Kamis, 09 Februari 2012

Kashmir...(chapter VIII)

Aku terpasung imajinasi rinduku sendiri.

seperti kerinduan pulang pada bukit-bukit tandus yang mulai menghijau saat memasuki penghujan, pada debur ombak memecah sunyi pesisir, pada kesejukan embun pagi saat pertama kali kubuka jendela-jendela kamarku, pada hembus dan buai angin bertiup searah meningginya awan-awan.

Kubayangkan aku selalu berada diantaranya segala keindahan dan damai semesta, menjadi sebuah gugusan pulau bertemankan belalang hijau.

Lalu, kepada siapa aku sampaikan kristal-kristal rindu ini sementara aku masih terpasung dalam imajinasi yang ku bangun sendiri? Cintakah yang telah menetaskan kerinduan seperti ini? Jika iya, lalu kenapa malah gelora kekesalan yang gemuruh, meratap mendengung di setiap ingatanku pada puing-puing kekecewaan masa lalu. Sampai kapan akan seperti ini? Bukankah aku telah sedari dulu mengubur jauh kedalam perut bumi segala hal yang melelehkan kristal bening di mataku. Lalu ini apa?

Tidak!
Ini pasti sebentuk rindu yang berbeda. Kerinduan pada bayangan yang terus menari indah di ruang jiwaku. Kerinduan yang memenuhi mimpi dalam tidurku. Sebuah rindu yang menyakiti rapuh rasaku.

Jujur, aku enggan berbagi kekecewaan, apalagi kekecewaan tentang masa lalu. Itu menyiratkan sebentuk kelemahanku. Lemah dalam menghadapi peta kehidupan dan takdirku, dan terlalu berfokus pada segala hal yang mengecewakanku. Aku sadar, bahwa pasti ada sebentuk karunia yang tak pernah aku sadari. Pasti banyak hikmah yang terlewati tanpa kusyukuri sebagai sebuah nikmat dari Sang Khalik.

Bukankah aku telah berjanji untuk bangkit?
Aku tak ingin membawa bayangan masa lalu dalam kehidupanku karena itu malah akan membuatku terpuruk lagi dalam linting candu dan cawan nira yang telah aku laknatkan.

Entahlah apa itu dinamakan dengan tobat.
Perjalananku telah aku mulai sendiri. Aku yakin di suatu belahan dunia yang lain pasti ada kehangatan sinar matahari yang mampu menembus kebekuan hatiku seperti kerinduanku yang menjelma dalam imajinasiku tertuju pada sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar