"Gila!"
"Gilaaa!" "Dia sudah gila!" teriak orang-orang riuh sambil mengelilingiku. Aku merasa ketakutan sekali. Beberapa diantara mereka memegangi tanganku. Ada juga yang memegang pundakku. Aku diperlakukan bak seorang pesakitan tanpa ku ketahui apa yang merasuki mereka sehingga bertindak brutal seperti itu.
"Pasung!!"
"Pasuuung!!", teriakan mereka semakin keras memekik saat mereka telah memegangi kedua kakiku. Aku panik dan hanya bisa meronta-ronta sekuat tenaga. Aku tak terima, sumpah. Aku berusaha melawan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki namun semua itu sia-sia belaka. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk membela diri. Semakin aku berusaha melawan, semakin garang mereka membekukku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menghantam tengkukku dan seketika itu juga suara riuh dan teriakan orang-orang di sekitarku lenyap dan penglihatanku nanar, hilang dan sepi.
Aku seperti terbangun dari sebuah tidur panjang dengan mimpi buruk yang sangat seram. saat aku pulih dengan kondisiku, kudapati kedua kakiku terikat pada sebuah rantai besi dimana pergelangan kakiku masuk di lobang papan dengan gembok. Ya, benar. Aku sadar bahwa teriakan orang-orang tadi bukanlah mimpi. Kedua kakiku telah terpasung.
Berulangkali aku mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang mengawali semua ini, kenapa orang-orang begitu membenciku, termasuk keluargaku. Yang aku ingat hanya saat anak lelaki satu-satunya menangis dipelukan ibunya yang berteriak histeris membelaku, namun orang-orang mulai berdatangan mengelilingiku dan meneriakiku dengan kata-kata gila. Sementara aku sendiri tak mampu mengingat hal-hal lain.
Aku berpikir, apakah aku benar-benar gila? Lalu jika benar demikian, apakah mereka waras? Apakah mereka lebih waras daripada aku dengan memperlakukanku dengan sangat kasar tanpa perikemanusiaan?
Aku hanya mampu terdiam. Tak ada gunanya membela diri. Apapun yang aku katakan tak ada yang mau mempercayainya. Aku terima saja bahwa aku mungkin benar telah gila.
Namun aku masih mencari sebuah jawaban tentang perbedaan orang gila dengan orang waras sesuai difinisiku sendiri. Mencari kebenaran! Itulah yang menjadi misiku saat ini.
Aku dipasung di sebuah gubuk kecil, tak jauh dari rumahku, di atas sebuah dipan kayu berlantaikan tanah. Dindingnya pun hanya terbuat dari anyaman bambu kasar yang dibentuk sekenanya. Atapnya terbuat dari atap seng dimana saat hujan suaranya sangat ribut oleh gempuran hujan dan saat cuaca terik, aku sangat kegerahan. Hanya sebuah sarung lusuh dan sebuah piring plastik dan mug kecil sebagai harta milikku yang paling berharga saat ini. Sehari sekali, bergantian anggota keluargaku datang untuk mengantarkan ransum buatku. Aku lebih sering tak menyentuhnya dan malahan hanya menjadi santapan serangga dan tikus yang bertandang ke gubukku.
Aku rindu anak semata wayangku. Aku kangen istriku. Namun aku tak mampu menemui mereka walau hanya untuk melihatnya saja. Kerinduan seorang ayah dan seorang suami yang sangat naluriah, namun aku yakin, keluargaku telah meracuni pikiran mereka bahwa aku sudah benar-benar gila tanpa diberi kesempatan untuk menemuiku lagi. Aku meratapi sepi, berkeluh pada siang dan malam dengan kejadian yang menimpaku.
Aku hanya bisa pasrah, sama pasrahnya dengan ikhlasku saat beberapa tahun istriku pulang ke rumahnya dan menikah lagi dengan orang lain tanpa persetujuanku, tanpa proses perceraian yang semestinya, sementara anakku diasuh oleh anggota keluargaku yang lain. Sama seperti saat-saat sebelumnya, aku tak mampu mempertahankan hak-hakku dan membela diriku sendiri.
Hancur.
Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku.
Aku dibawa oleh anggota keluargaku ke suatu tempat, dipindahkan ke tempat lain yang aku sendiri tak diberitahu sebelumnya. Aku hanya mengikutinya saat sebuah kendaraan telah dipersiapkan untuk membawaku di suatu pagi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, aku tiba di sebuah tempat.
Rumah Sakit Jiwa Kabupaten Bangli!
Pasrah mungkin lebih baik bagiku untuk saat ini. Ya, setidaknya aku bisa berharap agar aku diperlakukan lebih baik, lebih manusiawi di sini. Setidaknya, aku bisa bebas melangkahkan kaki kurus ini yang telah bertahun-tahun tak pernah kupakai sesuai fungsinya, tanpa pasung dan rantai besi yang mengikatnya. Tanpa harus merasa was-was, tanpa tekanan dari siapapun bersama orang-orang yang senasib denganku. Aku melihat begitu banyak orang yang bernasib sama denganku, entah mereka benar-benar gila atau hanya sebuah kata lain dari pengasingan keluarga untuk mempertahankan citranya di masyarakat bahwa mereka masih memiliki nama baik terlepas dari ada anggota keluarganya yang berbeda dari lazimnya hidup bermasyarakat. Entahlah mereka pernah memikirkan bahwa aku, dan orang-orang yang kurang beruntung untuk hidup normal adalah manusia juga yang memiliki hak hidup sesuai hak asasi manusia.
Bertahun-tahun telah berlalu dan tak pernah ada satu pun keluargaku yang pernah datang menjenguk keadaanku. Rupanya dulu itu adalah saat pertama dan terakhir kalinya bagiku untuk melihat anggota keluargaku. Aku selama ini telah mampu hidup normal di tempat ini. Para pegawai rumah sakit, dokter dan teman-temanku yang dirawat disini memperlakukanku jauh lebih baik dari keluargaku. Aku dianggap sebagai manusia. Ya, sebagai manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan, memaklumi keadaanku sama seperti aku memaklumi orang-orang di sekitarku.
Suatu ketika, aku bertemu seseorang dari kampungku. Walau bukan keluargaku, tapi aku merasakan siraman air kerinduan akan kampung halamanku. Aku ketahui namanya Wayan dan kedatangannya ke rumah sakit ini karena ada anggota keluarganya yang nyaris bernasib sama denganku.
“Bli sangat ingin bertemu dengan keluargaku”, kataku membuka perbincangan.
“Sudah bertahun-tahun Bli ada di sini, tak pernah ada orang yang ingin tahu keadaan Bli disini”.
“Bli merasa bahwa Bli akan menghabiskan sisa hidup di tempat ini”.
“Andai saja Wayan tau, betapa kerinduan akan kampung halaman, betapa kerinduan akan anak Bli telah menguras airmata dan mengeringkan hati Bli selama di sini”.
“Entahlah sudah berapa usia anak Bli sekarang”.
“Entahlah sudah berkeluargakah ia atau bahkan Bli mungkin sudah memiliki cucu”.
Aku tak dapat menyembunyikan sejuta kesedihanku. Mulutku terasa kering dan tak ada suara lagi yang mampu ku ucapkan. Aku lihat juga Wayan terdiam tanpa menjawab apapun, malah aku melihat ia merasakan kepedihanku dari raut muka dan matanya yang mulai sembab dan berkaca-kaca.
“Terimakasih Wayan sudah menemui Bli di sini”.
“Jika Wayan pulang, tolong sampaikan kepada anak Bli, bahwa Aku; Bapaknya masih hidup”, itulah kalimat terakhir yang mampu kusampaikan dan aku beranjak dari tempatku agar aku tak membuatnya semakin larut dalam kesedihanku.
Aku melanjutkan hidupku seperti biasanya walau beberapa pertanyaan sering mengganggu pikiranku.
Adakah orang yang masih peduli dengan hidupku? Apakah itu keluargaku? Apakah itu anakku?
Adakah orang yang akan menebusku dari tempat ini?
Kusembunyikan sejuta harapan untuk bisa kembali pulang suatu saat nanti. Tapi walau aku tak yakin aku bisa pulang, tapi aku percaya, suatu saat aku akan pulang. Ya, aku pasti pulang ke alam yang semestinya aku berada. Aku serahkan segalanya pada Tuhan. Andaipun aku pulang kampung hanya dengan jasadku, aku ikhlas. Yang aku tau, aku menjalani kehidupan ini dalam ketebatasan ruangku, dalam pasung kehidupan yang mesti kujalani dengan segenap kepasrahan dan keikhlasan hati. Entah sampai kapan harus terpasung dalam ketidakberdayaan dan terbuang dari kehidupan yang sesungguhnya.
#o0o#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar