Kamis, 09 Februari 2012

Menuju Purnama

Aku mungkin saja telah terlalu banyak mengkiaskan rasa,yang datang silih berganti memenuhi rongga hati.

Rasanya tak berlebihan jika aku mencoba melukis dengan pena segala hal tentang kamu. Ya, tentang kamu.

Sejuta kerinduan saat waktu berlalu menjadi dauh bulan mati,

silih berganti manjadikan kerinduan yang sama saat waktumu datang, menggurat sebaris senyum, mengintip diantara awan, melenakan segenap pengagum rahasiamu dengan segenap pesonamu.

Aku adalah satu yang menyematkan rasa entahlah itu apa, dengan terlalu dalam, menenggak-tandaskan bebuih ombak yang setiap saat mampu melantakkan kesadaran.

Bagaimana menumbuhkan tunas di rantingranting kerinduan yang semakin meranggas?

Lalu,

aku tak pernah pikirkan
akan menjadi apa kelak kehidupan
seperti khayalanku tentang esok hari
disaat purnama datang

entahlah serupa apa warna rembulan
Apakah ia berupa rembulan tembaga
rembulan putih perak
ataupun rembulan merah jambu

aku tak punya kewajiban
tuk menebak atau memilih warnanya
Bukankah ia akan tetap indah
saat wajah menengadah langit
bermandikan temaram di cahayanya

atau bahkan saat langit malam berpekat gelap
aku mengandalkan imajinasiku
tuk menembus gumpalan awan
bercengkrama bintang dan rembulan. menuju purnama

Bukankah imajinasi tiada batasnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar