Kamis, 09 Februari 2012

Kasmir...(chapter VI)

Waktuku tak banyak jika dibandingkan dengan ribuan butir pasir di sepanjang pesisir. Perasaanku tak tegar jika dibandingkan kokohnya batu karang penahan ombak. Namun deraiku, melebihi butir-butir air hujan yang jatuh disepanjang musim.

Namun jua, jangan tanyakan arti setiap tetes yag mengaliri ranum pipiku. Aku tak perlu dikasihani. Aku hanya perlu bicara bukan mengeluh bukan tuk membagi kesedihanku, bahkkan kali ini parit-parit kecil itu sudah mulai kering usai isakku memudar di bawah terik matahari dan tandusnya gurun di sekitar desaku.

Ya, inilah waktunya, waktu yang paling tepat untuk membalikkan arah pikiran, keluar dari nujum-nujum dan mantra-mantra pemikat yang digemakan dari balik bulita petang. bahkan parau suara jangkrik yang biasa dipedengarkan saat malam, tak mampu bergeming dari kebangkitanku.

Bagiku, penyesalan adalah sisi waktu masa lalu, sedangkan di depan adalah bentang samudera harapan. Aku tak pernah tau ke mana arah angin yang menghembus ujung-ujung rambutku namun jika aku mau, jejalan tak mesti selalu berbatu. Pasti semua tergantung dari cara pandangku terhadap sesuatu.

Aku bersiap untuk membuat perubahan. Paling tidak perubahan sikap atas apa yang aku alami. Bukankah luka membuat seseorang lebih waspada dari bahaya? Bukankah getir menjadikan kita lebih tahu nikmatnya manis? Bukankah badai memberikan pelajaran penting tentang buai sepoi angin dan riak-riak penghias gelombang dibarengi semburat cahaya menambah keindahan langit?

Sementara aku tersadar dari pengembaraan imajinasiku nyatanya aku masih diam mematung di pinggiran dipan lusuh beralas tikar pandan.

Masih.

Enggan beranjak untuk membuat sedikit perbedaan saat matahari, awan, langit, mendung, hujan, bulan dan bintang bertandang di atas atap rumahku terus silih berganti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar