Kamis, 09 Februari 2012

Kashmir...(chapter V)

Jika aku pernah memupuk kebencian, itu adalah saat dimana aku dulu kehilangan cintaku. Jika aku juga pernah merasakan kekecewaan itu juga adalah di saat dimana aku ditinggalkan tanpa satu kata pun mengiringinya. Semua perasaanku kini membathin lagi saat aku mengetahui keberadaanmu yang hanya aku dengar dari kabar burung beberapa waktu lalu.

Semua perasaanku membaur menjadi satu bahkan setiap tetes airmataku memiliki ribuan makna dari kegusaranku.

Apakah semua ini adalah bagian dari kharma yang mesti aku jalani?

Kasmir Lantika, kamu adalah bagian masa lalu yang terseret ke masa kini dalam kejayaan topeng-topeng laknat penjilat ludah janji-janji palsu yang tak akan ada akhirnya.

Aku mengumpat diri sendiri saat pecahan cermin dikamarku memantulkan seribu kekecewaan dari kepergian seseorang yang selama hampir puluhan tahun ku sebut ia sebagai kekasih.

Lalu apa balasan yang aku terima?
Kepergianmu?
Ketidakpedulianmu?
Keacuhanmu?

Apakah masih pantas untuk kuharapkan balas baik untuk penantian hati panjang yang tiada menentu?

Sebegitu berhargakah kamu dimataku sehingga aku dan perasaanku masih saja membuka pintu maaf untuk ribuan kekecewaan yang kausematkan di tiap pori-pori kulit yang membungkus tubuhku?

Aku ingin, dan sangat ingin menempatkanmu di langkahku yang tertinggal seribu tapak di belakangku. Aku juga ingin menghapus setiap titit-titik kenangan menghambur terbang dari alam imajinasiku saat angin berpusara gusar menerbangkan tiap debu jejalan yang pernah kulewati.

Aku juga ingin membasuh setiap bekas kecup bibirmu bahkan berhasrat untuk menguliti sekujur tubuhku agar pupus semua rasa dari jamah jemarimu.

Itu pun andai aku mampu.
Tapi kenapa aku malah tersiksa dari segala rasaku yang menyesak himpit rongga dadaku?

Lalu, aku tetap saja tak mampu menuliskan segenap kekecewaanku untuk kutuliskan di atas kertas yang sengaja aku tujukan buat kamu. Kertas ini masih saja kosong bahkan airmataku telah menggenanginya semenjak malam mulai datang bertandang.

Mungkin kertas putih yang lembab dengan genangan air mata jiwaku lebih mampu mengejawantahkan segala perasaanku, segala rasaku dan segala apa yang aku mau.

Buatmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar