Rafalkan bait2 yg tercipta dari rangkaian kata2 yg mewakili segenap rasa, jejakkan langkah pada setapak jalanan basah, asa masihlah tetap menjadi asa, usah dibenam bersama hujan, dia akan tumbuh dengan sendirinya bersama butiran2 benih yg matang usia, padi akan tetap tumbuh menjadi padi, ilalang juga tetap menjadi ilalang, walau pengharapan tuk menjadi padi terucap dlm keresahan, dia akan tetap tersemai sebagaimana kodratnya...
Hamparan ladang ilalang tetaplah menjadikan keindahannya tersendiri, kala kau lihat ribuan bunganya menghampar, tersikapi bersama angin yg menyeruak kebisuan, lambaian dedaunnya adalah ajakan, tuk membagi senyum kegetiran, gemerisiknya adalah nyanyian, yg termaknai dalam kekosongan, jika kelak tak kau temukan lagi cara tuk memaknai padang ilalang, ...
cobalah bangun pondok kecil dan menjadikannya sebagai pembatas pandangan langit, maknai dengan rasa, segenap keindahan masih mungkin tercipta bersama padang ilalang, yg tumbuh dalam kegersangan....
Petang telah bersambut kelam, langit masih diam dalam kebisuan, sementara awan tlah menjelma kabut, ilalang membisu bukanlah diam, hanya sejenak mematung kesenyapan, menunggu belalang terbang mendekat membawa dendang kegelisahan, yang lama terdiam bak batu pualam, datanglah lentera kunang2, terangilah sang penunggu malam, agar bintang yg berkelip terang, jadikan penentu arah langkah tujuan, dalam jarak yg kejauhan, tunjukkan indahmu walau tak benderang...
Belalang belum saja usai berdendang tembang malam, kunang2 belum redup kerlipkan terang, jika malam turun menjelang pagi dan ufuk tmur adalah pedoman pagi, belalang kecil telah kembali pulang, maka bosan adalah pengalih kata, maka harap adalah asa, maka jurang adalah gelombang surutnya, padang ilalang tak lagi gersang, awan adalah penjemput hujan, maka terlarik bait sajak berakhir kesabaran...
Ada malam yang ketakutan dengan siang, ada senja gelisah tergantikan pagi, rembulan menyepi saat tau mentari akan menyirnakan cahayanya, demikian pula mentari cemberut kesal saat tau dirinya tergantikan dlm gulita malam. Namun, kenapa ketakutan mesti memenjarakan angannya. Bukankah siang-malam, senja-pagi akan tetap memberi warna keindahannya sendiri-sendiri, sianglah yg akan menerangi bilik2 kamar, malamlah yg mengantarkan angin sejuk melewati kisi2 jendela kamar. Selalu berirama dalam ritme yg mengalun. Indah iramanya ataupun lembut mengalun, bahkan dalam tembang kesenduan akan tetap bisa dinikmati dengan kepekaan rasa...
Kelam sang malam, turun perlahan, berbait gundah, bersafir gelisah, kesunyian hanya dalam pikiran, berimajinasi dlm tarian jiwa, bergamelan tnpa pelog, tanpa selendro bahkan jauh dari solmisasi namun tetap dalam rel harmonisasi, jiwalah yg mengerti bahwa kidung hanyalah melodi hati, bahwa sajak adalah udara malam yg terhirup menghuni relung harapan....
Kupu2 bersayap kuning mengepakkan sayap kecilnya terbang menyisir angin, melupakan senja yang kian temaram, empat helai sayapnya menari-nari diantara udara dingin yg menerpa tubuhnya dlm kebekuan sepi, sesekali hinggap tuk tentukan arah terbang, apa mungkin tersisa madu selarut ini, sementara ludahnya terasa kecut bahkan cenderung kering, berharap mampu tuk lewati dingin malam kehausan, karena bunga yg dinantikan, tlah pergi ke peraduan, menjemput mimpi yang terbendung, menyiapkan mimpi tuk bekal esok menjemput pagi, menyapa embun tuk siarkan kabar bahwa malam berlalu dengan sempurna...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar