Sering ayah melupakan bahwa km itu hanya seorang anak kecil yang masih terbatas pada penalaran dan logika.
Aku, ayahmu terlalu banyak menuntutmu untuk bersikap seperti orang yg sudah besar dan berharap lebih untuk anak seusiamu.
Setiap ayah datang dari bekerja seharian, km menunggu ayah datang di balik pintu rumah, menyambut ayah dengan PR yang mesti ayah ajarkan cara menyelesaikannya. Ayah terlalu lelah anakku, sehingga sering PR-mu km kerjakan sendiri sementara ayah mesti menonton acara TV kesukaan ayah dan bahkan sering berebut remote TV karena kita mempunyai selera berbeda. Km malah sukanya nonton Spongebob yang sudah ratusan kali diputar namun km masih saja menyukainya. Bukan ayah lupa anakku, hanya ayah tak menyadarinya kalau kalian masih suka segala film kartun yg cocok dengan usiamu.
Anakku...
Menjelang km tidur, ayah lupa tuk membacakanmu dongeng si kancil dan buaya, dongeng tentang kura2 dan monyet, dongeng tentang kura2 dan dua ekor angsa dan masih banyak dongeng yang ayah tahu namun ayah tak menghantar tidurmu dengan dongeng2 itu. Bukan karena ayah lupa, ayah hanya tak menydarinya...Ayah terlalu sibuk dengan facebook dan twitter. Ayah juga mesti menjawab semua chatting di yahoo messenger yang online 24 jam.
Anakku...
Setiap pagi, saat km membuka kelopak matamu menyambut sinar mentari, km mencari ayah apa masih berada di sampingmu. Ayah tahu itu karena teriakanmu yang nyaring terdengar dari tempat ayah menikmati pagi dengan secangkir kopi pahit dan sebungkus rokok kesukaan ayah.
Ayah begitu menikmati pagi dengan cara ayah sendiri sambil memperbaharui status yg sudah basi kemarin di facebook dan twitter dengan status yang paling baru, sementara ibumu masih berkutat dengan sapu dan pengki yang penuh dengan sampah. Ayah masih memikirkan status apa yg mesti dibuat di jejaring sosial dan teriakanmu dari kamar tentu membuyarkan lamunan ayah tentang ide status itu. Bukan ayah lupa anakku, hanya tak menyadarinya kalau sarapan belum disiapkan dan air belum dipanaskan untuk mandi dan menyiapkan sekolahmu.
Anakku...
Ayah pasti terlalu keras padamu, saat km pulang sekolah, ayah minta jangan langsung bermain sementara seragammu masih melekat di badanmu, ayah membentakmu.
Saat mainanmu km berantakin, ayah membentakmu. Saat km gak mau makan, ayah juga membentakmu. Demikian pula saat siang km gak mau tidur siang, ayah masih tetap membentakmu. Maka km hanya punya satu hal untuk menyatakan rasa tidak terima dengan perlakuan ayah dengan tangismu. Hanya airmatamu yang mampu melawan ego ayah namun ayah tak terenyuh bukan karena ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadari kalau ayah terlalu keras mendidikmu.
Anakku...
Saat km jauh dari ayah, meninggalkanmu di sekolah. Menyaksikan semua lukisan abstrak di dinding rumah kita, melihat semua bonekamu yang tergeletak di semua tempat, mainanmu yang berserakan untuk membantu memainkan imajinasimu sebagai anak kecil, ayah merasa bersalah padamu. Ingin ayah minta maaf padamu nanti sepulang km dari sekolah. Namun bukan ayah lupa anakku, ayah hanya tak menyadarinya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar