sepotong bianglala hitam menari di terik tanpa awan
membentang menggurat wajah langit
entah kisah apa yang hendak ia sampaikan
sementara debu gelisah di terpa desau angin
Aku, kita tertawan dalam resah
usai getargemetar cipta semesta
di riuh rasa berkecamuk dalam dada
di kehendakNya bersujud ikhlas segala apa
akankah penghuni2 hari tersadar dari lantak
percaperca pengharapan masih tersisa di segenap asa
bukankah kami perlu disadarkan dari mimpi2 palsu?
Bukankah kami masih tetap terbangun dari susunan tulang darah daging?
Entahlah...
Karena kita tetap bukan apa-apa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar