya membalas kecupanku.
Saat kubuka mataku, hari telah beranjak gelap. Entah berapa lama aku terlelap dalam tidur yang begitu pulas. Kubawa kembali ingatanku kepada hal yang terjadi hari ini. Oh ya, tadi khan aku tertidur dalam pelukan Wulan Dewi, tapi...kemana dia?
Kenapa saat aku terbangun, kudapati diriku sendiri di atas ranjang yang semrawut ini? Apa sudah kembali ke kamar sebelah?
Kusambar pakaian sekenanya dan mencoba ke kamar tempat Wulan, namun tidak ada.
'Wulan!'
'Wulaaan!'
Ku panggil-panggil dia sambil ku cari sampai di kamar mandi. Namun tak ada jawaban. Suasana rumahku yang masih sepi tak ada siapapun yang mungkin kutanyai.
Bahkan saat aku kembali ke kamarnya, kuperhatikan dengan lebih seksama tak satupun pakaiannya masih tersisa disana. Semua isi kamar masih tertata dengan sangat rapi kecuali barang bawaannya.
Di atas nakas, kutemukan secarik kertas yang rupanya sengaja ia tinggalkan;
'Mas, maafkan aku,
Aku tau Mas pasti sangat kecewa denganku. Bukan maksudku tuk menyakiti perasaanmu, mempermalukanmu di depan keluargamu, namun aku tak punya pilihan lain.
Aku telah memenuhi janjiku untuk menemuimu walau hanya sesaat.
Jika Mas ingat sewaktu di stasiun, aku sempat ragu untuk melanjutkan pertemuan kita. Saat itu, aku sengaja tak langsung menemuimu tapi aku tak tega melihatmu begitu kecewa dan akhirnya aku memutuskan untuk datang ke tempatmu terduduk diam di bangku itu.
Mas, aku percaya jika suatu saat nanti akan menemukan wanita terbaik untuk mendampingimu dan itu jelas bukan aku.
Aku punya alasan lain kenapa memutuskan untuk pergi saat Mas masih tertidur pulas, dan Mas tak perlu tau alasan itu.
Aku ingin Mas bahagia.
Saat Mas membaca pesanku ini, aku sudah kembali ke stasiun untuk pulang kembali.
Mas tidak perlu mencariku lagi, karena aku tak kembali ke rumahku.
Sekali lagi, maafkan aku
Salam kasihku,
WD
Aku terdiam. Perasaanku hancur, tapi aku segera memutuskan untuk pergi ke stasiun. Ku pacu kendaraanku secepat yang aku bisa. Aku harus mendapatkan penjelasan yang masuk akal dengan semua ini. Aku harus tau alasannya. Sepahit apapun, aku mesti mendengarnya langsung.
Kuparkir kendaraanku dan bergegas mencarinya di stasiun. Namun kereta sudah berangkat lima menit yang lalu. Aku pasrah menerima semua ini. Aku tak perlu alasan kepergianmu seperti kata-kata dalam pesanmu. Yang aku tau, stasiun ini adalah awal dan akhir perjalananku.#00#
Langganan:
Postingan (Atom)