"Lalu itu apakah sebuah kesalahan?
Aku memang terlahir dengan warna kulit yang paling rendah (Sudra) namun bukan berarti rendahan. Sudra Wangsa hanyalah kulit yang menempel yg tak lebih dari embel-embel untuk membedakan dari golongan mana aku berasal.
Apa benar serendah itu?
Aku tak punya pilihan kecuali menjadikanku teringat bahwa aku dari "wong tani kelen" (keturunan buruh tani) tapi aku tak pernah memintanya menjadi seperti itu".
Itu salah satu dari sekian banyak gumam yang keluar dari bibir I Putu Arya jika teringat betapa menyakitkannya di usir dari rumah orang tua pacarnya yang keturunan ningrat. Hancur hatinya saat calon mertuanya mengintrogasi dengan sejuta pertanyaan dan pernyataan bahwa dia tidak pantas berada disana sebagai pacar anaknya namun lebih pantas menjadi "wang jero".
"Dengan apa harus aku buktikan bahwa hubungan ini tak salah?"
Berjuta pertanyaan berkecamuk dalam bathin I Putu Arya mencari cara agar bisa diterima dan diperlakukan layak oleh orang tua pacarnya Dewa Ayu Ratih Kinanti.
Pernah suatu ketika I Putu Arya merasa putus asa.
"Apa sebaiknya ini diakhiri saja?"
"Jika aku pikir-pikir kalau dilanjutkanpun, kelak kami punya anak, bahkan anakku pun tak dianggap sebagai cucunya."
Bahkan I Meme sama I Bapa selalu berpesan kalau 'sutindih kapining tresna itu patut' tapi resiko yang akan dijalani terlalu berat.
" Dewa Ayu, sebaiknya bli mundur saja ya"
"Bli kasihan sama kamu, bli bisa saja membawamu lari tapi itu tidaklah sikap seorang ksatria" kata I Putu Arya suatu hari.
"Bli Putu tidak mencintai saya lagi?" tanya Dewa Ayu Ratih Kinanti kepada I Putu Arya.
"Meskipun dulu saya pernah berjanji dengan diri saya sendiri bli, bahwa saya tak akan menikah jika tidak dengan orang yang memiliki trah keturunan yang sama, tapi tyang belajar dari pengalaman beberapa saudara-saudara yang menikah memaksakan diri untuk menerima orang yang sepadan namun pada akhirnya tidak bahagia, tyang jadi takut bli.
"Memang sih keluarga besar kami waktu itu sangat mendukung pernikahan itu tapi dalam perjalanan banyak hal yang akhirnya membuat mereka menyesalinya. Tyang tidak mau berakhir seperti itu. Apakah cinta ini tidak pantas untuk diperjuangkan?"
I Putu Arya terdiam.
Ini adalah pilihan yang terlalu sulit bagi I Putu Arya. Disatu sisi ia sangat mencintai Dewa Ayu Ratih Kinanti, disisi lain jelas-jelas orang tua pacarnya ini sudah terang-terangan tidak merestui hubungan mereka, bahkan sempat mengusirnya beberapa kali, saat malam minggu bertandang ke rumah pacarnya tersebut.
********************
Siang itu, sinar mentari di pantai Sanur, tak mampu meredakan dingin dan galau hati I Putu Arya. Ia lebih memilih diam untuk meredam prahara yang terjadi antara dirinya dengan orang tua Dewa Ayu Ratih Kinanti. Sebuah pilihan yang sangat sulit baginya. Jika memutuskan untuk mundur, betapa hancur hatinya dan tentu saja hati Dewa Ayu Ratih Kinanti, kekasih hatinya namun baik untuk kedua orang tua kekasihnya itu. Rasanya, semua jalan buntu dan ibarat makan buah simalakama.
"Ah, Andai saja namaku Dewa Putu Arya, dan pacarku seorang Dewa Ayu Ratih Kinanti, ataupun hanya I Komang Ayu Ratih Kinanti, tentu masalah ini tidak sepelik ini", gumamnya sambil sesekali melemparkan kerikil-kerikil kecil ke air pantai yang tenang seolah tak peduli dengan kegundahan yang dialaminya.
Sesekali ia menulis dengan sepotong ranting kering, di pasir yang basah;
"kesendirian adalah sahabat jiwa
meronta di pasang surut gelombang
di hela hempas kegalauan angin
menepi luruh di barisan pasirpasir
kosonglah pengisi benak carutcemarut
jejak pun pupus di derai gemuncah dan kering dedaun..."
"Dewayu, Ajik dan Ibu sudah berulang kali mengingatkan, jangan berhubungan lagi dengan Putu Arya!" Ajik lebih setuju kalau kamu berpacaran dengan Dewa Alit Dananjaya yang masih sepupumu. Apa yang kurang dari Dewa Alit? Pekerjaan bagus, sudah mapan, wajah juga tak mengecewakan?" kata ajik suatu ketika menasehatiku, saat aku baru saja pulang kerja.
Aku merasa enggan membela diri karena alasan apapun yang aku sampaikan, itu tak ada gunanya, bahkan bisa menambah marah kedua orang tuaku. Aku sendiri tahu siapa saudara sepupuku, Dewa Alit Dananjaya memang benar seperti apa kata ajikku, namun apakah cinta harus dipaksakan. Aku tak suka sifat-sifat sepupuku yang aku tahu persis sejak aku masih kecil. Dia mau menang sendiri, selalu menganggap wanita tak punya hak yang sama di mata laki-laki, menganggap wanita harus kembali ke kodrat sebagai perempuan Bali, mengurus rumah tangga, bekerja di dapur, melahirkan anak..ahh...Andai saja ajik tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.
"Bli Putu!"
"Bli Putuuuu!"
Aku memangil-manggilnya dari pintu pagar rumahnya yang ku lihat tertutup rapat. Tak terdengar sahutan dari dalam. Begitu lengang suasana di rumah itu.
"Tak biasanya seperti ini!", gumamku.
"Ada apa gerangan?" aku tak habis pikir, dari kemarin ponselnya tak sekalipun aktif, bahkan sms-ku pun tak satu pun yang dibalas.
Aku mencoba masuk setelah aku tahu, pintu pagarnya tidak digembok, langsung menuju pintu rumah, namun di sana aku menemukan sebuah surat yang ditulis dalam secarik kertas di bawah pintu. Surat. Ya, sebuah surat yang di kemas dalam amplop ditujukan buatku...
Perlahan aku membukanya dan aku membacanya,""...geg, saat kamu membaca surat ini, bli sudah membuat keputusan untuk kawin lari denganmu, seperti janji bli beberapa hari yang lalu. Cinta kita, hidup kita dan masa depan kita, adalah milik kita. Bli bukannya tidak menghormati hak-hak orang tuamu geg, tapi bli sangat menghargai mereka yang pada akhirnya akan menjadi mertua bli juga.
Suatu saat nanti, bli akan buktikan bahwa, apa yang kita jalani adalah benar, apa yang kita jalani dengan hati adalah cinta yang sesungguhnya. Adapun bli saat ini menulis surat kepadamu, semata2 untuk menghindari permasalahan baru dengan orang tuamu karena mereka sudah menyadap telepon bli untuk memisahkan kita.
Saat ini bli sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan upacara pernikahan kita.
Sekarang, kamu bersiap-siap dahulu, pulang mempersiapkan barang-barang yang geg anggap perlu, sampai upacara pernikahan kita selesai.
Besok, saat penanggal pertama di bulan ini, bli akan jemput kamu di tempat kerja untuk natab banten pernikahan kita" ...
Antara sedih, senang, bahagia dan segala perasaan yang dimiliki oleh Dewa Ayu ratih Kinanti bermapur, membaur menjadi satu. Ada pergumulan perasaaan dimana ia kadang bimbang dan membenarkan nasehat kedua orang tuanya, sementara di sisi lain, ia juga merasakan bahwa apa yang disampaikan oleh kekasihnya; Putu Arya juga ada benarnya. Ini masalah masa depan. Ini adalah perjuangan dan selayaknya berjuang untuk sebuah kebenaran, berjuang untuk masa depan yang waktunya melebihi masa lalu adalah sangat layak untuk dijalani, sangat pantas untuk dipertahankan.
Bukan dalam arti menentang adat tradisi yang telah diwarisi turun-temurun untuk menikah dengan trah dan keturunan dari wangsa yang sama. Tapi baginya itu tetap baik dan mesti dijunjung tinggi, jika bisa, namun semua kembali kepada pejatukarma.
Semua sudah dipikir dengan matang-matang. Andai pun ia melangkah di jalan yang salah telah berani membuang trah keturunannya dari ksatria menjadi sudra, dan hal yang paling buruk mungkin saja terjadi suatu ketika mesti berpisah dengan suaminya yaitu I Putu Arya, ia sudah tahu resikonya bahwa selamanya ia akan menjadi seorang sudra wangsa.
Hukum semesta alam mungkin sedang berjalan bagi Dewa Ayu Ratih Kinanti, dimana ibunya sendiri adalah berasal dari wangsa sudra yang dipersunting ajiknya yang seorang wangsa ksatria. Jika dahulu, ajiknya telah mempersunting ibunya yang seorang wangsa sudra, mungkin kali ini, dirinya mesti membayar dengan diperistri I Putu Arya yang seorang sudra dan dirinya sudah sangat siap untuk melepaskan kulit keturunan ksatrianya dan nyerod wangsa menjadi sudra.
Upacara pernikahan mereka berdua berlangsung khidmat dalam suasana kesederhanaan. Hanya beberapa kerabat terdekat dari I Putu Arya yang menghadiri acara mereka berdua, sementara sudah menjadi tradisi bahwa seseorang yang nyerod wangsa, pantang bagi pihak keluarga dari wangsa yang lebih tinggi untuk datang apalagi menghadiri pernikahan tersebut. Terlebih lagi kedua orang tuanya menganggap telah membuang anak kesayangannya; Dewa Ayu Ratih Kinanti.
Dengan berderai air mata, ia mengikuti prosesi pernikahan tersebut tanpa di hadiri oleh keluarga yang mereka sayangi. Entahlah apa arti dari setiap tetes airmata yang membasahi kedua matanya yang indah. Itulah, ada cinta yang layak atau tak layak dipertahankan, semua tergantung dari sisi mana mampu memandang dan menyikapinya.#00#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar