Kamis, 09 Februari 2012

Prosa Belalang untuk Kunang-kunang

Masih segar dalam ingatanku beberapa tahun yang lalu saat kau tanyakan kemana perginya kunang2 setelah malam beranjak pagi. Desau angin di kedinginan usai temaram, sesaat setelah mentari pulang ke barat, membangunkan lelap binatang malam tak terkecuali serangga kecil yang mandiri di kegelapan, membawa lenteranya sendiri, menyeruak gulita menyibak bilah-bilah kepekatan malam.

Persahabatannya dengan seekor belalang yang kental diselingi riuh canda, kelakar tentang pagi dan senja, memberi arti tersendiri di setiap carut kehidupan yang dilaluinya. Walau belalang dan kunang-kunang adalah dua sahabat yang dipertemukan oleh masa dimana siang dan malam adalah berbeda namun penting baginya untuk masing-masing memberikan bait-bait makna pembentuk keindahan dari perbedaan itu sendiri.

Di saat belalang sibuk dengan aktifitasnya menghimpun ranting dan daun, sementara kunang-kunang sibuk dengan aktifitasnya menemukan jalan di setapak-setapak gelap, beberapa hal terlupakan. Sampai akhirnya...

Belalang begitu terkesiap dengan kabar bahwa kunang-kunang telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Tanpa ada pesan apapun tertinggalkan di pagi maupun senja, waktu yang biasa mereka selorohkan tuk bertegur sapa, selayak karib yang tak pernah bersua.

Lalu, belalang tak lagi bisa berucap sepatah katapun dengan kepergian kunang-kunang. Kesedihannya tercekat, tersangkut di kerongkongannya kering, lidahnyapun kelu membisu.

Nyaris, tak mampu merangkaikan kata tuk mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan untuk kunang-kunang sebagai sahabat dan adik yang sampai penghujung masanya tak pernah ada kesempatan mempertemukannya.

Hanya satu doa terpanjatkan, Semoga berjalan dengan tenang, bawalah lentera tuk terangi jalanmu seperti pertanyaan yang belum sempat terjawab, ke mana kunang-kunang pergi, setelah malam beranjak pagi.


...dedicated to lovely friend and lovely sister who had already rest in peace...Eka L.B (FB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar