Aku telah bosan memilin getir di setiap benak yang menetaskan luka di setiap ingatanku tentang detak jarum waktu.
Apakah itu sebentuk keputusasaan?
Paling tidak, untuk saat ini aku memetik hikmah di hilir sebagai cerita bahwa hutan-hutan pinus masih menyisakan ranting tuk burung-burung liar bertengger disana. Humus masih saja basah dalam musim pancaroba. Muasal air masih tetap berupa perdu pakis dan lumut di bebatuan lembab di kedua sisi sungai.
Bukankah mengalir adalah pilihan tuk terus bertahan dalam badai taufan, dalam panas dan hujan, bahkan dalam setiap musim yang kita temui disepanjang sungai ini. Aku hanya ingat satu hal tuk terus berfokus menuju muara. Kelak di penghujung bisa kutemukan samudera dengan debur ombaknya, dengan pasir pesisirnya, dengan lambaian daun nyiurnya..ahh...Betapa hidup harus terus mengalir.
Betapa indahnya andai aku masih mungkin mendekap klimak di setiap kelokan batu dan pasir sebelum aku membawa kembali pembawa ragaku dalam kesempurnaan pengembaraan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar