Kamis, 09 Februari 2012

Kashmir...(chapter IV)

Penanggal bulan mati, tepat lima belas hari usai purnama berpulang, adalah malam tergelap yang mesti ia lewati. Dalam suasana hening yang berbeda dari malam sebelumnya dimana kini awan tebal berarak menyelimuti langit, taburan bintang menghilang ditelan gulita, bahkan suara binatangpun enggan menghias kegelapan saat semua mahluk tlah lama dibuai mimpi, hanya tampak satu jendela yang masih diterangi temaram lampu minyak jarak.

Hening sehening malam.
Hanya sesekali terdengar isak tertahan dari balik kelambu lusuh di kamar itu.

Di atas kursi bambu kusam, ia terduduk menghadap meja dengan secarik kertas kosong teronggok pasrah tanpa satupun huruf mampu ia gurat di atasnya.

bagian tengahnya malah telah lembab menahan tetes-tetes airmata yang sedari tadi berjatuhan ibarat air hujan tumpah ke pangkuan bumi.

Kenapa ia begitu kelihatan bersedih? kalaupun jawabannya iya, lalu apa gerangan yang menjadi penyebabnya?

Apakah ia sedang patah hati?

Rasanya tak mungkin ia merasakan hal seperti ini karena selama ini ia hanya berteman dengan kesendiriannya. Jika lelaki yang patah hati karena bertepuk sebelah tangan dengan perasaannya sendiri, itu rasanya lebih masuk akal.

Kesedihan atau kebahagiaan rupanya telah menjadi sahabat kehidupan manusia terlepas ia menghendakinya ataupun tidak.

Lama ia tertegun.
Masih dalam posisi yang sama.
Kertas putih yang semakin basah nyaris lekat dengan kayu di mejanya.
Tangannya tak beranjak dengan sebuah mata tinta terbuat dari bulu sayap elang di jepit jemarinya.

Tanpa suara, hanya sesekali menyeka sembab matanya yang tak mau kompromi dengan hatinya.

"Tidurlah, Nak"

Suara parau wanita tengah baya yang dibarengi batuk-batuk kecil, memecah kesunyian malam itu.

"Ini sudah menjelang subuh, Anakku. Istirahatlah walau itu sejenak".

Suasana menjadi hening kembali, sementara langit timur perlahan berbagi terang.

Akankah pagi benar-benar memberikan harapan baru baginya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar