Mentari siang tak lagi benderang, reduplah ia tatkala wanita sempurna melangkahkan jejak kakinya di kepulan debu tanah kering. Kerikil tanah kecil sejurus bungkam menunduk tak mampu menandingi rupa cahaya terpancar menyilaukan segala pandang. Awan bergegas pergi tanpa menoleh arah yang hendak dituju.
Bidadarikah yang lupa jalan pulang hingga mesti menempuh setapak tapak tandus?
Lalu, kemana angin yang biasa nakal berhembus tiba-tiba sepi bahkan dedaun kering engan luruh ke tanah?
Tak kulihat tanda-tanda alam seperti biasa. Lengang di sepanjang jalan. Gubuk-gubuk tanah telah lama menutup rapat jendela dan pintunya.
Burung-burung yang biasa bernyanyi, kehilangan sinfony di cekat paruh dan lidah kelunya.
Ia tak pergi.
Hanya diam memandang tanpa fokus tertuju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar