Kamis, 09 Februari 2012

Surat Terbuka buat Istriku

"Istriku, Kita memang sering berbicara, bercanda, saling ambulin, berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, kesibukan saat di kantor, hal2 yg terjadi dirumah, dibanjar, ngayahan regu, mekeneh meli kene keto tapi pis nu kejok, jek liu sajan, andai saja gak ada saatnya tuk tidur, pasti masih banyak hal yg akan kita bicarakan, bahkan 1001 malam pun mungkin gak akan cukup tuk kita berbicara apapun yg terlintas dalam benak kita masing-masing. malah aku sendiri yg sering curhat tentang masalah2 yg aku hadapi saat diperjalanan ke kantor maupun pulang kantor yg kadang2 ban motor kempes, motor gak mau distarter karena businya mati, remnya blong karena lupa ganti kampas rem bahkan sempat melewati genangan banjir karena habis hujan seharian. Dan hanya motor itu yg setia menemaniku dan jas hujan yg sudah robek di sana-sini. Paling hanya mampu menyelamatkan surat2 hutang yg tersimpan di tas kresek yg biasa kubawa ke mana-mana.

Tapi istriku, kenapa kita jarang berbicara tentang perasaan kita? Bagaimana perasaan km yg km rasakan jauh dalam hatimu? Meski kadang ku mulai tuk membicarakan gimana perasaanku, tapi km menanggapinya kadang menganggap semua itu gak serius dan gombal semata.

Tapi, percayalah. Mestinya km sudah tau bagaimana perasaanku sama km. Walau tak setiap hari bisa bersikap manis dan romantis, tapi aku tetaplah selalu menjadi suami yg baik buatmu. Tetap aku berusaha seperti itu. Jangan menilai aku dari apa yg tampak (demen mecande, senyum2 sendiri (bukan berarti buduh), tapi isi hatiku nu patuh jak waktu pertama kali kita bertemu di pagelaran wayang kulit di bale banjar malam itu. Saat itu, aku duduk di warung sambil minum segelas teh tawar karena hanya itu yang mampu aku beli, biar ada alasan duduk diwarung itu, dan km juga duduk di kursi plastik sambil makan rujak buah boni mecampur kedondong. Sungguh indah saat itu.

Jujur, aku ingin mengulang saat2 itu kembali bersamamu dalam segala keterbatasanku. Asal km tau istriku, dimanapun kita pernah melintas dulu, aku selalu suka mengenangnya, hanya saja aku gak mungkin selalu mengatakan seperti itu karena, km kurang menanggapi keseriusanku yg sering km anggap bercanda. Tapi, itu tidak apa-apa karena, perbedaan ini juga membuat hidup kita tampak lebih hidup.
Terimakasih istriku, km sudah menemaniku, mendampingiku sampai sejauh ini, walau tak selalu bisa aku ucapkan langsung dihadapanmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar