Kamis, 09 Februari 2012

Prahara Rumah Pasir

'Selamat Pak, istri Bapak positif hamil', kata dokter Kadek sambil menjabat tanganku di suatu sore, saat aku memeriksakan istriku di dokter umum. Ia ku ajak memeriksakan kesehatannya di tempat praktek dokter yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku.

Aku menyambut berita tersebut dengan senyum yang kupaksakan. Betapa tidak, berita dokter tentang kehamilan istriku seakan petir yang menyambarku, sesaat setelah dokter keluar dari ruang periksa sementara istriku masih di dalam ruangan tersebut.

Bukannya aku tidak mau punya anak lagi karena anakku sudah berjumlah empat orang, lengkap dengan jenis kelamin dua orang anak pertama dan kedua adalah perempuan dan anakku yang ketiga dan yang bungsu, keduanya laki-laki yang tentu saja telah melengkapi kebahagiaan keluargaku. Namun hal yang tak habis ku mengerti dan rasanya tidak masuk dalam akal sehatku juga, membuatku bertanya-tanya, apa mungkin aku bisa membuahi istriku lagi setelah aku memutuskan untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk ikut program KB sehubungan dengan program ajeg bali untuk memiliki maksimal empat orang anak dan sudah aku telah difasektomi!

Memang, fasektomi yang aku jalani, telah berjalan dua bulan setelah istriku melahirkan anakku yang paling bungsu, yang mana saat ini telah memasuki usia dua tahun tiga bulan.

Siapa yang salah, apa sesuatu telah terjadi denganku? Apa mungkin fasektomi yang aku jalani tidak berjalan dengan sempurna? Kalau memang iya, lalu kenapa baru sekarang istriku hamil?

Sejuta pertanyaan terus menggelayuti pikiranku. Ah, mana mungkin! Itu tidak mungkin. Aku percaya dengan istriku. Ia adalah seorang wanita yang sempurna di mataku, seorang ibu yang baik bagi keempat orang anakku dan seorang istri yang sepengetahuanku tak pernah neko-neko, selalu berbakti kepada suami dan tak pernah menunjukkan hal-hal yang membuatku hilang rasa percayaku padanya.

Dengan keberadaannya sekarang, apa semuanya masih tetap sama? Lalu, kehamilan istriku sekarang apakah sebuah bukti kegagalan program KB pemerintah, kesalahan dokter yang menanganiku, atau...ahhh.

Jujur, aku tak berani melanjutkan hipotesa yang berkecamuk dalam dadaku. Saat ini sebaiknya aku melahapnya sendiri dengan sejuta tanda tanya di kepalaku.

'Pak, Bapak!', tegur istriku yang tiba-tiba sudah berdiri disampingtempatku menungguinya sembari duduk termenung.

'Ayo pulang' Pak!' sergahnya seraya menggamit lenganku seusai menyelesaikan urusan administrasi dan menebus obat yang diserahkan dokter. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku beranjak bersama menuju kendaraan yang ku parkir di halaman rumah dokter, tak jauh dari tempat prakteknya. Ku pacu perlahan mobil yang kami tumpangi menuju rumah dalam kebungkaman kami masing-masing.

Rasanya detak jarum jam malam ini tak beranjak samasekali. Detik-detik yang kulalui lamban beranjak jadi menit. kantukpun tak jua bertandang menghampiri kedua mataku. Yang ada hanya gejolak tanda tanya yang menari-nari di pikiranku seolah mencari tahu apa yang telah terjadi hari ini. Sementara istriku kulihat telah terlelap beberapa saat setelah bantal guling terdekap erat dalam pelukannya. Ingin sekali aku membahas tentang ini semua dan mempertanyakan kehamilannya kali ini. Tapi, aku harus memulai percakapan darimana? Haruskah aku larut mengikuti arus didih darahku? Haruskah aku menuruti egoku dan memaksanya untuk bicara sesuatu yang sangat-sangat ingin aku dengar dari bibirnya. Aku butuh sebuah pengakuan.
Ya, sebuah pengakuan!

Namun, syukurnya usai ku tarik beberapa kali nafas panjang, aku masih bisa meredam gejolak perasaanku. Toh, masih ada hari esok dan aku perlu momen yang tepat untuk bisa membicarakannya dari hati ke hati tanpa harus membuat suasana semakin keruh dan mungkin saja akan mengundang curiga anak-anakku dengan keributan di tengah malam. Tidak, aku bukan type seorang suami dan ayah yang seperti itu. Aku memikirkan keempat anakku yang telah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing, saat tadi aku hampiri kamarnya begitu sampai di rumah sepulang dari dokter.

Kamarku terasa panas oleh sinar matahari. Entah sudah jam berapa sekarang, yang pasti, mataku masih terasa berat untuk ku buka. Rupanya aku baru bisa tertidur menjelang subuh. Syukurlah, walau hanya beberapa menit, aku sempat tertidur juga.

Rumah sudah agak lengang, hanya sesekali ku dengar suara si mbok, pembantu paruh baya yang berbicara dengan anakkua si bungsu; Caturdamar di ruang tengah, sementara istriku sudah berangkat ke kantornya dan ketiga anakku sudah berangkat ke sekolah.

Aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Rasanya malas sekali hari ini, disamping itu, kepalaku masih terasa agak berat.

Hari itu aku putuskan untuk bolos kerja. Aku masih memikirkan cara untuk memulai pembicaraan nanti dengan istriku tentang segala unek-unek yang ada di pikiranku. Ini harus dibicarakan. Semua mesti terbuka dan tak ada hal yang mesti disembunyikan, walau sepahit apapun kenyataan yang sebenarnya, aku mesti tahu kebenaran. Bukahkah dulu, saat aku meminangnya, kami telah berkomitmen bahwa pernikahan harus dilandasi sikap terbuka keduabelah pihak, sebagai pondasi awal membangun rumahtangga.

Sesaat usai mandi siang itu, aku berkemas hendak keluar rumah walau tanpa tujuan yang pasti, hanya sekedar untuk menyegarkan pikiranku. Aku tandaskan segelas kopi yang disiapkan oleh si mbok di meja makan dan ku cari kunci kontak mobilku tuk menemani perjalananku. Aku tak menemukannya. Aneh, biasanya aku meletakkannya di nakas samping tempat tidurku, kali ini tak ada disana. Ah, mungkin saja aku salah taruh, tapi setelah aku cari-cari di hampir seluruh pelosok kamar dan ruang tamu, aku masih tak menemukannya.

Baiknya, aku telepon istriku, tapi ponselnya tidak aktif. Aku putuskan untuk menghubungi kantornya.

'Diva wedding, selamat siang! Ada yang bisa kami bantu?', suara renyah sekretaris di kantor istriku bekerja menyambut suaraku dari seberang.

'Ya, selamat siang. Bu Diva ada?,tanyaku tanpa basa-basi.
'Oh maaf, Bu Diva belom datang. Ini dari siapa?'

Langsung saja ku tutup sambungan ponselku tanpa memberikan jawaban untuk sekretaris itu. Ini agak aneh menurutku. Ke mana perginya istriku dari tadi pagi. Di kantornya tidak ada, bahkan ponselnya pun tidak aktif.

Akhirnya, aku menunggangi motor CBR hitamku dan ku pacu bak kesetanan membelah hiruk pikuk lalu-lintas jalanan siang itu.

*********************

Di sebuah tikungan tajam nan menukik, ku lihat kerumunan orang- di pinggir jalan. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Sebuah mobil sedan warna hitam....whatttt??? Bukankah itu mobil yang dikendarai istriku tadi pagi? Kenapa gerangan ada disana? Dan..kondisinya remuk di bagian bemper kiri depan. Mendadak sontak, aku jadi panik. Ya ampun...apa yang telah terjadi? Apa yang telah menimpa istriku?

Aku bertanya kepada setiap orang yang berada di sana tentang keberadaan pengemudi mobil itu. Namun tak ku dapatkan jawaban yang pasti. Aku semakin bingung. Nyaris semua yang ku tanyai, tak tahu pasti kejadian yang sebenarnya. Beruntung ada polisi lalu-lintas yang ku tanyai, aku akhirnya mendapat kepastian tentang keberadaan Diva, istriku yang telah dilarikan di sebuah rumah sakit yang berjarak tempuh 30 menit, tak begitu jauh dari tempat kejadian itu.

"Maaf Pak, kami sedang menangani istri Bapak. Silakan bersabar dan menunggu di luar," cegah perawat sambil menenangkanku dan membimbingku keluar dari ruangan UGD.

Perasaanku bercampur aduk, bagaimana tidak, aku tak terima dengan semua ini dan aku, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Andai saja aku bisa mengelola sedikit egoku, seandainya saja aku bisa bangun lebih pagi dan menyapanya seperti biasa, andai saja...ahhhh...ku hela nafasku sendiri untuk menenangkan perasaan ini.

"Istri Bapak mengalami pendarahan, dan dokter sedang melakukan upaya penyelamatan untuk bayi Bapak, namun maaf, kami tak berhasil," dokter menghampiriku setelah sekian lama aku menunggu kabar tentang keberadaan istriku.

"Silakan Bapak menemuinya, dan jangan diajak berbicara terlalu banyak," sambung dokter lagi sambil berlalu dari hadapanku.

Ku kumpulkan sejenak pikiran yang semrawut, kusut dan sisa-sisa tenaga yang terkuras oleh kekhawatiranku. Aku berlalu dari ruang tunggu menuju tempat istriku terbaring lemas.

"Maafkan aku Pak'" lirih istriku serupa bisikan, sesaat setelah aku ada di samping tempat tidurnya. Airmatanya menggenang di ekor matanya yang masih terpejam. Luluh, luruh semua kecamuk riuh dan gundah yang menyelimuti hatiku.

"Ssst,..., jangan diteruskan Bu'" sergahku sambil meletakkan telunjuk di bibirnya yang mungil.

"Aku sudah memaafkanmu Bu,"
"Apapun kesalahanmu, tanpa harus dijelaskan apapun itu, aku telah memaafkanmu" lanjutku.

"Setiap manusia, pasti ada khilaf, pasti ada kesalahan, entah itu besar atau pun kecil, yang penting Ibu telah menyadari yang mana salah, yang mana benar," tandasku sambil ku elus lembut anak rambutnya dan ku kecup pelan di keningnya.

Rasanya aku begitu lega. Ya, lega karena istriku telah mengakui kesalahannya walau hanya dengan sebuah kata maaf. Bagiku, memaafkannya adalah sebuah usaha untuk melepaskan diri dari kekang tali kebencian dan kemarahan. Dan aku percaya, manusia tak ada yang sempurna, luput dari salah dan dosa termasuk aku, diriku sendiri.#0#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar