Kamis, 09 Februari 2012

Surga Bata Telanjang

Di pinggir jembatan sebuah sungai berarus deras, aku melihat surga. Sebuah surga yang sangat sederhana. Halamannya menyerupai garis sempadan sungai berhiaskan tanaman pisang, sebuah sepeda butut dan beberapa helai rumput yang tumbuh liar. Ku intip sejenak lantainya masih tanah yang dipadatkan, baik itu di teras maupun di kamar lainnya yang hanya berjumlah satu. Atap asbes yang disangga kayu-kayu bekas, menaungi pondok yang berdinding dinding telanjang batu bata.

Harmonis, mungkin itu kata yang tepat untuk ku gambarkan penghuninya. Dua ekor burung dalam sangkar sederhana ku lihat menggantung di rangka kayu teras, tiada henti bersiul mengimbangi dingin tadi pagi, sementara penghuninya sebuah keluarga dengan empat orang anak yang sedang beranjak remaja.

Sungguh sebuah keluarga yang sangat bersahaja. Hanya dengan mengandalkan penghasilan dari menjual canang, mereka menghidupi 4 orang anak yang sedang menuntut ilmu, makan sehari-hari dan membayar sewa rumah. Apa mungkin?

Aku berpikir,mungkin rasa syukur adalah hal yang menjadikan mereka bahagia. Cobaan hidup membuat mereka kuat dan keuletan menjadikan mereka arif dan bijak menyikapi setiap keadaan yang harus dijalaninya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apa tidak mungkin menciptakan surga kita sendiri dengan situasi dan kondisi yang lebih baik dari surga bata telanjang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar