Kamis, 09 Februari 2012

Kasmir...(chapter IX)

Memiliki paras sepertiku, bagi sebagian orang adalah anugerah.
Bagiku malah sebaliknya.
Dalam hal ini, aku tak samasekali bermaksud mendustakan anugerah Tuhan namun petaka telah merenggut kebebasanku, merenggut harga diriku bahkan merenggut kehidupan dan masa depanku. Aku mengibaratkan hidupku selaik burung surga, dengan helai bulu-bulu bertahtakan mutu manikam dengan suara merdu yang malah menjadikan hidupnya tak tenang manakala para pemburu merasa haus tuk menjerat, menangkap bahkan membinasakannya hanya demi sehelai bulu yang melekat di tubuhnya.

Lalu, siapa yang salah?
Apa mungkin menyalahkan Sang Pencipta, para pemburu atau malah burung itu sendiri kenapa tidak terlahir sebagai seekor gagak dengan suara parau saja?

Masa depanku tergadaikan bahkan jauh sebelum aku sempat menikmati kehidupan seperti sahabat-sahabat seusiaku hanya karena himpitan ekonomi.

Kadang kemiskinan membuat kita tak memiliki nilai tawar menjalani hidup normal. Aku tak menyalahkan keluargaku, sanak saudaraku, atas segala hal yang menimpa hidupku. Mengapa semua ini menimpaku?
Apakah karena kami pemalas?

Kami telah melakukan hampir segala hal untung menyambung hidup. Dari buruh pengumpul kurma, pemetik kapas, peternak unta dll.
Namun, semua berakhir saat semua usaha majikanku gulung tikar karena permainan politik tingkat tinggi yang aku sendiri tak pernah mengerti.

Lalu, kemana para pemegang tampuk pemerintahan di negeriku? Saat kami berteriak dengan lapar dan dahaga kami, para buruh yang tak memiliki lahan garapan, orasi-orasi kami lebih sering hanya didengar oleh kawat bandil, pintu pagar terkatup rapat. Andaipun bisa kami menemukan pintu ruangan yang masih terbuka, namun kami hanya menemukan kursi kosong dengan keterangan bahwa pejabat berwenang sedang keluar kota.

Hanya pikiranku saja yang berkecamuk, bagaimana bisa mereka harus pergi bertugas keluar kota sementara urusan di dalam kotanya sendiri masih semrawut dan tak pernah becus.

Siapa yang berkewajiban mengentaskan masalah-masalah orang kecil seperti kami?
Kemana mereka-mereka yang selalu menebar manis janji-janji saat jelang waktu pemilihan pejabat? Rupanya peribahasa jika sudah duduk, lupa berdiri memang benar adanya.

Jerat kemiskinan di setiap langkah kami, tak ada yang mampu melepasnya bahkan oleh siapapun.

Jika aku pada akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan negeriku, sahabat-sahabatku, kerabatku, semua kenangan tentang tanah kelahiranku, itu semua tak lebih dari usahaku agar aku tak mati dalam keterpurukan masa lalu. Agar aku kelak tak harus mengubur jasadku dalam tanah tertangisi langit.

Aku ingin kelak mati, dalam liang yang ditumbuhi rimbun bunga, semerbak wangi aroma hutan cemara dimana burung terbang dan bebas bersarang, dimana buah ranum di dahan, dimana hati masih berwarna merah dan setiap manusia menebar kebaikan hidup.

Dan aku, bersama perasaanku berharap menemukan cinta yang baru, seperti keinginanku menemukan tempat baru untuk melanjutkan sisa hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar